info@indonesiamengajar.org (021) 7221570

Surat Pertamaku

Sazkia Noor Anggraini 9 Juli 2011

Aku sekarang sedang menulis di depan komputer jinjingku, dengan kopi tipis buatan hotel dengan berteman televisi besar ukuran 56 inch. Aku berada di kota kecil bernama Tahuna, ibukota Kabupaten Kepulauan Sangihe. Tahuna ada di Pulau Sangir, dinamakan seperti mayoritas suku yang mendiaminya.

Katanya, orang Sangir dulunya adalah suku yang tidak menetap, hidupnya dari melaut dan mencari ikan tanpa sering menyentuh daratan. Ada yang bilang dia adalah perpaduan Suku Bajo dan Bugis. Setelah mereka menetap dan daerahnya didatangi misi Zending dari Belanda, mayoritas Suku Sangir memeluk agama Kristen. Sekarang, merasakan berada di tengah-tengah suku Sangir dengan dialek khas timur dan wajah oval yang unik, mengalirkan nikmat keragaman yang dianugerahi Tuhan untuk kesekiankalinya.

Kemarin aku tiba dengan pesawat perintis, lebih besar dari Twin Otter, bermuatan sekitar 46 orang dengan satu pramugari, satu pilot dan kopilot. Pesawat itu membawa kami dari Menado, Ibukota Propinsi Sulawesi Utara. Pesawat disini hanya ada pada hari Selasa dan Kamis, selebihnya sila menikmati ombak laut selama perjalanan dengan kapal cepat dari Menado-Tahuna. Jangan banyak bawa barang kalau kemari, itu pelajaran pertama yang kudapat dari perjalanan panjang kami. Bayangkan saja, cargo berisi paket buku dan barang pribadi dalam kardus tentu tidak mungkin diangkut dengan pesawat kecil macam tadi. Jadilah kerepotan dimulai. Kami harus menitipkan cargo tersebut ke kapal dengan menyewa kamar seharga 250 ribu. Ongkos itu belum termasuk jasa angkut dan pungutan lain. Kami tiba jam 2.00 siang tapi mengurus cargo hingga jam 7.00 malam, karena kapal berangkat setiap hari pada jam tersebut. Kami menginap semalam di Menado dan harus bangun pagi sekali untuk mengejar pesawat. Tunggu dulu, kami masih punya seminimnya 25 kg barang bawaan pribadi seperti carrier, backpack, dan tentu komputer jinjing kami. Dengan rompi hitam bertuliskan Indonesia Mengajar kami berduyun angkut sana-angkut sini menuju loket check-in. Betapa terkejutnya kami, sembilan orang yang disebut Pengajar Muda ini saat menyadari banyaknya barang yang kami bawa. Kelebihan bagasi kami mencapai lebih dari 100 kilogram dari kuota 15 kilogram per orang yang mereka sediakan. Meski sudah diberi diskon, kami tetap harus membayar lebih dari satu juta rupiah. Itu tidak sedikit bagi kami.

Ternyata Tahuna itu kota kecil, kalau kamu pernah berkunjung ke kota kecil di Jawa, begitulah adanya Tahuna. Bayanganku akan wilayah kepulauan yang landai dan berpasir hilang sekejap, seketika sampai Bandar Udara Naha. Di bandara kecil itu, pohon nyiur telah melambai dan sapi merumput dengan latar perbukitan berkabut. Pemandangan ini mengingatkan aku saat sampai di wilayah pegunungan Jayawijaya Papua. Udara lembab dan basah seakan menyapa kami yang kegirangan sampai di depan plang bertuliskan “Selamat datang di Bandar Udara Naha”. Perjalanan dari Naha menuju Tahuna meruntuhkan lagi asumsiku akan wilayah kepulauan. Aku tidak menemukan dataran landai, penuh pasir dengan udara lembab yang menimbulkan keringat. Aku justru menemukan kabut yang basah, hamparan perbukitan yang hijau dengan jalanan berkelok seperti naik jet coaster dua jam lamanya.

Kalau ada yang bilang Indonesia itu dangerously beautiful, memang begitulah adanya. Di wilayah kepulauan seperti ini, di mana sagu jadi pengganti nasi ada begitu banyak keajaiban. Wilayah pulau yang lazim dengan air payau ternyata tidak mutlak di sini. Percaya atau tidak, aku menemukan sumur dengan air jernih tak berasa dari bawah tanah, hanya dari sumur dengan kedalaman tidak lebih dari tiga meter dan berjarak tidak lebih dari 50 meter dari bibir pantai. Aku juga masih bisa merasakan segarnya air dari pegunungan yang mengalir lewat selang ke rumah warga. Mengagumi keindahan selintas negeri Sangir ini membawaku ke dalam banyak pertanyaan tentang indikator pemerintah menentukan sebuah daerah itu tertinggal, miskin, atau terbelakang.

DI Indonesia, bahkan perlu dibuat sebuah lembaga pemerintahan yang dibawahi oleh seorang Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal, saking jelasnya dikotomi itu. Tapi, kota Tahuna dan Pulau Sangir jauh dari kesan itu. Maaf aku tidak bisa lebih jauh ke pulau-pulau sampai aku tiba di sana. Pasar bergeliat dengan sendirinya, jalanan berkelok dengan angkuhnya, kuat tapi kadang longsor, tapi itu biasa di topografi wilayah yang ekstrim, senyum warganya, kerukunan umat beragamanya dan signal harap dari mata para pejabatnya menyiratkan sesuatu yang lain bagiku. Keterbukaan mereka dan apresiasi dengan pengabdian kami membawa kesan yang membekas seperti adegan makan siang di Resto Marina. Aku melihat lebih jauh dari sekedar dikotomi tertinggal dan maju.

Aku melihat banyak cinta di sini, penuh harap dan optimisme dari segala himpitan yang memaksa. Seperti biasanya di tempat baru, hari-hari awalku di Tahuna banyak kuisi dengan menyusur kota sendirian, melongok pasar dan menemukan sudut favoritku dengan makanan tentunya. Mengamati orang Cina, orang Sangir, orang Jawa, Menado dan Gorontalo di pusat kotanya. Aku senang dengan rumah tuanya. Rumah ala kolonial dengan bukan jendela di mana-mana. Buah dari jalan-jalan ini ternyata tidak sia-sia. Mulai dari naik pesawat hingga saat makan malam kami pun ternyata begitu menarik perhatian.

Jauh-jauh menyebrang lautan ternyata bertemu juga dengan orang Jogja, ia lulusan Fakultas Hukum UGM yang bekerja di Pengadilan Negeri Tahuna. Dewanto namanya, tanpa disangka ia mengapresiasi gerakan ini bahkan pernah ingin mendaftar juga. Malamnya, kami bertemu dengan seorang muda yang bekerja untuk perusahaan listrik negara. “Semua pulau yang kalian sebutkan itu saya belum pernah dengar”, katanya. Itu artinya apa? Pasti tidak ada listrik dengan layanan jangkau PLN di sana. Kami yang sudah mengetahuinya semakin mahfum saat dia bercerita tentang dilematis untung versus pelayanan dan pemerataan listrik untuk semua.

Pada akhirnya, aku merindukan suasana makan soto dan minum kopyor di Jogja. Aku mendamba kopi panas dan sebatang rokok black tea-ku. Kusampaikan rindu itu untuk semua harap dari wajah anak-anak di sini yang belum sempat kujumpai. Balada ini baru dimulai. Aku memang merindukan semua kenyamanan dan kehangatan kota itu , tapi berada di sini sehari saja telah membuatku jatuh cinta lebih dari cinta pertamaku. Lebih juga dari seputaran romantisme yang klasik. Aku ingin menjadi bagian dari harapan di mata orang-orang yang dicap tertinggal, terbelakang, bahkan terisolir. Sekarang, aku hanya ingin menikmati ikang (sebutan untuk ikan) di pinggir pantai dengan bumbu woku sambil meretas asa bersama mereka. Semoga saat kamu membaca ini teman, saat semangatmu akan ketimpangan dan ketidakadilan di negaramu memuncak, kamu dapat sebuah realita baru di mana kesulitan tidak selalu dihadapi dengan kontroversi. Aku banyak belajar ilmu mendengar dan belajar sabar di sini teman. Lebih dari kesabaran macam bagaimanapun a la kota dengan segala artificial thing di belakangnya.

-Anggi yang menunggu perahu untuk sampai di Pulau Kalama-


Cerita Lainnya

Lihat Semua