Indahnya Toleransi dari Pulau Paling Selatan Indonesia
Muhammadfirdaus Ismail | 22 July 2015

“Perbedaan bukanlah suatu hal yang salah, justru perbedaan harus dihargai dan dimengerti sebagai kekayaan.Biarpun kita berbeda, namun tetap bersaudara.”

Sebulan sudah saya menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar di Pulau Rote. Pulau paling selatan  Indonesia yang mayoritas masyarakatnya beragama kristen protestan. Pengalaman pertama saya menjadi minoritas, karena saya satu-satunya warga muslim di keluarga saya, bahkan di desa saya, Desa Oelasin, Kecamatan Rote Barat Daya. Namun, menjadi minoritas tak lantas menjadi warga yang terlupakan, lebih dari itu saya malah menjadi orang yang paling diperhatikan dan merasa dihormati di desa ini karena perbedaan agama itu. Banyak cerita unik yang mengajarkan kita tentang betapa indahnya toleransi di desa penempatan saya.

Saat itu, saya sedang menunaikan ibadah sholat dzuhur di rumah. Kedua adik saya yang kecil, Ical (tiga tahun) dan Aldi (dua tahun) seperti biasa masuk ke kamar dan memanggil saya untuk mengajak bermain, “Pak edo, pak edo, ayok main bola,” Pak edo, ayo main bola” ajak ical dan aldi berulang kali. Karena sedang sholat, saya pun tak membalas panggilannya. Kedua adik saya kemudian keluar kamar bertanya kepada bapak saya, “pak, itu kenapa pak edo dipanggil tidak jawab?’, tanya ical. “ iya pak, itu pak edo juga aneh posisinya, sedang apa itu pak?” tambah aldi. Mereka merasa aneh, karena baru pertama kali ini melihat orang sholat. Bapak saya lantas sedikit marah dan mengatakan ke adik saya bahwa saya sedang sembahyang dan jangan diganggu. Semenjak kejadian itu, ketika kedua adik saya masuk kamar dan melihat saya sedang sholat, mereka langsung keluar dan setelah saya selesai sholat mereka langsung meminta maaf karena sudah menggangu. Adik saya yang baru berusia dua dan tiga tahun pun sudah tahu bagaimana menghargai orang lain yang beda agama ketika sedang ibadah.  Terimakasih keluarga baruku.

Saat itu, kami ada lomba siswa antar sekolah di salah satu sekolah dasar yang masih satu gugus dengan SD tempat saya mengajar, SD Tefilla namanya. Saya pun menjadi satu-satunya guru muslim di satu gugus kami. Ketika saya sedang asyik mengikuti kegiatan lomba, ada salah satu guru SD Tefilla yang mengingatkan, “Pak Edo, ini sudah jam 12, Bapak tidak sembahyang kah?” Tanya Pak Petrus. “Wah,iya pak terimakasih banyak pak sudah mengingatkan,” Jawab saya. “Ada tempat yang bisa saya gunakan untuk sembahyang pak?” tanya saya. “Bisa kami siapkan pak”, jawab Pak Petrus. Pak Petrus pun lantas menyiapkan salah satu tempat di kantor guru. Saya melihat Pak Petrus menyapu dan mengepel ruangan tersebut khusus untuk saya ibadah. Setelah semua bersih, Pak Petrus mempersilahkan saya untuk ibadah, kemudian saya bertanya, “Kalau kamar mandi di mana pak?”. “Wah, mohon maaf pak, di sini kamar mandinya tidak ada air, bapak butuh air untuk ibadah?” Tanya Pak Petrus. Lantas Pak Petrus meminta salah satu orang tua murid untuk mengambilkan air untuk saya. Air bisa saya dapat untuk wudhu setelah salah satu orang tua murid mencarikannya dengan menimba air yang jaraknya lebih dari 50 meter dari sekolah. Saya pun bisa ibadah sholat atas bantuan yang luar biasa dari mereka, padahal mereka bukan seagama. Terimakasih  bapak.

Di masyarakat, saya seperti dianak emaskan. Masyarakat Desa Oelasin merupakan masyarakat dengan budaya pesta. Dan di setiap pesta mereka biasanya menyembelih hewan untuk hidangan. Pada awalnya mereka belum tahu, kalau muslim tidak bisa memakan sembelihan hewan dari yang bukan seagama, saya pun menolak makanan sembelihan dengan menjelaskan alasannya. Semenjak kejadian itu, setiap ada acara dengan penyembelihan hewan, masyarakat desa saya selalu meminta saya untuk menyembelih, dan ketika pesta, makanan untuk saya selalu disendirikan dan alat masaknya pun dibedakan. Padahal saya hanya sendiri di desa ini. Tak heran, dalam sebulan ini, saya telah menyembelih 25 ekor ayam, dua ekor kambing dan satu ekor sapi. Pengalaman menyembelih hewan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Kemampuan saya dalam menyembelih hewan pun semakin terlatih.

Cerita unik lainnya adalah ketika kita Tim Pengajar Muda X Rote Ndao akan mencari kontrakan baru di kota. Ada salah satu pemuda asli Rote, Kak Sepri namanya yang beragama protestan menawarkan kontrakan baru untuk kami.  “Saya ada kenalan kak yang mengontrakkan rumahnya, dekat dengan masjid jadi akan sangat mempermudah kakak-kakak semua kalau mau ibadah,” kata kak Sepri kepada kami. Saya langsung merinding mendengar pernyataan terebut. Mereka sangat perhatian dengan kami dan ibadah kami. Sampai ketika mereka mencarikan kontrakan buat kami, mereka mencarikan kontrakan dengan salah satu pertimbangan utamanya dekat dengan masjid.

Terimakasih banyak untuk kalian semua, kami banyak belajar tentang indahnya toleransi beragama. Meskipun kita berbeda, tetapi kita tetap bersaudara. Dan perbedaan agama bukan menjadi alasan untuk kita secara bersama-sama berbuat untuk pendidikan Indonesia. Semoga toleransi yang sangat indah di pulau ini, juga diikuti di tempat lain di bumi pertiwi kita, Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika.  

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran