Des
10

“Aku anak jujur, tak suka bicara bohong. Aku anak jujur tidak suka omong kosong Aku anak jujur, terus terang bila bertutur. Aku anak jujur mohon maaf bila terlanjur”

Dulu dosen saya pernah bilang bahwa dirinya adalah tipikal perawat medikal bedah. Dia merasa pekerjaan perawat medikal bedah lebih cocok dengan dirinya yang kalau berbuat sesuatu ingin melihat hasilnya dengan cepat. Tindakan dalam keperawatan medikal bedah memang begitu, terapi yang diberikan ke pasien efeknya bisa terlihat dalam waktu yang relatif cepat. Setidaknya lebih cepat ketimbang keperawatan jiwa.

Waktu praktik di RS jiwa dulu, saya mengelola seorang pasien. Masalah keperawatannya isolasi sosial. Sampai saya selesai praktik di RS tersebut, pasien saya tidak memiliki kemajuan yang cukup berarti. Dia masih menjawab pertanyaan dengan maksimal 1 kata, bahkan seringpula tidak menjawab, dia masih tidak mau eye contact, dia masih saja ber-afek datar. Bagi seseorang yang suka dengan “hasil cepat”, bekerja sebagai perawat jiwa memang tidak akan cocok, bahkan mungkin membuat frustasi. Hehe.

Akhir-akhir ini saya baru menyadari bahwa saya juga tipikal medikal medah. Saya suka melihat hasil. Pantas saja saya selalu merasa puas ketika saya mengangkat cucian kering saya dari jemuran. Karena saya bisa melihat perubahannya, dari tumpukan cucian kotor, sekarang menjadi tumpukan pakaian bersih. Melegakan. Saya suka sekali menyikat karpet di kamar. Karena saya bisa melihat perbedaan, karpet yang semula berdebu, kini bersih. Memuaskan.

Mengajar juga begitu. Ada hasil yang bisa segera terlihat. Hari ini saya mengajarkan penjumlahan, besok saya beri soal latihan, mereka bisa kerjakan. Hari ini saya ajarkan greeting, besok saya disapa oleh anak murid “good morning bu Ludi”. Hari ini saya kenalkan a dan ba, beberapa menit kemudian dia bisa membaca “baba”.

Namun mengajar tidak sekedar menyampaikan ilmu. Mengajar tidak sekedar membagi informasi. Mengajar juga menanamkan nilai-nilai. Dan disinilah letak ketidakcocokannya dengan tipe medikal bedah. Mengajarkan nilai-nilai, seringkali tidak bisa langsung terlihat hasilnya. Menanamkan nilai, seperti menanam biji buah. Lama sekali menunggunya tumbuh menjadi pohon, lama sekali menunggu pohon itu berbuah, bahkan mungkin kita tidak berkesempatan memetiknya.

Ada banyak nilai yang ingin saya tanamkan pada murid-murid saya. Yang pernah saya ceritakan di blog saya sebelumnya adalah “hana bangai mandum carong”. Tidak ada anak yang bodoh, semua pintar. Tapi meski berkali-kali saya bilang begitu, mereka masih saja saling mengatai dengan sebutan bangai. Yah, bagaimana mungkin semudah itu berubah, sementara mereka biasa dengan kata itu seumur hidup mereka, dimanapun mereka berada. Butuh proses panjang untuk mereka dapat menginternalisasinya.

Salah satu nilai lain yang coba saya tanamkan adalah kejujuran. Melihat karakterisitik aceh, saya lebih suka menghubungkan apa yang saya sampaikan dengan nilai-nilai islam. Jadi, dalam mengenalkan mereka urgensi kejujuran, di awal saya tanya murid saya, apa agama mereka, siapa nabi mereka. Setelah itu baru saya sampaikan bahwa nabi Muhammad SAW, memiliki julukan al amin, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi nabi. Nabi mereka, dikenal sebagai orang yang dapat dipercaya, orang yang jujur, orang yang memiliki kesesuaian antara kata dan kenyataan, antara kata dan perbuatan. Jadi, kalau mereka mengaku sebagai umat nabi Muhammad SAW, maka mereka harus mencontoh segala kebaikan beliau, termasuk jujur.

Selain dari sisi agama, saya juga menggambarkan dengan hal-hal konkrit yang akrab dengan kehidupan mereka. Tentang untungnya berperilaku dan hidup dengan orang jujur. Tentang sakit dan ruginya bila dikhianati. Tapi, apakah ini langsung sukses, apakah dalam seketika jujur menjadi ruh dalam diri setiap anak murid saya? Tidak.

Pekan ulangan, adalah pekan yang banyak meremas-remas hati saya. Bagaimana tidak? Sebelum memulai ulangan, saya akan kembali mengingatkan mereka tentang kejujuran. Tapi, belumlah selang hitungan jam saya selesai berbicara, anak-anak saya sudah mulai mencontek dengan berbagai cara. Sedih bukan kepalang melihatnya. Bahkan ada anak yang mencoba mencontek sampai 3 kali! Sekali tertangkap basah, dia mencoba lagi, tertangkap lagi, dia coba lagi, terus begitu. Sebagai seorang medikal bedah, benar-benar saya dibuat sendu dengan fenomena ini.

Mungkin metode penyampaian saya yang belum tepat. Mungkin pula memang prosesnya tidak bisa cepat. Seseorang pernah bilang, apa yang kami lakukan sekarang mungkin tidak akan terlihat hasilnya sekarang juga. Mungkin masih beberapa tahun lagi efek itu terasa. Apa yang kami bawa sekarang, mungkin tidak langsung diterima, mungkin dalam beberapa tahun lagi perubahan itu ada. Jadi, saya perlu menyingkirkan dulu hasrat untuk melihat hasil itu, karena mungkin saya hanya akan kecewa. Lebih baik nikmati saja prosesnya dan berbuat sebaiknya.

Namun kadang ada kejutan-kejutan kecil dari teman-teman kecil saya ini. Kadang mereka memperlihatkan hasil pada saya. Misal suatu hari saya tanya pada seorang anak, tentang sebuah kesalahan yang saya tahu dia telah lakukan, awalnya dia tidak mau mengaku, tapi kemudian dia ralat sendiri “kata ibu kita harus jujur bu, saya mau jujur, iya bu itu tadi saya”. Ada pula anak lain, dari awal saya sudah tahu kalau dia membantu anak lain mencontek, saya tanya padanya, dia jawab “nabi saya kan nabi Muhammad bu, nabi Muhammad itu al amin, jadi saya jujur bu, iya tadi dia tanya sama saya”. Senangnya mendengar itu terlontar dari mulut mereka. Semoga tetap dipegang sampai akhir hayat tiba.

Menanam nilai, menanam kejujuran, seperti menanam benih. Mesti sabar merawatnya. Untuk memetik manis buahnya. Semoga kejujuran juga menjadi ruh dalam kehidupan kita semua.

 

Salam anak jujur dari barat Indonesia,

Geudumbak, Hari Anti Korupsi Sedunia 09122011

 

Pemi Ludi

 

Ket: Kutipan awal adalah lagu nasyid anak-anak judulnya “aku anak jujur”

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!