Sagu Untuk Masa Depan
Novandi Kusuma Wardana | 01 April 2017

Perkenalkan, bapak piaraku bernama Moses dari marga Horota asli kampung Wooi dan Ibu piaraku bernama Vonike dari marga Bisay dari Kampung Poom. Keduanya menikah pada medio tahun 1992 , hingga Tuhan mengkaruniakan seorang putra pertama bernama Dedy Filipus Horota pada tahun 1996. Keduanya bukanlah keturunan dari seorang pejabat ataupun aparat desa. Latar belakang keluarga keduanya adalah dari keluarga di masyarakat yang biasa menggantungkan hidup dari hasil berkebun dan sagu. Pendidikan keduanya terakhir sampai pada bangku sekolah menengah pertama di Serui. Bersekolah di kota adalah perjuangn, untuk datang ke kota saja butuh waktu sekitar 2-3 hari menggunakan perahu dayung. Belum jika diterpa angin dan gelombang. Setelah sekolah diselesaikan bapak Moses yang ingin melanjutkan sekolah menengah atas harus mengundurkan niatnya karena beberapa saat setelah kelulusan berita duka sampai di kota mengabarkan bahwa orang tuanya tiada. Artinya adalah esok hari harus kembali ke kampung dan menyambung hidup lewat alam. Tidak banyak opsi pulang. Namun karena tekat bersekolahnya akhirnya bapak Moses  melanjutkan ke sekolah pendeta di Biak dan Ibu Bisay kembali ke desa Poom.

Enam anak telah Tuhan karuniakan untuk keduanya. Pasca lahirnya Filipus, Sherlin lahir pada tahun 1997, kemudian Simon, Ketering, Boel, dan si bungsu Petra. Berbagai upaya dilakukan untuk menafkahi keluarganya. Mulai dari berjualan barang kebutuhan pokok, berjualan minyak, sampai membuat perahu kemudian dijual. Jalannya usaha pasti ada pasang surutnya, lesunya perdagangan perahu karena pasar lesu membuat bapak Moses berhenti berdagang perahu. Sejak saat itu keduanya berusaha mengerjakan apapun yang dapat membuat dapur tetap mengepul.

Disamping kesibukannya bekerja mencari nafkah untuk keluarga ,bapak Moses adalah seorang Gembala Jemaat. Setiap Rabu dan Jumat harus mengadakan pelayanan dari satu rumah ke rumah lain. Dan pada hari minggu beliau harus mengisi sekolah minggu dan memimpin ibadah Minggu. Sekitar pukul 4 pagi adalah waktu beliau dan ibu Bisay sembayang, sering sekali di jam itu aku terbangun oleh suara lirih nyanyi-nyanian pujian dan aku pun bersegera untuk mengambil air wudlu untuk persiapan shalat subuh.

Hari-hari ini Bapak Moses dan ibu Bisay sering meninggalkan aku dirumah sendiri bersama Boel dan Petra. Keduanya sibuk “Pi Tokok Sagu” ke kebun pencarian. Sekitar pukul 08.00 pagi keduanya berangkat ke kebun hingga matahari tenggelam baru kembali ke rumah. Biasanya satu pohon sagu membutuhkan waktu sampaimaksimal  empat hari kerja tergantung dari banyaknya orang yang mengerjakan dan cuaca saat itu. Usaha tokok sagu semakin digeluti istiqomah semenjak Filipus dan Sherlin masuk kuliah. Keduanya semakin giat mengolah hasil alam khas Papua itu. Sagu-sagu itudikerjakan di pos-pos pencarian, ditebang kemudian diparut, hasil parutan diangkatdan diramas, hasil ramas kemudian sarinya disaring lagi supaya mendapat kualitas sagu yang lebih bersih sampai akhirnya mendarat ke noken bekas isi beras. Sagu yang ada di noken kemudian dipindahkan ke loyang besar tempat menyimpan dan  dikemas menggunakan daun sagu yang telah diikat dengan tali bambu dengan ukuran tertentu. Istilah di Yapen orang menyebutkan satuan sagu dengan nama “Tumang “. Kemudian setelah sagu siap di kemas keduanya tinggal menunggu kapal perintis datang ke desa. dengan kapal perintis biaya akomodasi semakin terjangkau. Dari Jayapura, Waropen, Biak, sampai Manokwari sagu-sagu hasil keringat berusaha dijajakkan – meskipun akhirnya Manokwari saat ini jadi pelabuhan terakhir. Butuh waktu untuk sagu supaya habis terjual. Hingga yang terakhir  pada bulan Oktober lalu bapak dan ibu harus bertahan selama 30 hari untuk menjual sekitar 70 tumang. 70 tumang itu secara kotor menghasilkan uang sekitar 14 juta (belum dipotong operasional). Sagu-sagu yang telah dikemas itu masing-masing telah memiliki pos pembelanjaan. “Pak Guru, nanti siapkan 5 juta untuk Ipu untuk persiapan PKL, siapkan .............. juta untuk bayar semesteran ipu. Siapkan ....... ribu untuk bayar kontrakan sherlin, “ dan pos lainnya hinnga aku pun penasaran untuk bertanya “Loh bapak, uang sebanyak itu nanti berapa yang sisa untuk bapak ibu sendiri?” pertanyaan itu biasanya beliau jawab dengan tertawa. Atau juga bercandaan “Pa guru, torang nanti cari lagi to kalau su habis..... nanti torang beli buat liat pa guru pu tempat “ maksudnya kalau sudah habis cari lagi sekalian mencari untuk beli tiket bermain di kampung halamanku di Jawa. Ada-ada saja ini canda bapak, tapi diaminkan saja.

Waktu makan malam adalah waktu sesi curahan hati dari ibu piara, Vonike Bisay. “Pa Guru saya pu badan ini sakit apa.... tong kalo anak-anak su selesai kuliah sa su tara mau pi tokok sagu!” ibu selalu mengeluhkan badannya yang sering sakit sepulan tokok sagu di kebun. Jika bekerja tokok ibu selalu ambil bagian di posisi ramas sagu. Sagu yang telah dibelah itu kemudian diparut dan diramas dengan air pada selembar kain tipis mirip saringan pada proses pembuatan tahu. Gerakan meramas menggunakan jari dan jongkok-berdiri adalah manuver paling sering dilakukan ibu. Tak ayal ibu selalu berkata “iiiihh. Sa pu pinggul dan jari ini sakit sampee... pa guru di jawa sana ada kah ramuan untuk hilangkan sa pu sakit ini?” ibu ini ada-ada saja. Kebetulan saya adalah seorang guru bukan seorang mantri. Namun meski tangan ibu dan pinggulnya sakit ibu masih saja rajin memasak untuk saya. Terimaksih ibu. Jika ibu suka curhat kalau badan sakit dengan saya berbeda dengan bapak. Kalau bapak sudah memberikan kode “Pa guru saya sambil rebahan ya...” berarti tandanya tidak lama lagi saat bercakap dengan bapak beliau akan ketiduran disebelah saya karena terlalu lelah bekerja sagu. Jika ibu di posisi ramas, bapak adalah operator sensor untuk membelah sagu, dan operator mesin parut. Keduanya melakukan manuver-manuver yang memang membuat sekuat-kuatnya badan akan merasakan kelelahan.

Belum lama ini disebuah percakapan saat makan malam bapak bercerita kepadaku, “Pa guru, kalau Ipu dan Serlin selesai kuliah, nanti Simon saya usahakan masuk ke sekolah pelayaran di Sorong. Boel kalau bisa biar sekolah hukum, dan Petra biar sekolah kesehatan kalau mau. Kalau Etin nanti terserah dia saja. Biar nanti kalau Ipu dan Serlin selesai bisa bantu-bantu to, jadi tidak terlalu kerja sagu seperti sekarang”. Keduanya sadar kalau bukan kalangan pejabat kampung atau pun pegawai yang mendapat gaji setiap bulannya. Namun keduanya sadar kalau harus 180 derajat memutar otak supaya anak-anaknya nanti bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik melalu pendidikan yang lebih tinggi. Meski beliau sering meninggalkanku pergi tokok sagu pun, tidak lupa beliau berpesan sebelum berangkat“Pa guru kalau Boel dan petra tara dengar-dengaran disekolah , Lipat!” Pak Moses sangat keras kepada anaknya terlebih jika si kecil Boel dan Petra tidak dengar-dengaran di sekolah. Malah beliau pernah berpesan secara pribadi kepadaku jikalau memang anaknya belum layak untuk dinaikkan kelas karena belum tau baca atau sebab lainnya, jangan pernah beri kenaikan karena alasan kasihan.

Sudah dua hari ini bapak dan ibu sibuk mengemas sagu ke dalam tumang. Kabarnya kapal  perintis ke Manokwari akan datang sehingga keduanya sibuk menyelesaikan kurang lebih 30 tumang sagu yang dikerjakan selama 3 minggu lalu. Kata bapak sebenarnya akan menunggu sampai terkumpul 60-70 tumang, namun karena kebutuhan mendesak untuk biaya kuliah Ipu dan Serlin maka sagu yang ada akan dijual dahulu. “Tong pi Manokwari jual sagu, pulang tara bawa uang... Cuma uang seribu saja...hahaha” canda ibu yang sudah tahu kalau uang hasil penjualan sagu langsung akan dibagikan ke anaknya yang memiliki kebutuhan kuliah yang harus dipenuhi.

Kadang kerja keras adalah sebuah notasi lagu, dimana mungkin saat ini not-not itu akan membentuk sebuah yang indah, meski saat ini harus lelah. Liriknya adalah cerita cinta dua orang yang bermimpi perubahan kehidupan keluarga melalui kata yang disebut pendidikan. Semangat bekerja bapak ibu piaraku. Jangan sia-siakan pengorbanan bapak ibumu , Ipu dan Sherlin. Bangga bisa tinggal bersama keluargamu!

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran