Two Philippines dan Dua Harapan
Mohamad Arif Luthfi | 02 October 2011

 

Tepat di depan masjid besar Ar-Rahmah Lipang, sekitar seratus meter dari serambi masjid, sore itu aku mendapati dua orang asing yang tak kukenal. Mereka berdua tepat berada diatas bahu jalan dibawah rindang pohon nangka. Yang satu berkaos oblong warna hitam, yang satu berkaos oblong warna putih lengkap dengan topi beridentitaskan negara Ghana. Keduanya mengenakan celana pendek bercorak kotak-kotak kusam.

Agaknya sore itu, sepintas, mereka tampak seperti melepas penat. Panas seharian yang cukup terik membuat keduanya sesekali mengusap wajahnya dengan lengan kaosnya. Mereka saling berbincang. Sementara aku yang sore itu baru saja keluar dari masjid, masih saja menyimpan rasa penasaran akan keingintahuanku atas dua orang asing ini. Aku melangkah ke arah keduanya.

Tidak seperti biasanya, meski aku baru sekitar dua bulan berstatus sebagai pendatang baru, tapi aku sudah cukup akrab dan mengenali hampir seluruh penduduk pulau kecil ini, Lipang. Biasanya para penduduk pulau ini jika bertemu denganku, baik kecil ataupun dewasa, mereka dengan langsung menegurku atau dengan melambaikan tangannya. Tetapi sore ini beda. 

“Selamat sore!” Sapa orang asing berkaos hitam itu tiba-tiba mengejutkanku. 

Aku sangat takjub dibuatnya. Orang asing berkaos hitam itu melempar senyumnya padaku. Pada telinga kirinya, ia mengenakan anting unik berwarna hitam. Pada pergelangan tangan kanannya tampak gelang karet melilitnya.

“Ssst.. selamat sore.” Tukasku terbata padanya.

Mereka berdua lagi-lagi hanya melempar senyum sumringahnya. Kedua kakiku terhenti tepat didepan keduanya. Yang berkaos putih tampak malu sambil sesekali menundukkan kepalanya dan menyembunyikan wajahnya dibalik topi yang ia kenakan. Sementara, yang berkaos hitam masih menatapku akrab.

“Maaf, apakah Anda berdua ini orang asli Lipang?” Tanyaku.

Tiada jawab yang keluar dari bibirnya. Keduanya justru saling melempar perbincangan. Suaranya pelan. Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Aku hanya bisa memahami gerak-gerik non verbalnya. Keduanya saling beradu sikut. Sesekali bahu tubuhnya juga saling diadu. Lalau aku berusaha semakin mendekat pada keduanya dan aku agak membungkuk seraya mengulang tanyaku;

“Maaf, apakah Anda berdua ini orang asli Lipang?” Ulangku sambil mengeja kalimat dengan sangat pelan.

“Lipang.” Jawab orang berkaos hitam itu sambil menunjukkan wajah bingungnya.

Aku semakin tidak mengerti. Jangan-jangan masih ada orang asli Lipang yang tidak mengerti bahasa Indonesia meski dieja dengan sangat pelan dan jelas. Keduanya terlihat kebingungan. Kedua matanya tampak mengumbar lirik. Butir-butir keringat pada dahi keduanya semakin menjadi. Mereka terlihat gugup. Aku khawatir, keduanya memang benar-benar tidak mengerti bahasa Indonesia sama sekali.

“Bisa bicara Bahasa Indonesia?” Tanyaku singkat.

“Bahasa Indonesia, no.”

Tiba-tiba kedua mataku terbelalak. Aku berhasil menemukan satu signal yaitu kata “no”. Dalam batinku semakin kuat, they aren’t Indonesian.  Lalu aku menerka-nerka, kedua orang ini kemungkinan adalah warga asli Filipina. Sebab seringkali, orang-orang Filipina menyelundup masuk di wilayah perairan RI, hampir setiap hari, menggunakan Pusu dan seringkali singgah di pulau kecil ini, Lipang.

“Are you Philippines?” Tegurku.

“Yes, we are Philipines.”

Aku mematung. Berarti saat kali pertama aku bertanya kepada keduanya, “Maaf, apakah Anda berdua ini orang asli Lipang?”, lalu keduanya berbincang, seraya mengadu sikut, dengan bahasa yang tidak aku kenali, keduanya pasti menggunakan bahasa Filipina, Tagaloh.

“Do you speak English?” Tanyaku.

“Yes, I am.” Sahut orang berkaos hitam.

“Okey, my name is Luthfi. What is your name?”

“My name is Niki Boy.” Sahut orang yang berkaos hitam. “Just call me, Boy. If bahasa Indonesia, boy means laki-laki, isn’t it?” Terocosnya sambil tersenyum.

“And how about you?” Pandanganku mengarah pada orang yang berkaos putih.

“I’m, Nono.”

“How long have you been stay in Lipang?”

“We’ve several days here.”

“So, as long as you are here, in what way you are take a rest?”

“We always move. Sometimes we are in the beach, in the garden and sometimes also we are in a small place which is near beach that built from wood.”

“How about if you are eating?”

“We bring rice. And we look for fish here for our need.”

Pikiranku mulai melayang. Aku teringat dengan sepuluh Pusu ‘gelap’ orang Filipina yang beberapa hari ini menjadi target manufer TNI angkatan laut dan semuanya tertangkap. Orang-orang Filipina itu semua ditahan. Tapi setelah penahanan untuk diminta keterangan dan check kelengkapan dokumen, orang-orang itu dilepas dan seluruh Pusu ditahan.

Kesepuluh Pusu itu digiring oleh tentara angkatan laut dibawa menuju pulau Kawio, beberapa mil dari pulau Lipang, untuk diproses lebih lanjut. Aku sempat mendengar dari cerita yang berkembang pada masyarakat Lipang baru-baru ini, untuk proses hukum dan denda yang dijatuhkan, satu Pusu dikenakan denda berkisar kurang lebih dua puluh juta rupiah.

Hukum fisikpun tetap berjalan bagi warga Filipina yang melanggar batas perairan nusantara. Jarak beberapa mil dari dermaga kapal di pulau Kawio, semua orang Filipina yang tertangkap itu diminta oleh TNI AL untuk terjun ke laut dan berenang menuju pulau Kawio.

“Have you been marriage?” Tanyaku.

Tiada jawab yang keluar dari keduanya. Keduanya membisu. Pandangan matanya kosong menerawang. Mereka menatap jauh-jauh ke arah langit sore itu seolah sedang mencari sesuatu yang aku sendiri tidak mengerti. Aku terdiam menanti jawabnya. Keduanya terpaku bisu. Bibirnya terkatup rapat. Dan tiba-tiba, dengan nada terbata dan berat Boy bersuara;

“I’ve wife and three children. Two boys and one girl.” 

Lalu sepi, tanpa suara. Aku turut larut dalam diam mereka. Aku ikut pandangi langit yang juga sedang mereka tatap.

I’ve wife and two children, boy and girl.” Tiba-tiba suara Nono memecah diam.

My first child is boy, four years old. The second one is girl, two years old. And the last is boy, still a month.” Sepatah-patah Boy berucap.

“How about Nono?”

Lama aku menanti jawab dari bibir Nono. Tidak serta merta ia mau menjawab pertanyaanku. Ia terdiam. Pandangan matanya nanar. Sesekali kedua matanya ia pejamkan dengan sangat lama seolah tengah menyelami sesuatu hal yang sangat ia cintai.

My first child is two years old. And the second is four months.” Singkat jawabnya.

Mendengar jawaban dari Nono, bibirku terkatup merapat. Lidahku seolah terhenti kehabisan stok kata. Bahkan tiada satu hurufpun yang mampu diucap oleh lidahku. Pikiranku menerawang jauh. Hatiku seolah dengan tiba-tiba dihinggapi nuansa haru yang dalam. Sedih. Aku sangat bisa merasakan apa yang tengah dirasakan oleh Boy dan Nono. Perasaanku mengembara jauh. Dalam hati aku bisa merasakan betapa rasa kangen Boy dan Nono sore itu kepada istri dan anak-anaknya sangat membadai. Disaat istri dan anak-anak mereka menanti kehadiran mereka pada bilik-bilik rumah mereka di Filipina, Boy dan Nono tengah berada dalam sebuah proses hukum negeri orang. 

Membisu dan terdiamnya saat aku tanya soal istri dan anaknya, seolah keduanya sedang mengirimkan pesan rindu dan do’a pada keluarga kecilnya, “Father will go home as soon as possible, take a good care and father will always miss you all”. Kangen dan harapan sucinya antara keluarga kecilnya dan terbebasnya dari jeratan hukum teritorial seolah menjadi ornamen pada sore di negeri orang. Disela-sela hidup nomadennya di wilayah negara orang, wajah tiap-tiap anaknya beserta istri menjadi sebentuk gambar yang selalu membayangi hatinya kemanapun ia langkahkan kaki.

Seolah ada noktah kesalahan pada hati keduanya bahwa tawa dan celoteh lugu anak-anak mereka tidak semestinya di balut ketidak-baikkan dalam menafkahi mereka. Seolah ada niat yang tidak suci sehingga harus mengkhianati senyum mungil yang senantiasa menunggu di rumah. 

Tiba-tiba sore itu, gerimis melanda. Keduanya dengan mata yang masih nanar, say good bye to me. Langkah mereka lunglai seiring gerimis yang menerpa. Seolah alam mengirimkan pesan pada keduanya, “your children need your sincere ‘touch’”. []

Lipang, Kamis 11 Agustus 2011 

16:58:15 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran