Di Ujung Desa Kami Bercerita
Novandi Kusuma Wardana | 01 April 2017

Minggu ketiga di bulan Maret, cuaca cerah dengan pesona langit biru. Ditambah lagi dengan sepoi angin yang menambah syahdunya suasana. Pembelajaran hari ini telah selesai sejak pukul 12.00 siang. Entah mengapa aku hari ini ingin sekali jalan-jalan ke pantai yang ada di ujung desa. nama pantai itu pun aku tak tahu, hanya ingin saja karena beberapa kali melintas saat menggunakan perahu namun belum sempat untuk singgah. Mungkin sedang penat, atau mencari suasana sehingga aku ke pantai. Barangkali juga dengan sedikit merefresh pikiran dan jiwa pembelajaran esok hari lebih bertenaga kembali. Setelah menunaikan shalat dzuhur beberapa barang kumasukkan tas seperti kamera, sajadah, sarung, biskuit dan tidak ketinggalan adalah sebotol air putih.

Supaya suasana tidak terlalu sepi maka kuajak beberapa anak muridku Demi, Leo, Jekson, Cristian, Yoris, Lewi dan dua murid SMP Marcel, Amelius yang juga sering main denganku. Akhirnya kami pun berjalan perlahan menyusuri jalan desa Wooi, kamudian melewati desa Dumani dan akhirnya sampai di kampung terakhir Desa Rembai sebelum akhirnya di ujung jalan kami harus naik ke atas bukit untuk mendapati pantai yang kami tuju. Disepanjang jalan aku tidak banyak bicara, namun kudengar celoteh anak-anak yang menggerutu dan saling berdebat. “Pa guru ajak ke pantai tara baik, kalau di dekat Manuapung boleh .....”, “ ih saya pamalas mandi mandi di pantai, pantai tara baik.....” beberapa yang kudengar jelas, mungkin mereka tidak mengira kalau aku memperhatikan percakapan mereka. Namun aku tidak mau berkomentar apa-apa, cukuplah aku duduk di tepi pantai dan menikmati suasananya tanpa. Sesampainya di ujung bukit kami berjalan menyusuri lereng yang juga adalah kuburan di kampungku. Jalan tidak terlalu curam, maka sedikit kupercepat langkahku. Sampai di sebuah ladang sagu kecil kutolehkan pandanganku kearah sebuah celah semak. “Kau tipu pa guru apa, kau pu pantai bagus apa! Kau bilang tara baik-baik.... baru pa guru liat ini pantai itu bagus sekali. Pa guru di Jawa rumah tara dekat pantai seperti ini!” anak-anak pun meringis geli, dalam hati mungkin tidak sependapat. Karena melihat saya yang sangat kagum dengan pantai yang menurut saya indah, tapi tidak untuk mereka. Langsung saja kami berjalan sampai bertemu dengan pasir putih. Disana aku spontan lari kesana kemari, dan anak-anak pun mengikuti. Sebagian langsung menceburkan diri ke air laut.

Aku mulai sibuk dengan kameraku, sesekali anak-anak pose. “Cekrek” “Cekrek” ku tekan tombol penjepret berulang kali untuk berbagai sudut yang menurutku indah. “Pa guru tong poto. Tong poto ....”. ketika anak-anak sibuk bermain akhirnya aku lelah dengan kesibukanku sendiri. Sampai aku menemukan sebuah pohon yang rubuh kemudian kujadikan tempatku bersandar. Aku banyak terdiam dalam pikiranku, mencoba merangkai kolase memori 10 bulan perjalanan ini. Tidak sadar memang masih ada 2 bulan lagi. Aku memandangi anak-anak yang sibuk saling main di pantai sampai akhirnya perhatianku tersita kepada Jekson yang sudah ada disampingku, “Pa guru, ada kelapa muda. Pa guru makan.” Sebuah kelapa muda cukup besar diberikan anak-anak kepadaku. Kata mereka itu dari kebun milik keluarga, sebelum saya menikmatinya saya masih bertanya “Kelapa siapa pu? Tara curi to?” mereka menjawab “Tara ada pa guru, sa bapak tua pu!”. Akhirnya Amelius yang sibuk mandi-mandi kupanggil  “Ame, kau buka untuk pa guru kah”. Kelapa pun terbuka, saya santap dengan anak lainnya sambil berteduh dibawah pohon yang rindang. What a beautifull place!”

Tidak tahu kenapa tiba-tiba aku memanggil anak-anak semua. Semuanya ku ajak berjalan ke sudut pantai yang berbeda. Ketika menemukan sebuah tempat yang cukup rindang kemudian kupersilakan anak-anak untuk duduk. Kemudian mengalir begitu saja seperti ombak disiang itu yang cukup tenang aku mulai menggambar sebuah peta Indonesia. Kumulai dari pulau Sumatera dan sampai di Papua. Aku mulai bercerita tentang kampung halamanku. Tentang sebuah kota kecil di dekat gunung, yang dulu ketika pagi hari sering kali kabut menyelimuti jalanan namun sekarang terasa makin panas. Sungai-sungai yang mulai kotor dengan pencemaran dan orang-orang yang saling bersaing untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Semua anak melamun sampai Lewi bertanya “Kalau ini Jakarta pak guru, Jakarta juga di Jawa kah?” anak-anak mungkin salah mengartikan Jakarta dan Jawa berada di tempat yang terpisah. Lalu ku jelaskan perlahan tentang keduanya. Anak-anak sering tersihir dengan mantra yang bernama “Jawa”. Anak-anak tahu segala sesuatu tentang istilah Jawa apa yang mereka lihat dari TV saat genset beberapa orang desa yang memiliki fasilitas TV menyala, dari gambar ketika mereka ikut keluarga ke Serui, atau kota lainnya juga dari cerita burung yang bertebaran di desa. Justru saat pembelajaran di kelas aku sebisa mungkin mengurangi dan meminimalisir sesi cerita tentang Jawa dimana anak-anak sering sekali menanyakan. Aku sebagai wali kelas 6 kadang mengajak mencari apa yang ada di sekitar tempat tinggal mereka di salah satu sudut Papua ini, tentang yang bisa di export keluar negeri.”Kira-kira di luar negeri orang makan sagu kah tidak?” anak-anak menjawab “tara ada pa guru, tong saja anak Papua makan!”lalu kulanjutkan “Kenapa kalian tidak berpikir caranya supaya orang diluar sana bisa merasakan sagu!” Atau pernah suatu malam aku antar Demi dan Lewi untuk meminjam internet di SMP untuk kuperlihatkan berbagai bentuk perahu di belahan bumi lain, seperti di daerah Indonesia, dan di Venesia. Perahu adalah moda kebanggan mereka, tak ayal mereka sering membandingkan perahu buatan satu orang di desa dengan perahu buatan orang lain.

Hingga akhirnya siang itu di pantai yang katanya biasa aku bercerita tentang alam disekitar tempatku tinggal saat ini, desa anak-anak disbesarkan. Alam yang aku selalu kagum setiap melihat tempat baru yang belum pernah ku lihat. Air Terjun Kapurepi, Kali Wooi, Pantai Isyara, sampai pantai di ujung desa ini “Papirkap”, yang menurut mereka biasa. Tidak pernah jemu kusampaikan baik waktu diluar sekolah atau saat pembelajaran di kelas, “Nanti bilang mama e jang ambil karang buat jadi kapur. Kam bilang nanti tara ada ikan.”,”Jangan buang sampah dibawah kolong rumah ya!”,”jangan tebang pohon lagi, nanti habis! Tara da pohon kam nafas oksigen dari mana?pakai kompresor molo kah?” anak-anakpun tertawa. Banyak hal yang dilihat anak murid sebagai sesuatu yang biasa, tapi untuk ku itu adalah luar biasa. Mungkin juga pelajaran buatku juga mungkin sering melihat sesuatu di luar sana di kampung halamanku jauh disana sebagai sesuatu yang biasa namun akan begitu luar biasa dimata anak-anak ku. Ini mungkin soal prespektif. Namun 10 bulan ini aku sadar bahwa menjadi sebuah syukur ketika melihat sebuah hal sebagai sesuatu yang unik, memiliki nilai. Ketika kita merasa biasa akan apa yang kita lihat didepan kita mungkin itu adalah sinyal bahwa kita sudah berbaring pada selimut yang disebut zona nyaman. Bisa saja kita memilih tetap dikampung halaman, seperti anak-anak yang kemudian mereka sadar bahawa terumbu karang harus dijaga. Menjaga agar ikan-ikan tetap hidup lestari sehingga dapat terus dipanin, air laut bersih tidak berisi tumpukan sampah yang kita buang di kolong rumah. Kita harus melawan sesuatu yang biasa supaya kelak menjadi luar biasa. Mata ini perlu dibuka ulang supaya memperhatikan setiap sudut di sekitar kita, bukan menyempitkan pandangan untuk hal-hal pribadi kita saja. Bukan hanya anak-anak desa, namun saya juga.  Karena Kam pu alam ini luar biasa, kam jaga sudah! Kam jaga sampe kam besar nanti. Tong pu hidup bukan cuma hari ini, tapi tong pu adek dan anak-anak nanti juga pu hak rasa kitong pu alam. 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran