Jurnal minggu ke-6
Sabda Pambayu | 02 November 2010

Anak-anak desa teriak lah!

Aku seorang laki-laki yang hidup dan dibesarkan dalam keluarga kecil dan bahagia di sebuah daerah yang sangat terpencil jika Jakarta sebagai pembanding. Tanah Bima “dana ma mbari” merupakan daerah yang dulunya sejuk dan memiliki hutan konservasi yang luas. Akan tetapi, tangan jahil serta keserakahan membuat benih-benih mahoni pun tidak dapat hidup bebas dan menjadi tumpuan oksigen bagi masyarakatnya. Laut biru yang kaya akan ikan serta mutiara laut yang menawan hanya menjadi harta segelintir orang-orang yang serakah. Pagi, siang dan malam aku habiskan di bawah naungan langit Bima yang panas karena kondisi sosial masyarakat yang keras. Ayahku seorang Jawa yang merantau ke daerah ku dan menikahi ibu ku sebagai orang pribumi. Sebagai warga pendatang tidak mudah untuk menjadi manusia yang berarti dan diakui di tengah masyarakat. Apalagi suku Jawa sebagai suku mayoritas di Indonesia tercinta tidak selalu diterima dengan baik di tengah masyarakat pribumi yang takut tidak mampu bersaing dengan ‘orang Jawa’.

Indonesia merupakan Negara yang ditopang oleh daerah-daerah sentral seperti Jakarta, Surabaya dan Medan. Pemerataan pembangunan sangat asing ditelinga orang-orang daerah. Entah pemerintah pusat yang tidak mau peduli atau pemerintah daerah yang nyaman dengan otonomi daerah yang menempatkan mereka sebagai raja-raja kecil di daerah. Dulu, daerah ku sering dirampok oleh para pendatang tetapi sekarang para priyayi pribumi pun ikut menjadi kakap yang menyantap habis sisa-sisa sumber daya alam yang kami miliki.

Bangsa di dunia mengenal Indonesia dengan Bali yang elok, atau dengan Jakarta yang penuh dengan kebisingan. Dunia tidak pernah mengenal Indonesia lewat suku anak dalam, atau mejene yang eksotik. Indonesia pun hanya bercermin pada Jawa yang menjadi urat nadi perekonomian nasional. Aku dan beberapa anak daerah pun mengenal Indonesia sebagai milik orang Jawa, karena di daerah ku pun orang Jawa menjadi pendatang yang mempunyai nilai tawar yang tinggi.

Indonesia seharusnya menjadi Negara yang hidup dari berkembang dari desa-desa yang ada didaerah. Desa merupakan urat nadi perekonomian rakyat Indonesia yang mayoritas menjadi petani dan nelayan. Pemerintahku tertidur saat orang-orang desa menyalakan lilin harapan sambil mendongakkan kepala mereka ke atas. Orang desa dan aku berharap lilin ini akan membakar jari-jari kaki pemerintah agar bangun dan menolehkan pandangan mereka dari segala keserakahan duniawi ke arah kami. Indonesiaku sekarang sedih, merintih ibu pertiwi melihat Indonesiaku. Indonesiaku bagai orang tua yang lemah dan pilu dengan pakaian jas yang kusut dengan corak lipatan koruptor. Indonesia meringis dan mencoba menyalahkan Tuhan dengan segala bencana yang datang silih berganti. Indonesiaku harusnya membuka hatinya,mendengar janji-janji para pahlawan dan kembali menjadi Indonesia yang ramah serta hidup makmur dari “gemah ripah loh jinawi”.

Pemimpin bangsaku yang baik, saatnya kami berteriak kembali. Para pemuda desa,bintang kejora yang menjadi kekayaan desa yang tidak akan pernah ingin ditindas, bangkit lah. Hidup daerahmu dan daerahku ada disetiap “hompimpa” hela nafas kita. Kemerdekaan yang tidak hanya miliki kota-kota besar sudah saatnya menjadi candu bagi anak-anak desa. Anak-anak desa bukan mutiara yangg ditemukan diujung rotan. Anak-anak desa bukan para pemalas yang hanya mengemis dana CSR dari perusahaan-perusahaan yang merampok kekayaan daerah mereka. Anak-anak desa harus menjadi inspirasi bagi orang tua mereka, anak-anak mereka kelak dan para pemimpin bangsa tercinta ini. Aku akan menjadi bagian anak-anak desa yang menjadi bintang kejora bagi desa, bangsa dan negaraku serta memenuhi janji-janji kemerdekaan yang mulai pudar dimakan zaman.
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran