info@indonesiamengajar.org (021) 7221570

ingin Berani atau Sekadar Beternak Diri?

Saktiana Hastuti 2 November 2010
Ingin Berani atau Sekadar Berternak Diri? "Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.”
K
alimat yang dilontarkan Pramoedya dalam salah satu karya tetralogi Pulau burunya tersebut pun jelas menggelitik saya di minggu ke enam saya tinggal di camp Indonesia Mengajar ini. Ya, ini tentang keberanian. Pemuda harus punya keberanian. Jika tidak, hidup hanyalah sebagai hewan ternak. Fungsi hidupnya hanya untuk beternak. Tidur, bangun, makan, dan beternak. Begitu seterusnya setiap hari. Seperti tidak ada hal lain yang bisa dibagi. Cukup memiliki keberaniankah saya sebagai seorang pemuda? Atau cukupkah saja saya puas menjadi ternak dengan nyali yang saya miliki ini? Entah. Saya tidak tahu apakah saya seorang pemuda yang berani. Paling tidak saya telah berani ikut Indonesia Mengajar. Paling tidak saya telah berani untuk berdiri di depan kelas dan mengajar. Paling tidak saya telah berani ke Majene untuk diberangkatkan. Tak lupa, paling tidak saya telah berani dan siap menghadapi Pelatih Amping dan pelatih lainnya di Rindam minggu depan. Bicara tentang keberanian, awal minggu keenam saya di camp Indonesia Mengajar ini sangat mempertanyakan tentang keberanian saya. “Berani dan siapkah saya menjadi seorang guru?” pertanyaan ini lantas terlontar ketika pada Senin minggu ini saya harus bangun jam dua pagi untuk menyiapkan RPP dan media belajar. Walaupun ini bukan pertama kalinya saya mengajar di kelas, hati saya tiba-tiba menjadi ciut. Membayangkan anak-anak yang saya ajar nanti lari ke sana sini, berteriak-teriak, menangis tak karuan. Ternyata menjadi guru itu membutuhkan sebuah keberanian yang besar. Keberanian mengajar, keberanian mendidik, keberanian berbicara di depan kelas, keberanian menghadapi anak-anak, keberanian menjadi pemimpin, keberanian untuk selalu belajar, dan tentunya keberanian untuk dititipkan anak-anak bangsa. Tampaknya, passionlah yang menjadi sumbu itu. Keberanian yang saya miliki menyala dan berpijar karena ada sumbu itu. Sumbu yang terinspirasi dari mimpi untuk menjadikan anak-anak negeri berani bermimpi tinggi. Hari pertama mengikuti PPM (Pengalaman Praktik Mengajar) mungkin tidak akan pernah terlupa. Berdiri di depan kelas empat dengan puluhan pasang mata kecil menatap penasaran sangatlah tak mudah. Untuk mencairkan suasana, saya memilih menyanyi bersama. Menyanyi lagu “Arah Mata Angin” sebagai pengantar pelajaran. Antusiasme mereka kemudian muncul. Mereka mulai menyanyi dengan lantang dan menikmati setiap nada yang terlontar. Saya pun mulai menikmati proses ini, menjadi guru. Walaupun sebenarnya saya belum cukup berani dan siap untuk “digugu” dan “ditiru”, tetapi ini sungguh menyenangkan. Melihat binar-binar mata mereka, rajukan kecil manja dari bibir mungil mereka, puluhan pertanyaan lugu yang terlontar dari mulut mereka. Walaupun terus terang memang tak selamanya menyenangkan karena saya sempat kewalahan. Ternyata, murid-murid kelas empat yang luar biasa tersaebut mempunyai keaktifan yang tidak saya sangka. Seolah mereka mempunyai cadangan nyawa karena tak henti-hentinya merasa lelah. Lima buah karya pun dihasilkan dalam pelajaran kali ini. Gambar denah dan MTC buatan mereka terpampang apik di dinding kelas yang masih begitu perawan. Polos dan tidak ada sentuhan.  Setengah hari pun tak terasa terlewati. Ternyata saya baru tahu mengajar itu lebih menguras tenaga dari pada menjadi kuli. Saya pun segera terlelap hebat setelah sampai di MTC kembali. Hari kedua pun tak ubahnya seperti hari pertama PPM. Mengorbankan beberapa jam tidur untuk membuat RPP dan media belajar. Terlebih di hari kedua saya harus mengajar dua kelas. Kedua-duanya pelajaran Matematika. Hal ini membuat saya terpaksa harus tidur dua jam saja. Jam pertama, saya mengajar kelas empat kembali. Ternyata, anak-anak luar biasa itu makin menjadi-jadi. Mereka memang anak-anak pintar. Namun kecerdasan kinestetis mereka yang begitu tinggi ternyata menguras cukup suara, otak, dan energi saya. Tim pengajar Muda yang praktik di SD Tarbiyatul