Des
11

Sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di desa sekodi, dalam keyakinan saya bahwa setiap anak didik saya nanti adalah calon – calon juara yang kelak akan menggantikan juara – juara sebelumnya. Ketika pertama kali mengajar di sekolah, saya pun dihadapkan pada berbagai masalah – masalah yang ada di dalam sekolah tersebut, seperti kurangya guru yang hadir, metode pembelajaran yang masih menggunakan cara konvensional, tidak ada satupun kegiatan ekstrakulikuler yang ada disekolah ini. Dari beberapa permasalahan tersebut, efek yang ditimbulkannya sangat serius, seperti permasalahan kurangnya guru yang hadir, dalam seminggu hanya 1 – 3 orang saja yang datang, itupun hanya guru – guru honorer yang rumahnya dekat dengan sekolah, namun saya bisa memaklumi guru – guru lain yang jarang hadir karena jarak antara rumah mereka kesekolah sangatlah jauh yaitu sekitar 60 km dengan kondisi jalan yang rusak, ketika hujan dijalanan bakal timbul danau, dan ketika panas maka perkebunan besi pun timbul dijalanan. Untuk saat ini, masalah kurangnya guru yang hadir masih bisa saya atasi dengan menggunakan metode pembelajaran 6 kelas sekaligus.

Untuk permasalahan metode pembelajaran yang masih menggunakan cara konvensional, efek yang ditimbulkannya membuat anak – anak tidak berani untuk tampil kedepan, baik dalam mengerjakan soal ataupun bertanya kepada gurunya. Anak – anak disini cenderung takut terhadap guru sehingga hal tersebut membuat sisi kreatifitas mereka terpendam karena stimulus yang diberikan guru tidak tepat. Namun masalah itu pun masih bisa saya atasi dengan metode pembelajarn yang kreatif, inovatif dan menyenangkan, sehingga anak didik saya sering mengatakan “pak, masuk kelas saya saja ya” begitulah perkataan polos dari anak – anak yang haus akan belajar. Permasalahan lainnya adalah tidak ada satupun kegiatan ekstrakulikuler yang ada disekolah ini, sehingga kegiatan anak – anak pun hanya sebatas jam sekolah saja, setelah itu kebanyakan dari mereka membantu orang tua bekerja seperti menyadap keret ataupun melaut bersama orang tuanya. Untuk permasalahan ini, alhamdulillah solusinya sudah saya temukan dan kegiatannya pun sudah berjalan pada minggu kedua sejak kedatangan saya disekolah ini. Kegiatan ektrakulikuler yang saya inisiasi pun mendapat tanggapan yang sangat luar biasa dari anak – anak, seperti kegiatan ekstrakulikuler pramuka yang diikuti hampir semua siswa disekolah ini, kegiatan ekstrakurikuler mading, kegiatan ekstrakurikuler pojok sains, dan beberapa kegiatan lain seperti belajar bersama setiap sore hari, pengajian yang dilaksanakan setelah magrib yang setelahnya saya selalu memberikan les tambahan untuk membuat anak – anak selalu ingat dengan pelajarannya.

Awal kedatangan saya disini, tak ada yang namanya perpustakaan, tak ada yang namanya unit kesehatan sekolah (UKS), namun disekolah kami ada sebuah gudang kosong yang sudah lama tidak terpakai maka gudang ini pun kami jadikan perpustakaan dan UKS, dimana didalam perpustakaan tersebut kegiatan ekstrakurikuler seperti mading dan pojok sains pun dilaksanakan didalamnya. Kegiatan belajar bersama disore hari pun kami laksanakan di dalam perpustakaan, karena selain tersedianya buku – buku pelajaran, kami pun bisa berkreasi dengan bahan – bahan yang sudahtidak digunakan didalam gudang yang telah kami jadikan perpustakaan. Jangan membayangkan jika perpustakaan kami lengkap dengan berbagai macam buku seperti halnya perpustakaan sekolah lain, didalam perpustakaan kami hanya ada buku – buku yang saya bawa dari jakarta dan pemberian pengajar muda sebelumnya, mudah – mudahan dalam waktu dekat ini gerakan indonesia menyala bisa memberikan kami buku – buku untuk mengisi perpustakaan kami.

Tidak adanya jaringan listrik, tidak adanya jaringan seluler, akses jalan yang rusak, kurangnya guru yang datang kesekolah, dan berbagai permasalahan – permasalahan lainnya tidak akan pernah menyurutkan semangat anak – anak ini untuk tetap terus belajar, saya pun yakin dibalik semua kekurangan dan banyaknya permasalahan yang ada ditempat kami pasti masih ada mutiara – mutiara yang belum ditemukan, melihat semangat mereka belajar dimana semenjak kedatangan saya disekolah ini frekuensi kehadiran siswa melonjak naik, mereka butuh stimulus yang tepat sehingga bisa menjadi mutiara – mutiara yang selama ini terpendam didalam lautan sistem pendidikan yang kurang baik. 

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!