info@indonesiamengajar.org (021) 7221570

pernikahan ala kokas - fakfak

Popi Miyondri 29 November 2012

Tanggal 7 Oktober 2012, hari pernikahan Isma dan Jefri. Isma merupakan anak dari kakak ku (*kakak keluarga angkat ku disini). Ya pesta pernikahannya menarik untuk ku. Di mulai dari acara Tombormak (Taruh harta) yang dilaksanakan oleh pihak calon pengantin lelaki. Tombormak ini adalah acara dimana mereka mengundang warga sekitar untuk memberikan uang seikhlasnya untuk sang calon pengantin. Hal ini berbeda dengan budaya pada umumnya di Indonesia, pada umumnya calon pengantin dan keluarga calon pengantin berupaya menabung atau bahkan meminjam uang untuk menyelenggarakan pesta pernikahannya. Dalam tombormak pun ada istilah harta pokok dan harta umum. Harta pokok yaitu harta atau uang yang telah dimiliki oleh pihak calon pengantin dan harta umum adalah banyaknya biaya tambahan dari warga sekitar. Setelah acara tombormak selesai dan harta yang didapat telah dihitung. Pihak calon pengantin laki-laki memberikan harta tersebut kepada pihak calon pengantin wanita. Harta itu pun sebagian kecil ada yang sudah diberi dalam bentuk telur, minyak dan sebagainya. Harta yang berupa uang diberikan kepada pihak wanita dengan cara berkumpul dan sepatah kata dari pihak perempuan. Ada istilah uang sakit tulang belakang, yaitu uang yang diberikan kepada ibu dari pihak wanita sebagai biaya ganti karena telah melahirkan dan merawat calon pengantin wanita. Acara penyerahan taruh harta itu pun penuh haru biru. Terdengar suara isakan tangis para ibu sang calon pengantin. Di acara tersebut, mereka sekaligus menetapkan hari pelaksanaan pernikahannya. Tanggal pelaksanaan pernikahannya yaitu tanggal 10 Oktober 2012. Tanggal 10 Oktober 2012, hari Pernikahan itu pun telah tiba. Garis belakang telah menyiapkan semuanya dari makanan, dekor dan lain-lainnya. Tinggal menunggu pukul 16.00. Aku pun juga telah bersiap-siap dan menjadi panitia dokumentasi untuk pernikahan ini. Tak lama kemudian terdengar suara klakson motor yang besar dan teriakan suara serta nyanyian di pinggir jalan. Ya, arakan pihak laki-laki hampir tiba. Aku pun menghampiri dan ternyata disana banyak warga yang datang mendampingi pihak laki-laki sambil bersalawat diiringi tepuk tipa dan rabana yang sangat menggambarkan kegembiraan semuanya. Calon pengantin laki-laki menggunakan pakaian ala laki-laki arab dan dipayungi. Payungnya pun dihias sehingga berbeda dengan payung kebanyakan. Sesampainya didepan rumah pengantin wanita, ada palang (penghalang). Ya, ada keluarga pihak perempuan yang menghalangi pihak pengantin laki-laki dengan bermaksud meminta imbalan beberapa lembar uang agar diizinkan masuk ke tempat. Penghalang ini sengaja diadakan dengan untuk meramaikan acara saja atau dengan kata lain “seru-seruan”. Setelah disambut dengan keluarga pihak wanita, pengantin laki-laki menuju tempat ijab kabul. Tempat untuk duduknya pun berbeda antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki berada diruangan ijab kabul dan perempuan berada dibelakang ruangan. Setelah ijab kabul selesai dan diakhiri dengan kata Alhamdullillah. Pengantin laki-laki menuju kamar pengantin dimana sudah ada pengantin wanita disana. Saat ingin masuk pun pihak laki-laki terhalangi. Saat mengucapkan salam dan dijawab dengan salam lagi, teriakan “kandas... kandas (dihalang-dihalang)” yang artinya bahwa pihak laki-laki pun harus memberikan upeti kembali sebelum masuk ke kamar wanita. Saat ditanya berapa, pihak wanita menjawab 5 juta. Padahal nantisaat pemberian uang tidak sampai segitu, bisa saja hanya ratusan ribu. Ya.. ini juga salah satu acara untuk seru-seruan saja. Setelah masuk dabbertemu kemudian tanda tangan surat nikah. Pengantin pun memberi salam kepada tamu undangan dan duduk di panggung pengantin. Malam pun tiba, di daerah sini biasanya sehabis pesta selalu ada acara joget namun malam ini hanya ada menari dendang. Yang gerakannya seperti tarian arab dan diiringi dengan pukulan tipa dan rabana membuat tubuh ingin mengikuti gerakannya yang khas. Tarian ntuk wanita dan pria pun berbeda. Kemudian dilanjut dengan musik dandana dengan alat musik tambahan yaitu biola. Liriknya pun berbalas pantun dengan bahasa disini. Ya untuk musik dandana ini, wanita berjoget dengan menggunakan sarung. Tarian ini pun tidak saya lewatkan. Saya pun ikut menari dengan mereka sambil penuh tertawa dan bahagia karena bisa mengtahui dan berpartisipasi dengan budaya disini. Keesokan harinya, untuk merayakan pernikahan ini, ada joget untuk anak muda yang lagunya berupa musik R n B, Padang, ambon dan musik DJ. Disini memang sudah tradisi jika sehabis pernikahan selalu ada joget. Dan dari penjuru manapun bisa ikut berjoget di pesta ini. Dan acara joget ini bisa selesai sampai pagi.


Cerita Lainnya

Lihat Semua