Huda ini pun menamakan mereka sebagai little monster. Mereka sebenarnya menyenangkan, tetapi juga cukup menakutkan. Selesai mengajar, tim saya mencoba mendiskusikan apa yang dijumpai di sekolah tadi. Kami bersama-sama memecahkan masala-masalah yang ada. Sungguh saya belajar banyak dari ini semua. Tim UNJ yang juga memberikan kami evaluasi membuat saya semakin bertekad esok harus memperbaiki. Hari ketiga, saya kembali mengajar kelas empat. Masih dengan pelajaran yang sama yaitu KPK dan FPB. Untuk menyalurkan kecerdasan kinestetis mereka yang luar biasa, say sengaja menciptakan mereka sebuah lagu. Lagu yang saya beri judul “KPK Menyenangkan, FPB Mengasyikan”. Lagu tersebut dinyanyikan dengan nada lagu “Papa Tome”. Fauzan, pengajar muda, yang waktu itu menjadi observer saya pun menggeleng-gelengkan kepala seraya senyum-senyum penuh makna. Dari senyumnya saya mengerti apa yang dia ingin katakan. Tampaknya saya memang tak berbakat mencipta lagu. Paling tidak saya telah berani bernyanyi dan bergoyang papa tome. Walaupun mungkin tterlihat sangat kacau. Begini lagunya jika kalian ingin tahu. KPK menyenangkan, FPB mengasyikan (2x) KPK kelipatan, FPB cari faktornya KPK yang terkecil, FPB yang terbesar KPK FPB mudah dan oke (2x) Malam harinya, Daya Dimensi Indonesia (DDI) kembali beraksi. Ini malam terakhir kami bertemu. DDI membuat saya lebih siap untuk terbang minggu depan.  Mereka membuat saya untuk melepaskan semua ganjalan yang tertinggal. Tim DDI membuat saya menuliskan nama “Mami” sebagai nama orang yang masih menjadi batu pengganjal. Bukan karena kami mempunyai masalah. Namun karena saya begitu mencintainya dan Mami terlihat masih sulit melepaskan saya. Langkah terasa berat ketika raut cemasnya masih menggelayuti untuk melepas anak bungsunya ini. Berharap semoga ibuku tersayang semakin ikhlas melepasku terbang lebih tinggi dan mampu menebar inspirasi. Hari keempat, rutinitas mengajar di sekolah kembali dijalani. Begitu juga di hari kelima minggu ini. Sebelum ke Departemen Pendidikan untuk bertemu Wakil Menteri Pendidikan Nasional, saya dan Pengajar Muda lainnya masih diwajibkan untuk mengajar. Setelah salat Jumat, kami pun pergi ke Galuh Dua untuk bertemu Arifin Panigoro, pengusaha yang dikenal sebagai pendiri Medco Group. Di sana kami belajar banyak hal dari Pak Arifin Panigoro. Setelah berbincang singkat, saya dan Pengajar Muda lainnya pun menuju Departemen Pendidikan Nasional untuk bertemu Bapak Fasli Jalal, Wakil Menteri Pendidikan Indonesia untuk berdiskusi bersama. Hari keenam, hari terakhir saya berada di tengah-tengah anak-anak tarbiyatul Huda. Anak-anak luar biasa, guru-guru Tarbiyatul Huda yang baik-baik dan bijaksana, warung pojok dengan bakso ciloknya yang membuat saya selalu tergoda terasa begitu berat untuk saya tinggalkan. Pasti saya akan merindukan semuannya nanti. Hari perpisahan ini diawali dengan main bersama. Bercanda, tertawa, menyanyi hingga berfoto bersama. Siang harinya jingga itu pun berubah membiru. Mungkin karena anak kelas enam yang menyanyikan lagu “Saat Terakhir” dari ST12 dengan sedikit perubahan lirik. Sungguh membuat saya tersentuh. Inilah saat terakhirku melepas kakak Jatuh air mataku menangis pilu Hanya untuk ucapkan Selamat jalan kakak.. Begitulah hari demi hari bergulir di minggu keenam ini. Terasa begitu cepat. Begitu banyak hal luar biasa mewarnai minggu ini. Anak-anak luar biasa, guru-guru bersahaja yang bijaksana, persahabatan indah antara pengajar Muda, sosok-sosok hebat yang menginspirasi, dan pelajaran tentang keberanian yang begitu berarti. Hari pemberangkatan ke daerah penempatan pun semakin dekat. Amunisi keberanian pun harus terus segera diisi dan dipenuhi. Semoga minggu-minggu terakhir ini, senjata ini sudah siap sebagai modal awal saya berlari. Ciawi, 2 November 2010 Saktiana Dwi Hastuti
"Kedua putriku tdk hanya milikku pribadi, tapi mereka juga milik ibu pertiwi yang harus mengabdi utk bangsanya dan membayar janji2 proklamasi yg msh terhutang".
Setiap catatan ini.. kupersembahkan untuk ibuku.. sebagai salah satu pengabdianku untuk keikhlasannya yang luar biasa.

Cerita Lainnya

Lihat Semua