Mengajar bukan Menghajar!
Sabda Pambayu | 30 January 2011




Hari ini awal aku menjalani hidupku sebagai seorang Pengajar Muda di desa Bajo. Setibanya di desa Bajo, aku langsung mulai memperkenalkan diri sekaligus beradaptasi dengan lingkungan masyarakat disekitar rumah kepala desa tempat aku hidup selama setahun nantinya. Masyarakat Indonesia Timur yang digambarkan oleh sebagian orang memiliki karakter keras dan susah menerima pendatang ternyata sangat berbeda dengan yang aku temui. Masyarakat Bajo merupakan masyarakat pesisir yang memiliki mata pencaharian sebagian besar sebagai nelayan ini sangat ramah, peduli dengan sesama seperti pada umumnya masyarakat yang hidup di desa serta menghargai pendatang. Di desa Bajo, tidak hanya suku Bajo yang tinggal disini selain penduduk yang berasal dari suku disekitar Bajo juga terdapat suku pendatang seperti Makean, Galela Tobelo, Bugis, Makasar, Jawa, Mandar dan lain-lain.

Awal kegiatan aku di desa Bajo dimulai dengan mengunjungi beberapa rumah yang berada disekitar rumah pak Safi. Sore harinya aku menyempatkan diri menuju lapangan bola di depan SDN 1 Bajo untuk menonton pertandingan bola yang biasa diadakan oleh pemuda desa setiap sore. Aku mulai memperkenalkan diri dengan beberapa pemuda desa yang asik menonton pertandingan bola sore itu. Hari mulai senja dan matahari pun sayup-sayup terbenam di ufuk barat, aku pun segera menuju rumah pak Safi dan mempersiapkan diri untuk menuju mesjid  yang berada di tengah desa Bajo. Sepanjang jalan menuju mesjid yang berjarak sekitar satu kilo meter, aku menyapa setiap orang yang aku temui baik itu anak kecil sampai orang tua yang ada disepanjang jalan. Usai sholat magrib berjamaah aku diajak oleh pak Nurdin (sekretaris desa) untuk menghadiri undangan tahlilan disalah satu rumah warga Bajo. Aku bersyukur karena baru satu hari aku tinggal di desa Bajo tapi respon masyarakat sudah sangat baik.

Desa Bajo memiliki kondisi alam yang panas. Bajo memiliki keadaan geografis yang dikelilingi oleh laut. Bajo merupakan bagian dari kecamatan kepulauan Botanglomang, Halmahera Selatan. Sebagian besar penduduk di desa Bajo mendirikan rumah di atas air laut disepanjang pesisir pantai. Bajo hanya memiliki satu jalan utama yang membelah desa bagian laut dan darat. Menurut warga desa, masyarakat yang tinggal di darat dikarenakan mereka sudah kehabisan lahan pesisir untuk membangun rumah sehingga mereka pindah di daratan. Selain itu, biasanya rumah yang dibangun di daratan merupakan rumah masyarakat pendatang. Masyarakat Bajo diberi anugerah kekayaan laut yang melimpah. Air laut yang jernih serta ikan-ikan hias yang berenang di bawah lantai rumah merupakan hal yang biasa ditemukan di desa Bajo.

Sekolah menjadi tempat aku mengajar dan belajar. Hari-hari berlalu Aku mulai mengenal lingkungan yang dulunya asing bagi ku. Muri-murid kelas 5 yang tidak pernah berhenti berkelahi, kelas 4 yang dianugerahi anak-anak yang cerdas, kelas 3 yang penuh dengan debu dan anak-anak dengan senyum indah mereka, kelas 2 dan 1 yang tidak pernah berhenti mengikuti kemana pun Aku mengajar. Entah sudah menjadi budaya, ketika setiap anak-anak ini berbeda pikiran atau hanya karena bercanda selalu di akhiri dengan saling pukul atau baku pukul istilah guru-guru disini. Tapi memang ini tidak salah menurut ku, karena setiap saat di belakang aku para guru sangat ringan tangan kepada siswa. Pernah aku melihat ketika Aku pulang sekolah bareng murid-murid kelas 5, mereka berjalan agak pincang. Ternyata setelah Aku bertanya satu persatu mereka habis dipukul oleh kepsek dengan menggunakan bambu kering hingga kulit kaki mereka memar biru. Dengan sambil tersenyum mereka menceritakan semua yang mereka alami. Persoalan sepela, anak-anak yang tidak bisa diam. Harus kah bambu, rotan menjadi alat agar para siswa diam. Perasaan tidak tenang selalu datang ketika Aku tidak mengawasi kegiatan mengajar guru, karena ditangan mereka tidak pernah lepas sebatang bambu atau rotan.

Aku teringat sebuah quote seorang Pengajar Muda, “kita bisa memaksa mereka masuk kelas dan diam tetapi kita tidak pernah bisa memaksa mereka untuk paham apa yang kita ajari”. Sebuah harapan kecil selalu tertanam dalam hati ku, semoga pada akhir pengabdian ku di tanah Bajo ini guru-guru sudah tidak mudahnya memukul siswa, dan anak-anak Torosubang bisa merasakan nyaman dan aman belajar di sekolah. Merasa aman dan nyaman akan membuat mereka percaya diri, tidak merasa bahwa sekolah adalah tempat mereka di pukul karena mereka tidak diam atau mereka ribut, merasa bahwa sekolah adalah tempat mereka mulai bermimpi menjadi orang yang berguna bagi bangsa.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran