Menggariskan Takdir-Nya
Mohamad Nurreza Rachman | 04 July 2016

 

“You can't connect the dots looking forward you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future” -. Steve Jobs.

 

Sebuah kutipan yang pertama kaliku dengar saat Kakak Perempuanku (Cici) memberikan review atas essay aplikasi pendaftaranku untuk ikut program Indonesia Mengajar. Saat itu mungkin bisa dikatakan sebagai momen pertamaku diminta untuk membuat cerita pengalaman hidup. Sulit sekali rasanya untuk dapat membuatnya karena kebiasaanku yang malas menulis. Pusing dan Stuck rasanya ketika ingin menuliskan kata pertamanya saja. Namun ada sebuah hidayah muncul ketika Ciciku menyampaikan kutipan tersebut dan mengatakan Aku perlu mencari waktu tenang untuk mengingat dan merefleksikan setiap momen-momen kehidupan yang Aku telah jalani selama ini. Hingga pada akhirnya Aku mulai paham makna dari kutipan tersebut dan Alhamdulillah essayku menjadi salah satu yang lolos dari 14.846 essay pendaftar Pengajar Muda angkatan XII yang dibuka saat itu.

 

Momen itu seketika terpanggil kembali saat ini, ketika beberapa hari Aku tinggal di dusun penempatakanku, di Dusun Rumkuda, Kecamatan Jerusu, Pulau Romang, Maluku Barat Daya, Maluku. Pulau Romang, sebuah pulau yang memiliki kekayaan alam yang luar biasa, dari bidang perkebunan, pertanian, perikanan hingga pertambangan. Yaa pertambangan, sebuah hal yang rasanya tidak bisa dilepaskan dari hidupku karena pernah bekerja di sebuah BUMN yang bergerak di bidang tersebut selama hampir 3 tahun. Dari informasi yang Aku dapatkan dari interaksi dengan masyarakat dan riset awal yang Aku lakukan di pulau ini terkandung cadangan emas yang besar. Saat ini terdapat sebuah perusahaan swasta yang dimiliki oleh sebuah perusahaan tambang ternama dari Australia yang melakukan eksplorasi di Pulau ini. Namun seperti pada umumnya hampir di semua wilayah perusahaan tambang beroperasi, selalu terdapat polemik yang terjadi antara perusahaan dan masyarakat yang hidup disekitarnya. Sama halnya dengan disini, masyarakat tidak bisa menerima keberadaan Perusahaan dengan berbagai macam alasan, mulai dari isu pulau akan tenggelam, kerusakan ekosistem yang terjadi hingga masalah KKN.

 

Sejenak Aku teringat pesan dari atasanku saat dulu bekerja dulu mas Koko Susetio, beliau memintaku untuk terus dapat menyebarkan semangat positif dalam memberdayakan masyarakat (CSR) khususnya tentang paradigma bisnis pertambangan dengan konsep “Sharing Value” yang beliau ajarkan padaku. Karena banyak sekali masyarakat khususnya ditempat-tempat pelosok seperti Aku ditempatkan yang masih memiliki pemikiran terbatas dengan menganggap bisnis ini hanya sekedar merusak lingkungan dan tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. Boom, pernyataan seperti ini yang ternyata benar aku temui dengan jelas disini. Bahkan Aku langsung teringat betul sebuah analogi pulau kecil dengan potensi sumber dayanya yang melimpah yang terdapat di cover depan presentasi beliau saat menjelaskan ini kepadaku dan teman-teman sat itu dan saat ini Aku hidup dan tinggal diatasnya! Apa mungkin ini yang disebut dengan kebetulan?

 

Disatu sisi sering Aku merasa malu ketika mengingat momen-momen dimana Aku berkeluh kesah dan selalu mempertanyakan kepada Allah kenapa Aku bisa melalui hidup pada beberapa kejadian yang biasa kita anggap juga sebagai hal yang kebetulan tapi dalam konotasi yang mengecewakan, contohnya hal yang sama pada awalnya kenapa aku ditempatkan  disini, di sebuah pulau yang jauh dari keluarga dan teman-teman, akses transportasi yang sangat sulit, komunikasi yang terbatas, hingga risiko terkena penyakit endemik yang tinggi. Bahkan Aku pernah berada pada titik mempertanyakan mengapa takdir ini tidak sejalan dengan doa-doa yang disampaikan oleh Kedua Orangtuaku agar Aku tidak ditempatkan disini, bukankah katanya restu orang tua adalah restu Allah? mengapa saat itu kedua hal tersebut tidak berjalan beriringan? Semakin dicari jawabannya semakin Aku dibuat frustasi menjalani hidup ini.

 

Hingga seiiring berjalannya waktu, setiap kejadian dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu dapat terjawab dengan sendirinya, karena kenyataannya semua dalam hidup ini tidak pernah ada yang kebetulan, semua sudah ditakdirkan. Jadi jangan terlalu cepat memvonis setiap kejadian karena Allah punya rencana dan maksud untuk kenapa kita perlu melaluinya. Otak kita rasanya tidak sanggup untuk dapat melogikakan takdir yang Allah berikan kepada kita karena oleh-Nya kita memang hanya diminta untuk terus berikhitar dengan berbuat terbaik pada setiap momen yang dilalui. Seperti halnya yang diriku alami disini, dengan segala prasangka negatif atas takdir yang aku bayangkan akan alami disini ternyata saat ini aku bersyukur, bahagia dan baik-baik saja di setiap keterbatasan yang ada. Terbatas? Ahh ternyata penggunaan kata keterbatasan sepertinya perlu dievaluasi lagi, karena kata itu hanya dibentuk oleh pola pikir masing-masing manusia yang sebenarnya yang terbatas. Sepertinya keterbatasan itu hanya Aku yang merasakan tidak dengan masyarakat yang tinggal disini, mereka bisa selalu bahagia dan dapat menjalankan hidupnya dengan baik. Lalu kalo mereka bisa begitu disini kenapa aku tidak, bukan?

 

Pengalaman hidup ini juga yang seolah membenarkan beberapa teori yang ada seperti teori sinkronitas yang disampaikan oleh Koko Susetio setelah mendengar segala macam cerita yang awalnya aku anggap “kebetulan, kebetulan” ini, bahwa “Dalam level quantum, semua yang ada di dunia ini memang terhubung karena pada level itu kita semua adalah energy yang terkait satu sama lain. Tidak ada lagi jarak dan waktu karena energy adalah materi dasar pembentuk segala sesuatu dan melingkup segala sesuatu”. Selain itu dalam teory law of attraction juga benar karena apa yang setiap manusia pikirkan akan membawa kita sampai kepada tujuan yang kita inginkan. Thank you Mas, lo udah banyak membuat gue terseret dalam takdir ini ketika lo meminta gue untuk terus membawa semangat CSR dalam pengbadian gue satu tahun ini ^^

 

Dengan segala peran dan tugasku sebagai Pengajar Muda Tahun Pertama mungkin aku akan banyak mendengarkan dan melihat hal yang sebenarnya terjadi tanpa perlu memvonis siapa/apa yang benar dan salah, karena kapasitasku bukan itu, melainkan hanya sebagai guru SD dan penggerak yang perlu menemukan para aktor yang ingin melakukan perubahan dan mendorongnya untuk bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapi disini. Tapi kembali lagi semua itu dapat terjadi atas segala takdir-Nya, aku hanya berjanji akan terus bekerja untuk memberikan yang terbaik.

 

Yaa disini Aku jadi semakin paham bila setiap kejadian dalam hidup ini adalah seperti garis yang menghubungkan dari suatu titik ke titik yang lain dan titik itu adalah setiap takdir yang dimaksud. Dan kelak Allah akan menunjukanmu tujuan dari setiap titik-titik yang sudah Kita lewati tersebut....

 

 

 

Ps. Makasih juga buat Annisa Dwi Astuti yang selalu menyemangati gue untuk menulis dan merasakan hal yang sama dengan cerita seperti ini versi dirinya, karena dua hal itu cerita ini bisa ada tut :’)

 

Foto: Senja disuatu hari di Dusun Rumkuda

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran