Secangkir Teh dan hidup Nomaden
Nurrachma Asri Saraswati | 17 October 2012

 

                Bulan itu adalah bulan-bulan awal aku menyandang status guru di SDN 31 Lubai. Aku masih melihat keadaan dan lingkungan sekitar. Semester ini sekolahku (terutama kelas kecil) banyak mendapat murid baru pindahan dari mesuji. Pernah mendengar kasus sengketa tanah Mesuji di lampung? Nah, sejak kasus itu warga transmigran di daerah mesuji banyak berpindah ke daerahku tinggal saat ini. Desaku memang sangat heterogen. Kaum pendatang dari jawa dan bali berdampingan hidup dengan masyarakat lokal. Umat muslim hidup rukun dengan warga kristiani dan hindu disini.

              Rizki kelas 2, Aku begitu kewalahan mengahadapinya hari itu. Aku hampir menggunakan emosiku ketika akan menyampaikan materi hari ini. Rizki anak yang sangat jenius. kemampuannya diatas teman-teman sekelas, sangat kritis dan selalu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku harus memutar otak. Emosi hampir saja memenuhiku ketika meminta rizki duduk tenang tidak mengganggu teman-temannya. Jam pelajaran selesai, rasa bersalah pun berdatangan. Aku pun berniat mendatangi rumah rizki. 

               Keesokan harinya, saya bulatkan tekad untuk datang ke rumah rizki yang berada di depan sekolah tepat. Pagi hari aku melintasi rumah rizki, rumah yang sangat sederhana hanya berdinding papan, beralaskan tanah dan atap seng . Aku berkata dalam hati : “ baiklah..pulang nanti aku akan kesana...” Seperti hari biasanya aku masuk kelas dan ketika istirahat sekolah aku meletakan barang-barangku di ruang guru yang tidak besar. Ketika masuk ke ruang guru aku setengah heran karena rumah Rizki sudah tidak ada, sudah lenyap dari pandanganku. Aku sampai keheranan. aku pun berjalan ke depan sekolah dan benar saja yang bersisa hanya tanah rata.

                 Kucari Rizki ke ruang kelas 2, ternyata hari itu dia tidak masuk. Aku berlari ke depan sekolah dan bertanya pada seorang kakek tua.

                “Mbah...tadi pagi saya masih melihat rumah disini, rumahnya rizki kan Mbah ? sekarang kemana yah Mbah?” tanyaku.

                “Oh...Rizki putranya Pak Sugito? Rumah Pak Sugito sudah pindah bu..ke dekat kebun, bapaknya dapat paruhan nderes” ujar kakek tua.

                “ Terima Kasih Mbah”jawabku.

                Nderes adalah panggilan warga desaku untuk  kegiatan  menyadap karet, Paruhan Nderes artinya mengerjakan sadapan milik kebun orang.

                Rupanya gerakku kalah cepat, pulang sekolah aku bergegas ke kebun tempat rumah rizki yang baru. Jalan yang cukup jauh, melewati hutan yang masih rapat. Rumahnya hanya sebuah rumah sederhana di tengah kebun yang baru saja dibuka. Rizki berteriak dan menjemputku dengan sepedanya di ujung hutan.

                “Ibu Asri.....” teriaknya

                Di rumahnya aku disambut dengan secangkir teh hangat oleh orang tua Rizki. Aku pun menanyakan perihal “lenyapnya rumah” Rizki di depan sekolah. Pak Sugito menjelaskan padaku, beliau pun bercerita mengapa mereka pindah ke desa tempatku mengajar saat ini. Rupanya sebelum sengketa tanah di mesuji,keluarga Pak Gito adalah salah satu dari sekian banyak keluarga yang memiliki mata pencaharian bertani karet di Mesuji. Setelah kasus mesuji itu pecah Pak Gito dan keluarga pun terpaksa meninggalkan mesuji dan juga lahannya untuk bertani.

“Beginilah,bu...Kalau  hidup mulai dari nol lagi...rumah dalam 2 jam pun bisa pindah bu.”

                “Wah! ” ujarku kagum.

                “Saya tidak mau bertahan di Mesuji karena kasihan dengan Rizki, dan adik-adiknya Bu... masih telalu kecil mereka untuk menghadapi “kehidupan” disana...Padahal disana saya sudah ada kebon dan tanah luas, rumah...Ya... tanah petani yang kemarin di TV jadi sengketa bu”

                Saya pun menghela nafas panjang.

                “Saya kok percaya rezeki itu Gusti Allah yang punya...pindah ke desa ini mulai dari nol lagi..ya ndak papa bu......”

“itulah bu..karena masih cari kebon untuk di nderes makanya kami pindah-pindah seperti hidup ‘nomaden’”,tambah bapak  empat orang anak ini.

                Di desaku ternyata banyak yang memiliki nasib seperti keluarga Pak Sugito. Mereka meninggalkan Mesuji dan memulai kehidupan baru. Mereka hidup “nomaden” bergantung kepada  kebun milik orang dan pohon karet yang akan di sadap. Sebagian besar dari mereka adalah pendatang yang memulai kehidupan dari nol.

                Rizki pun bergelayut manja di pangkuanku sembari bermain dengan adik kecilnya bernama Riska. Rumah sederhana beralas tanah tetap menghadirkan keriangan dirumah Pak Sugito. Pembicaraan tentang keluarga Pak Sugito dan Mesuji pun berlanjut, ternyata kakak tertua Rizki sudah bekerja di Bali dan menamatkan bangku kuliahnya di UGM dengan beasiswa. Saya sungguh kagum dengan keluarga Pak Sugito! Sangat Tangguh!

               Tanpa terasa sudah hampir 3 jam dan secangkir teh pun sudah hampir habis. Hari sudah hampir sore, aku masih harus berjalan pulang menelusuri hutan rapat yang baru akan di buka menjadi kebun karet.  Bersyukur sekali bertemu keluarga seperti Pak Sugito.  Hidup bukan hanya diukur dari kebun/tanah yang luas dan rumah permanen.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran