Haru Biru Mudik Pertama
Putri Lestari | 22 January 2012

Kalau ditanya orang “Aslinya dari mana mbak?” saya tidak bisa langsung menjawab karena dalam darah saya bercampur Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Bengkulu dan Banten. Pokoknya saya hasil Bhineka Tunggal Ika, walaupun begitu Saya lahir di Jakarta dan di besarkan di sekitaran Jabodetabek. Kakek dan Nenek saya dari kedua orang tua pun tinggal di Jakarta, jadi seumur hidup saya belum pernah Mudik.

 

Pengertian saya tentang mudik adalah pulang ke kampung halaman atau pulang ke rumah orang tua. Dan baru setelah menjadi pengajar muda, saya berkesempatan mengalami yang namanya Mudik. Berikut, dengan bangga saya persembahkan cerita mudik pertama saya.

 

2 minggu sebelum saya mudik, saya sudah ceritakan kepada seluruh warga sekolah, berita ini tentunya cepat menyebar ke seluruh dusun. Ibu angkat saya segera mempersiapkan segala calon oleh-oleh untuk saya bawa ke Jakarta. Mulai dari menampih beras supaya benar-benar bersih dan memilih kerupuk-kerupuk terbaik. Saat jadwal mudik semakin dekat, orang tua murid mulai bertanya “Ibu mau kerupuk tidak?” atau “ibu, bawa gula ya...” semua saya jawab, “Sudah bu, jangan repot-repot, saya kan Cuma pulang sebentar”

 

Jauh-jauh hari saya sudah mempersiapkan barang-barang yang akan saya bawa pulang ke rumah karena tidak terpakai di penempatan, perhitungan saya, cukuplah carriel ukuran 60 liter itu. Dengtan sebuah tas tangan untuk alat-alat elektronik.

 

Dua hari sebelum mudik, semua warga datang berbondong-bondong, membawa gula, kerupuk gadung, kerupuk  ikan, gadung dan Gula merah. Semuanya bilang “ibu... buat ibu bapaknya di rumah” para ibu dan anak-anak membatu aku mengemas. Hasilnya Carriel menjadi tempat beras, 2 tas besar menjadi tempat kerupuk dan Gula merah, 1 tas khusus pakaian dan 1 tas tangan. Jadilah 5 tas yang akan ku bawa.

 

Setelah kebingungan tentang pengemasan, kebingungan kedua adalah bagaimana mengantar semua barang ini ke pelabuhan. Rencana semula, aku hanya akan ke Pelabuhan dengan sepeda motor, dengan bawaan yang segitu banyak aku jadi menyewa Kol dan semua anak kelas 4-6 ikut mengantar ke kecamatan, kami menempuh hampir 2 am perjalanan.

 

Sejak pagi, anak-anak tak lepas berada di sampingku, beberapa dari mereka merajuk, “ibu, jangan pulang... aku ingin terus bersama ibu” ada yang tawar menawar “ibu, jangan lama-lama pulangnya, jangan 2 minggu, 2 hari saja” yang paling lucu dan mengharukan waktu Nain bilang “Ibu, nanti kalau sudah sampai sangkapura, ibu pulang lagi saja ke Tanah Rata, biar Yayah saja yang gantikan ibu pulang ke Jakarta” Yayah adalah  salah seorang tetanggaku, lulusan SD dan tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Ucapan spontan itu diikuti gelak tawa semua. “Nain, bagaimana kalau Yayah nyasar di Jakarta” ada juga yang bilang “Lha, nanti ibunya bu Putri bingung, anaknya berubah” semua tertawa tapi Nain dan Icha semakin erat menggenggam lengan ku.

 

Akhirnya kami tiba di sangkapura, sebelum mereka kembali ke Khatimah anakku salim dan bilang, “ Ibu, boleh gak aku cium ibu?” aku jawab boleh. Lalu dia mencium pipiku, rupanya yang lain memperhatikan dan langsung datang menyerbu “aku juga mau cium ibu”

 

Rasa haru dan sedih campur jadi satu, aku tidak mau menangis walau dari tadi sudah teriris-iris rasanya. Mudik pertama ku penuh haru biru. Mudah sekali beradaptasi dengan mereka tapi tak mudah meninggalkan mereka walaupun hanya untuk 2 minggu.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran