Agu
03

Teluk Rhu, 6 Februari 2011

Teluk rhu heboh! Ya, betul, warga teluk Rhu sibuk mempersiapkan peringatan upacara Mandi Safar yang akan dilaksanakan sepanjang pantai pasir putih Teluk Rhu hingga Tanjung Lapin, pantai pasir putih sepanjang 14 km di Rupat Utara ini. Ritual Mandi Safar sendiri dirayakan tiap tahunnya setiap memasuki bulan Safar sesuai dengan kalender Arab.

Mandi Safar (atau kalau orang sini menyebutnya ‘Sapo’ dengan aksen melayu yang sangat kental) adalah sebuah upacara ritual pembersihan yang dipercaya dapat menolak bala. Safar artinya ‘kosong’. Alkisah, kata Safar sendiri digunakan karena dalam bulan-bulan tersebut orang Arab sering meninggalkan rumah mereka menjadi kosong untuk melakukan serangan saat masa peperangan dulu. Berdasarkan kepercayaan turun temurun dalam adat melayu, bulan Safar merupakan turunnya bala bencana dan mala petaka, khususnya pada hari Rabu minggu terakhir. Oleh karena itu setiap tahunnya orang melayu melakukan ritual menolak bala bencana dan mala petaka pada Rabu minggu terakhir dan disebut dengan ritual Mandi Safar. Apabila bulan Safar tiba, umat Islam yang kental dengan adat melayu, terutama yang hidup di pesisir pantai akan mengadakan upacara mandi beramai-ramai untuk menolak bala dan mensucikan diri menghapus dosa.

Kebiasaan tersebut juga dilakukan oleh warga di Rupat Utara ini. Karena kentalnya adat melayu di daerah ini,  tiap tahunnya diadakannya lah perayaan Mandi Safar. Tahun ini, ritual Mandi Safar juga dimeriahkan dengan ramainya pertandingan-pertandingan yang melibatkan masyarakat di kecamatan Rupat Utara, mulai dari warga yang tinggal di Tanjung Medang, Teluk Rhu, Tanjung Punak, Pasir Putih, dan Kadur.

Saya dan Pipit, pengajar muda di Teluk Rhu dan Kadur ikut serta membantu kegiatan ini dengan berpartisipasi menjadi panitia perlombaan jalan santai bersih pantai yang akan diadakan sepanjang pantai Teluk Rhu hingga Pantai Tanjung Punak. Banyak anak-anak murid SD 03 saya turut berpartisipasi. Mereka berkelompok sebanyak 7 orang tiap timnya dan dengan berbekalkan karung goni siap untuk membersihkan pantai Teluk Rhu dari berbagai macam sampah plastik, botol, dan gabus strofoam yang terbawa ombak dari laut.

 Rute lomba jalan santai bersih pantai ini dimulai di dua titik, di ujung Tanjung jaya dan di ujung Tanjung Punak, dengan garis finish berada di tengah-tengah pasir putih yang memanjang sepanjang 8 km. Saya bersiap di Tanjung Jaya, membantu mengawasi start di desa penempatan saya, di Teluk Rhu, sedangkan kawan PM saya Pipit berjaga di Tanjung Punak.  Di Tanjung jaya sendiri sudah ramai dengan para peserta yang kebanyakan adalah anak-anak SD saya, serta anak  SMA, dan para peserta lainnya. Dengan teriakan “MULAAAII” oleh Pak Senin, sang guru olah raga, dimulailah lomba bersih santai Safar ini.

Anak-anak dengan sangat bersemangat langsung menyambar sampah-sampah yang bergeletakan dan tersebar di pasir. Mulai dari bermacam-macam plastik hingga gabus sterofoam yang berasal dari malaysia dan terbawa ombak hingga sampai di pasir teluk Rhu. Semuanya menggendong plastik karung beras yang disumpal berbagai macam sampah-sampah yang mereka pungut. Awalnya saya mengawasi  lomba dengan naik honda (motor) dibonceng Pak Senin, tapi ditengah-tengah saya memutuskan untuk turun dan bergabung bersama anak-anak sambil jalan di pantai pasir putih rupat utara. Karena jaraknya yang memang sangat jauh, berkali-kali anak-anak berteriak “Penaat lah buu penaaat!!” sedangkan saya? Saya juga mulai ngos-ngosan dan keringat bercucuran dengan derasnya! Haha, tapi agar tetap bersemangat dan untuk mengurangi rasa lelah, kami sama-sama bernyanyi-nyanyi sambil menyisiri pantai pasir putih teluk rhu!

Setelah hampir dua setengah jam jam berjalan kaki, sampailah kami di garis finish. Anak-anak langsung menimbang berapa berat sampah yang mereka kumpulkan. Tiap kelompok bisa mencapai sepuluh kilogram sampah! Bayangkan ada lebih dari 80an kelompok, hampir 800 kilogram sampah dikumpulkan hari itu sepanjang pasir rupat utara ini! Akhirnya lomba jalan santai bersih pantai pun diakhiri dengan penimbangan dan pengumuman pemenang yang berhasil mengumpulkan sampah sampai hampir seratus kilogram!

Hari Kedua acara peringatan Safar adalah upacara Mandi Safar itu sendiri. Berbagai tokoh dari kecamatan rupat utara, bahkan perwakilan dinas pariwisata dari bengkalis pun turut hadir memeriahkan. Nah, di hari kedua ini kami para pengajar muda rupat utara kedatangan tamu dari trans7, yaitu Mbak Nunung dan Mas Risa yang meliput acara mandi safar ini. Pada hari kedua acara dimeriahkan dengan tarian-tarian daerah persembahan SMA di rupat utara, dan prosesi ritual mandi safar, serta lomba memancing yang menarik banyak peserta dengan berbagai hadiah-hadiah menarik. Seharian bersama pengajarmuda Rupat Utara lainnya, Agus, Wildan, dan Pipit, serta Mbak Nunung dan Mas Risa, dan tak lupa juga fasilitator kabupaten Bengkalis, Mas Dasuki, kami berkeliaran di pantai sepanjang Desa Teluk Rhu hingga Desa Tanjung Punak. Panasnya Pulau Rupat mengakibatkan kulit kami gosong kemerahan, tapi sungguh seru rasanya! Apalagi bagian bahwa kami tidak punya alat transportasi dan berjalan kaki berkilo-kilo meter bersama dibawah terik matahari luar biasa Rupat :D

Berhubung keesokannya adalah hari Raya Imlek, dan sekolah libur, petang hari kami pun bersama-sama berangkat menuju Desanya Wildan dan Agus, ke Titi Akar. Dengan pompong sewaan kami dimanjakan dengan matahari tenggelam dan ribuan bintang dilangit malam selama 1 jam lebih perjalanan di laut dari Tanjung Medang sampai ke Titi Akar. Merasa kecil, sungguh, ditatap ribuan bintang di atas nun jauh disana.. Bintang, laut, malam kelam, dan teman-teman terbaik, momen yang tidak akan saya lupakan sampai tua nanti!

Di Titi Akar kami semua menginap di rumah Wildan, dengan Mamak dan Bapaknya Wildan. Dua hari di Titi Akar juga sungguh menyenangkan. Bermain kembang api di tengah pekat malamnya Titi Akar, ikut ke ladang bersama Mamak dan Bapak, memanen padi di ladang Mamak, memperhatikan  bagaimana profesi reporter dan kameramen tv bekerja, mengobrol ngalor ngidul di kedai miso Titi Ako, asik mengenal dan bertukar cerita dengan Mbak Nunung, dengan Mas Risa, dan juga Mas Dasuki, aah, menyenangkan! Sungguh liburan kecil di tengah minggu yang merecharge tenaga dan semangat J Akhirnya setelah dua malam di Titi Akar, saya pun diantar ke pelabuhan, menumpang speed menuju pelabuhan Tanjung Medang, dan kembali ke desa saya, kembali ke Teluk Rhu.

Sedikit untuk berbagi. ini dia foto anak-anak murid saya saat sedang lomba membersihkan pantai rupat utara :D

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!