info@indonesiamengajar.org (021) 7221570

Gambaran Awal Desa Indomut-Halmahera Selatan

Rhamdani Kurniawan 25 Desember 2010
DESA INDOMUT-HALMAHERA SELATAN I.    Gambaran Umum Desa indomut merupakan sebuah desa yang terletak dipesisir pantai barat Pulau Bacan, berjarak 20 menit dari Labuha (Ibukota Kabupaten) dengan menggunakan perahu Ketinting, atau 15 menit dengan menggunakan Speedboat. Desa ini dapat pula ditempuh dengan jalur darat menggunakan motor melewati jalan tanah selama 15 menit, namun semenjak jembatan penghubung sungai mengalami kerusakan dan belum ada perbaikan, jalur darat ini terputus sama sekali dan tertutup oleh rumput-rumput liar. Desa Indomut dikelilingi oleh aliran sungai, mulai dari arah barat, timur dan utara, sedangkan arah selatan langsung berhadapan dengan laut/selat yang memisahkan pulau Bacan (dimana Desa Indomut berada) dengan Pulau Nusara (objek pariwisata pasir putih). Adapun batas-batas yang dimiliki oleh Desa Indomut adalah Desa Awanggo di sebelah timur, Desa Belang-belang di sebelah Barat, Pulau Nusara di sebelah selatan, dan di sebelah utara berbatasan dengan hutan dan perbukitan (berjarak sekitar 3 Km dari Desa Indomut). Jaringan PLN sudah masuk di desa ini, meskipun pemadaman listrik masih sering dialami oleh warga (1) . Oleh karena itu, hampir setiap warga memiliki generator listrik pribadi atau genset untuk mengantisipasi padamnya listrik dalam waktu yang cukup lama. Jaringan telekomunikasi dari Telkom belum sampai di desa ini, namun untuk jaringan telekomunikasi seluler (2)  sudah terdapat di desa ini, walaupun sinyal terkadang menghilang ketika berada di dalam bangunan, tetapi di pinggir pantai sinyal HP dapat ditangkap dengan kuat. Siaran televisi sama sekali tidak tertangkap di daerah ini, oleh sebab itu, warga menggunakan antena parabola seharga 1-2 juta untuk dapat menikmati siaran televisi, sedangkan untuk siaran radio, RRI masih dapat didengar dari sini. II.    Kondisi Masyarakat Desa Indomut dihuni oleh 141 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk 659 jiwa (3), dimana jumlah laki-laki lebih banyak daripada perempuan (342 dan 317). Mata pencaharian utama masyarakat adalah sebagai nelayan, walaupun sebagian dari mereka ada juga yang berladang. Aktivitas berladang terkadang juga dilakukan oleh nelayan ketika mereka tidak pergi melaut karena faktor cuaca. Hasil utama dari pertanian masyarakat adalah sagu, kopra, buah-buahan (durian, duku, langsat, rambutan) musiman, dan beberapa jenis sayuran. Sedangkan hasil laut yang dihasilkan berbagai jenis ikan (Tuna, cakalang, kembung dll) dan cumi-cumi. Suku Bacan merupakan penduduk asli di Indomut, sehingga suku ini menjadi suku mayoritas di desa Indomut, dengan bahasa yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Bacan dan terkadang bahasa Indonesia. Bahasa Bacan termasuk bahasa yang lebih mudah untuk dipahami diantara 8 bahasa daerah yang ada di Maluku Utara ini, karena bahasa Bacan memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Indonesia. Agama Islam adalah satu-satunya agama yang dipeluk oleh penduduk Indomut, dan dalam keseharian ibadahnya memiliki banyak kesamaan dengan NU yang ada di Jawa. Adapun kesamaan yang dimiliki oleh penduduk Indomut dengan NU adalah adanya kegiatan Mangaji (4) ketika ada warga yang meninggal dunia, bedanya adalah pada kegiatan mangaji disertai tilawah al Qur’an selama sembilan hari nonstop secara bergantian, dan membaca doa secara bersama-sama setelah maghrib, kemudian dilanjutkan dengan makan-makan (aneka kue dan terkadang makanan berat). Perbedaan lainnya antara tradisi tahlilan di jawa dan mangaji di Maluku Utara yaitu penggunaan sebuah pot pembakaran untuk membakar dupa (5). Tradisi mangaji tidak hanya dilakukan ketika memperingati kematian seseorang, namun juga pada setiap penyelenggaraan hari-hari keagamaan atau hari-hari penting lainnya, seperti mangaji menjelang Idul Adha, mangaji ketika melaksanakan prosesi ‘Antar kerugian’ (6) dan lain lain. Orang Maluku Utara dikenal memiliki bahasa yang kasar, mungkin hal ini disebabkan dari gaya bahasa mereka yang keras, hampir sama dengan cara berbicara orang Batak. Begitu pula dengan penduduk Indomut, memiliki gaya bicara yang keras dan to the point. Apabila kita mendengar mereka berbicara untuk pertama kalinya, kita pasti akan mengira bahwa mereka sedang marah-marah dan membentak, namun tidak berarti mereka sedang marah atau membentak, karena itulah gaya bahasa mereka, dan dibalik gaya bahasa yang keras tersebut, sebenarnya mereka memiliki hati yang sangat lembut dan ramah. Dalam mendidik anak-anaknya, masyarakat Indomut hampir sama dengan masyarakat Maluku Utara pada umumnya, yaitu cenderung keras kepada anak mereka, tak jarang tindakan fisik dilakukan untuk mendidik anak-anak mereka, karena mereka memiliki pepatah “Dibalik rotan ada intan”. Akan tetapi, selama sebulan penulis berada disini belum pernah melihat secara langsung tindakan fisik tersebut, walaupun bentakan dan hardikan sudah sering penulis lihat. III.    Kondisi Pendidikan Desa Indomut memiliki satu buah lembaga pendidikan tingkat Sekolah Dasar, yaitu SDN Indomut. Sekolah ini terletak di pinggir pantai dan dapat terlihat dengan jelas ketika baru sampai di desa Indomut karena letaknya tepat menghadap ke dermaga desa. SDN lndomut memiliki tiga lokal bangunan yang terawat dengan baik karena baru dilakukan perbaikan besar-besaran pada tahun 2006 hingga 2007. Dari tiga lokal yang ada, dua lokal dibangun atas bantuan pemerintah daerah, dan sisanya dibangun atas swadaya masyarakat setempat. Tiga tahun terakhir jumlah siswa yang masuk SDN Indomut terus berkurang, dan tahun ini tercatat hanya 12 siswa yang masuk dikelas satu. Hal ini disebabkan oleh banyaknya masyarakat yang mengikuti program KB sehingga jumlah kelahiran semakin menurun. Total siswa yang tercatat aktif di SDN Indomut mencapai sekitar 120 siswa yang tersebar di 6 rombel yang ditangani  oleh kekuatan 11 orang guru (5 guru PNS dan 6 guru honor), menjadikan SDN Indomut cukup ‘ramai’ dengan aktivitas belajar-mengajar. Walaupun begitu,tingkat kehadiran guru untuk mengajar masih belum stabil. Pada pekan kedua kedatangan Pengajar Muda di Sekolah ini, tingkat kehadiran guru berkisar antara 30%- 40%, terlebih ketika kegiatan KKG  berlangsung dihari efektif, maka para siswa hanya melakukan aktivitas bermain di lingkungan sekolah. Akan tetapi keadaan sudah cukup membaik dipekan ketiga, dimana tingkat kehadiran guru sudah mencapai 70%-80%, walaupun kegiatan belajar mengajar kembali terganggu ketika kegiatan KKG (7) diadakan dihari efektif. Dibandingkan Sekolah Dasar lainnya yang terletak diluar kota kecamatan, SDN Indomut termasuk sekolah yang sudah ‘terkondisikan’ dengan baik. SDN Indomut masuk kedalam gugus 3  Kelompok Kerja Guru, dan merupakan sekolah inti yang membawahi 3 SD Imbas (8) . Itulah sebabnya SDN Indomut menjadi tuan rumah kegiatan KKG yang dilaksanakan oleh gugus 3, dan tahun kemarin menjadi tempat dilaksanakannya UASBN yang mencakup beberapa SD di gugus 3. Kegiatan belajar-mengajar efektif SDN Indomut berlangsung dari hari senin-kamis, pada hari jumat digunakan untuk mata pelajaran Penjas mulai dari kelas 1-6 dan selalu diisi dengan senam pagi dari jam 6.45 WIT hingga jam 8.15 WIT, setelah itu siswa diberikan kebebasan untuk bermain di lingkungan sekolah hingga jam 11.00 WIT. Hari sabtu digunakan untuk melaksanakan PD (Pengembangan Diri) siswa yang dalam perencanaan berisi kegiatan-kegiatan kewiraan dan penanaman sikap cinta kebersihan dengan melakukan apel kebersihan sekolah (Walau pada akhirnya pola hidup bersih tidak tercapai karena seluruh sampah yang terkumpul dibuang ke tepi pantai di depan sekolah). Dalam praktiknya, PD hanya diisi dengan kegiatan bersih-bersih sekolah dan setelah itu dilanjutkan dengan bermain di lingkungan sekolah hingga jam 12.00 WIT. Ditengah posisi sekolah yang dijadikan sekolah inti, namun masih banyak siswa SDN Indomut yang putus sekolah ditengah jalan. Hingga jurnal ini dibuat, alasan pasti mengapa mereka berhenti dari sekolah masih penulis cari tahu, ketika salah seorang siswa yang berhenti sekolah di kelas 4 ditanya mengapa ia berhenti sekolah mengatakan bahwa “Bapak SE (inisial) jaga kita”, terjemahan bebas dari bahasa Bacan ini adalah  “Bapak SE melarang saya”, maksudnya adalah Bapak SE (salah seorang guru) pernah memarahi anak ini dan berkata sesuatu yang ‘ditangkap’ oleh anak ini sebagai larangan untuk bersekolah. Pola pengajaran yang keras memang lumrah terjadi disini, hardikkan hingga tindakan fisik biasa terjadi dalam mendidik para siswa di sekolah, bahkan penulis pernah menyaksikan seorang guru menendang siswa layaknya sedang menendang bola ketika menyiapkan siswa untuk berbaris. Guru ini pernah berkata bahwa ia lebih memilih menggunakan fisik untuk mengajar siswa daripada umpatan, karena umpatan dapat menyakiti dan menyinggung perasaan siswa daripada tindakan fisik. Pola pengajaran disertai kekerasan inilah yang menggerakkan sebuah lembaga asing milik Uni Eropa yang bergerak dibidang pendidikan untuk memberikan bantuan pelatihan sekaligus materil kepada beberapa sekolah yang ada di Maluku Utara, termasuk SDN Indomut, guna memberikan penyuluhan pendidikan tanpa kekerasan. Program ini diberi nama Save The Children, yang telah berlangsung selama 3 tahun dan berakhir tahun 2009 lalu. Selain mendapatkan pemahaman tentang mendidik anak tanpa kekerasan, program yang bekerja sama dengan Bank Dunia ini juga memberikan bantuan berupa buku pendidikan serta alat peraga Matematika dan Sains yang cukup lengkap. Namun sayangnya, alat peraga ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh para guru karena keterbatasan mereka dalam memanfaatkannya, dan hanya ditaruh dalam sebuah ruangan hingga berdebu. Satu kelebihan lain yang dimiliki oleh SDN Indomut adalah adanya ‘Ruang Pintar’. Ruang ini memanfaatkan sebuah ruangan kelas berukuran 6x6 meter yang dijadikan sebuah perpustakaan. Terdapat 3 rak buku yang berisi buku-buku cerita dan buku pendidikan yang cukup menarik, satu rak alat peraga sains Sequip lengkap (serta 2 rak alat peraga milik SDN Belang-belang dan SDN Kaputusang yang tidak diambil), 4 buah meja duduk yang besar untuk membaca, berbagai poster peraga Sains dan IPS yang tertempel di tembok dan lantai yang dilapisi karpet secara penuh berwarna biru, serta tembok yang dicat warna-warni semakin menjadikan ruangan ini menarik bagi anak-anak. Ruang Pintar ini digunakan oleh para guru untuk mengatasi siswa yang memiliki kekurangan dalam belajar. Namun sayangnya, ruang ini belum dimanfaatkan secara optimal karena selalu dikunci dan hanya digunakan pada saat-saat tertentu saja. Lembaga pendidikan tingkat menengah belum ada di desa ini, dulu sempat dibuka SMP terbuka di Indomut, bahkan siswanya sempat menjadi juara 2 lomba cerdas cermat antar SMP terbuka tingkat propinsi, namun SMP terbuka ini kini sudah gulung tikar karena jumlah siswa yang semakin menurun yang disebabkan banyaknya anak-anak usia SMP yang memilih untuk bersekolah di Labuha. Namun sejak jembatan dan jalan darat yang menghubungkan desa Indomut dan Labuha terputus, banyak siswa SMP yang bersekolah di Labuha juga berhenti sekolah, hal ini dikarenakan satu-satunya akses menuju sekolah mereka hanya dapat ditempuh oleh perahu ketinting, dan ini cukup memberatkan mereka. Hingga kini, jumlah anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP semakin meningkat, selama dua tahun ini saja diperkirakan terdapat sekitar 40 siswa yang tidak melanjutkan atau berhenti dari jenjang SMP. Itulah sebabnya dalam waktu dekat ini bergulir rencana untuk mendirikan SD satu atap, yaitu SD yang juga merangkap SMP pada siang harinya, guna memberikan akses pendidikan jenjang SMP kepada siswa yang putus sekolah di desa Indomut. (..)  FootNote _______ 1) Pemadaman listrik masih sering terjadi, baik pagi, siang, maupun malam hari, bervariasi antara 1 jam hingga 1 minggu. Bahkan pada bulan Ramadhan tahun lalu listrik padam selama satu bulan 2) Jaringan telekomunikasi seluler baru dapat dijangkau oleh Telkomsel saja 3) Data per bulan November 2010 4) Kegiatan membaca doa bersama dengan membakar dupa, biasa dilakukan ketika ada orang yang meninggal dunia, dimulai pada hari pertama hingga kesembilan, hari ke 44, hari ke 100 dan satu tahun. 5) Dupa yang dipakai adalah kemenyan, apabila tidak terdapat kemenyan mereka menggantinya dengan kayu manis yang dijadikan bubuk, atau gula pasir. Penggunaan kemenyan dalam hal ini tidak ditujukan untuk hal-hal berbau mistis, akan tetapi kemenyan digunakan untuk memberikan aroma wewangian, itu sebabnya kayu manis juga digunakan ketika kemenyan tidak tersedia karena kayu manis dapat menghasilkan aroma yang sama wanginya dengan kemenyan. 6) ‘Antar kerugian’ adalah istilah yang digunakan oleh penulis untuk menyebutkan sebuah prosesi menjelang pernikahan. Dimana pada upacara ini pihak laki-laki mengantarkan ‘kerugian’ (bahasa Bacan yang dapat diartikan sebagai persembahan) kepada pihak perempuan berupa bahan-bahan pokok maupun uang tunai, kemudian dilanjutkan dengan penentuan hari dilaksanakannya akad nikah oleh masing-masing pihak bersama Imam dan tokoh masyarakat. 7) KKG merupakan singkatan dari Kelompok Kerja Guru. Mulai tahun ini SDN Indomut menjadi tuan rumah kegiatan KKG yang akan dilaksanakan selama 16 kali. SD yang termasuk gugus 3 salah satunya adalah SDN Belang-belang, SDN Nusa Jaya, SDN Torosubang, MI Awanggo, SDN Pasimbaos dan SDN Kaputusang. 8) Sekolah Inti merupakan sekolah yang dianggap sudah memiliki manajemen yang baik dan diberikan kepercayaan untuk memberikan coaching terhadap SD imbas, yaitu SD yang dianggap belum memiliki manajemen yang cukup baik.

Cerita Lainnya

Lihat Semua