Perjalanan Pengajar Muda Halsel Elite Squad
Oleh: Rahmat Andika,

Desa Pelita-Halmahera Selatan,  14 November 2010 (09.00 WIT) Hari ini hari kedua saya di desa Pelita. Tidak butuh sebulan atau dua untuk saya tahu kalau saya akan betah disini. Hari ini saya akan ke pulau Ambatu di seberang pulau Mandioli untuk melihat budidaya rumput laut disana. Tapi pagi ini saya ingin menyempatkan menulis sedikit tentang perjalanan deployment dua hari yang lalu saat semua Pengajar Muda di Kab. Halmahera Selatan diantar sampai desa masing-masing. 12 November kemarin, hari Jumat, dari Labuha kami memulai perjalanan untuk mengantar seluruh tim Halmahera Selatan (HalSel). Kecuali  Ayu dan Aisy yang ditempatkan di dua buah desa dekat dengan Labuha dan menggunakan jalan darat, kami berdelapan ditambah Pak Hikmat dan Mas Susilo Berangkat dari Pelabuhan Lama Labuha. Kami menggunakan speedboat sewaan berukuran sedang karena selain harus mengangkut kami bersepuluh juga harus mengangkut barang bawaan kami yang cukup banyak. Tujuan pertama adalah desanya Dani, Desa Indomut. Diluar bayangan saya, anak2 ternyata sudah menunggu di dermaga desa. Anak-anak berserangam orlahraga SDN Indomut sudah melambai-lambaikan tangannya ke arah speedboat kami. Dari kejauhan Dani keihatan sangan bersemangat untuk sampai ke dermaga itu. Begitu sampai, bak perantau lama yang baru pulang, kami disambut dengan hangat, langsung menuju SD yang terletak di pinggir pantai. Pihak sekolah mengadakan acara penyambutan kecil-kecilan di ruangan dan rombongan pun bergerak untuk mengantar yang lain. Tapi ada satu hal yang menarik, bagitu kami sampai dan bersalam-salaman dengan guru-guru dan penduduk Indomut, ada seorang bapak, besar gelap brewok, sepertinya tidak kuasa menahan air matanya. Saya menangkap ekspektasi yang besar dari air mata dia. Jelas dia menangis karena terharu dan seolah baru mendapat suatu berkah. Mudah-mudahan Dani bisa berbuat banyak disana. Good luck! Kira-kira 10 menit dari Indomut, speedboat kami sampai di Desa Belang-belang, cara membacanya menggunakan “e” kuat seperti orang batak. Bukan belang-belang seperti membaca warna Zebra. Beda dengan Indomut, kami tidak melihat ada keramaian di dermaga Belang-belang. Ternyata memang penyambutan mungkin belum diadakan hari itu. Kami langsung menuju rumah salah seorang penduduk tempat Hendra (Aheng) akan tinggal setahun ini yang lokasinya berada di belakang SDN Belang-Belang tempat Aheng akan mengajar. Keluarga tempat aheng tinggal sangat ramah. Kami dijamu sedikit disana. Dan setelah Pak Hikmat cuap-cuap sedikit menyerahkan Aheng ke warga Desa Belang-Belang, kami berangkat lagi mengantar yang lain. Break a leg Heng! Berikutnya adalah Desa Bajo, tempatnya si Ajib (Sabda Aji). Desa ini terletak di Pulau Bajo dan ditempuh selama 15 menit dengan ­speedboat yang kami gunakan. Desa ini tersusun dengan rumah-rumah penduduk memanjang di pesisir pantainya. Susunan rumah-rumahnya rapi dan tertata dengan baik. Dermaganya bisa saya katakan dermaga paling bagus diantara kami semua dilihat dari sisi ­pemandangan dari dermaganya dan karang-karang yang bisa terlihat dengan jelas dari dermaganya paling beragam lengkap dengan ikan-ikan hiasnya. Oh, saya lupa menyebutkan bahwa memang air laut di Halsel rata-rata biru dan hijau, bening. Setelah serah terima kecil-kecilan di SDN Bajo, kami melanjutkan perjalanan ke desa berikutnya. Sawangakar. Ini adalah desa tempat Junarih akan tinggal dan mengajar. Begitu sampai dermaga, kami langsung menuju rumah kepala sekolah yang juga akan menjadi tempat tinggal Jun. Rumahnya terletak di seberang SDN Sawangakar. Sekolah ini menghadap ke pantai dengan pemandangan laut dan pulau-pulau di seberangnya. Waktu kami sampai, anak-anak yang sudah tidak berseragam karena mungkin jam sekolah sudah selesai menyambut dan langsung membantu membawa barang-barang Jun. Di rumah kepala sekolah kami dijamu sedikit sambil Pak Hikmat kembali melakukan serah terima dengan penduduk desa Sawangakar. Sepanjang jamuan di rumah kepsek saya diluar bersama Bayu bermain dengan anak-anak mengajarkan beberapa nyanyian. Entah kenapa saya langsung teringat lirik lagu “Lihat Senyum Mereka” ciptaan BK yang juga merupakan lagu resmi Gerakan Indonesia Mengajar (klaim sepihak :p). Anak-anak ini begitu bersemangat! Tenyata ini binar mata itu, senyum kecil dan canda tawa yang berusaha kami tumpahkan beberapa minggu yang lalu dalam sebuah lagu. Wajah mereka seakan berbicara: “Ayo! Kami siap! Kalian punya apa untuk kami ketahui? ada apa diluar sana? Bagaimana diluar sana?” Di sawangakar, hari itu, saya melihatnya, merasakannya. Hari itu saya marah, sama rasanya dengan waktu saya menemukan anak-anak di Balikpapan yang sebetulnya sangat cerdas, bersemangat, namun tidak ada yang bisa memancing mereka bermimpi. Tidak ada yang membuat mereka mengenal dunia sehingga mereka bisa bercita-cita. Bahkan sekolah mereka sekalipun. Tapi kami, Gerakan Indonesia Mengajar, telah bersepakat untuk berhenti memaki. Karena sebenarnya sayapun bingung dari dulu, siapa yang harus saya maki atas keadaan ini? So let’s just light the candle! Perjalanan ke desa terakhir yang bisa saya ceritakan adalah ke Desa Pelita, desa tempat saya sendiri akan tinggal dan mengajar setahun ini. Kami merapat ke Dermaga Pelita sesaat sebelum Shalat Jumat dimulai. Kami langsung menuju masjid. Mungkin penyambutan saya lah yang paling “Islami” karena dilaksanakan di masjid selepas shalat Jumat. Hehe. Setelah itu saya langsung diantar menuju rumah kepala sekolah di seberang masjid tempat saya akan tinggal. Setelah Pak Hikmat melakukan tugasnya, saya mengantar Rahman Adi, Adhi Nugroho, Bayu, Mas Sus dan Pak Hikmat ke dermaga untuk melanjutkan perjalanan mengantar Adi ke Desa Indong yang berjarak sekitar 10 menit dari Pelita. Cerita tentang Desa Bibinoi tempat Adhi Nugroho dan Bayu, Desa Papaloang tempat Ayu dan Desa Panamboang tempat Aisy tidak bisa saya sampaikan simply karena saya belum kesana dan tidak mengantarkan mereka. Mudah-mudahan di postingan yang lain bisa saya tuliskan. Cerita tentang desa Pelita lebih lengkap dan keluarga baru saya disini juga akan saya tulis di postingan yang lain. Setahun ini akan menantang dan sangat menarik bagi seluruh Pengajar Muda. Setahun yang harus diiringi keikhlasan dan ketulusan untuk bisa menghasilkan sesuatu. Setahun yang akan sangat berarti bagi diri kami masing-masing. May God bless us all. May God bless Indonesia! Amin.

Mari benar-benar hidup


Cerita Terbaru
Cerita menarik lain dari Pengajar Muda

Hari Turunnya Al Qur'an di Desaku, Kuala Baru, Aceh Singkil

Bab 2 : Ngelong

Bab 1 : Ibu Guru Baru

Prolog : Bumi Silampari

Merica dan Pendidikan Lalomerui

Seluruh Cerita

Lihat seluruh cerita Pengajar Muda

Ikut Iuran