Al-Qashwa, Sebuah Nama di Pagi yang Pekat
Mohamad Arif Luthfi | 25 September 2011

 

“Assalamu’alaikum!” Sapanya lantang.

Aku masih belum mengetahui suara siapakah gerangan yang meneriaki pagi tepat didepan pintu rumah tinggalku. pintu rumah masih tertutup. Sementara aku baru saja usai mendirikan sholat shubuh. Aku masih sibuk merapikan sajadah dan sarung di kamar tidurku. Batinku mengira, panggilan itu semacam ada sebuah keperluan yang mendadak dan sifatnya sangat segera. Aku masih belum tahu pasti siapa yang tengah dicari oleh tamu itu. Yang jelas dirumah hanya ada dua orang; aku dan Pak Tenga, tuan rumahku.

Sementara aku masih sangat yakin bahwa panggilan dan sapaan itu dikhususkan untuk sebuah perlu kepada tuan rumahku, Pak Tenga. Karena sangat tidak mungkin, panggilan itu ditujukan untuk sebuah perlu kepadaku yang baru saja satu bulan aku menghuni pulau ini. Selain itu suara lantang itu sangat tidak mungkin ditujukan untuk mencariku yang nadanya terdengar sangat keras.

“Mas, assalamu’alaikum!” Untuk kali kedua suara itu menggema di teras depan rumah tinggalku.

Panggilan kedua itu agaknya berbeda. Ada kata sapa, Mas. Aku mulai sedikit tergopoh-gopoh. Pintu depan rumah tinggalku masih tertutup. Aku mulai mempercepat segala gerakanku. Dalam hati, aku mulai agak gugup. Siapa orangnya tamu dipagi yang masih sangat pekat seperti ini tengah mencariku. Sementara langit diluar sana, belum menghadirkan sedikit cahaya paginya. Dan suara jangkrik-jangkrik itu masih terdengar bersahut-sahutan. Sesekali, suara cicak-cicak di dinding kamarku saling berkejaran satu sama lain. Bergegas aku kenakan kaos. Dan dengan sedikit berteriak aku jawab salam itu;

“Wa’alaikumsalam!” Seraya aku keluar kamar dan aku buka pintu depan rumah sambil aku nyalakan lampu senter.

Maklum, di pulau yang tiada suplai listrik seperti ini, gelap sudah menjadi sahabat setiap hari. Berjalan sambil mata terpelotot tajam seraya perasaan jiwa meraba-raba gelapnya jalan seolah telah akrab dengan detik yang terus berputar dari waktu ke waktu pada setiap malamnya.

“Selamat pagi, Mas!”

“Pagi, Bapak. Eh, silahkan masuk Pak Sulin. Saya pikir siapa tadi? Sendirian Pak?” Terocosku pada tetangga samping kanan rumahku.

“Iya Mas.” Singkat jawabnya.

Dengan gaya khas nelayannya, bercelana pendek kaos oblong sambil menelangkupkan sarung pada sekujur punggungnya, Pak Sulin mengambil duduk di pojok ruang tamu tinggalku. Dikursi bambu itu, ia tampak seperti kedinginan. Kedua telapak tangannya menggenggam erat kain sarung kumalnya. Rambutnya masih terurai kusut. Akupun duduk disamping kiri Pak Sulin.

“Ini Mas, maksud saya datang pagi-pagi menemui Mas, saya depe maksud untuk minta bantuan Mas supaya Mas yang memberi nama perahu saya. Alhamdulillah, perahu saya hari ini sudah jadi dan siap berlayar. Tapi, tinggal satu yang belum selesai. Yaitu depe nama belum ada.” Jelasnya sambil terbata-bata kalimatnya dengan khas logat bahasa Sangirnya.

“Ehm begitu.”

“Saya berharap, Mas saja yang memberi nama untuk perahu Pam-Boat saya itu.”

“Apa Bapak belum punya calon nama untuk perahu Pam-Boat Bapak?”

“Belum ada sama sekali Mas. Saya ingin Mas saja yang menamai itu depe Pam-Boat.”

“Biasanya kalau orang-orang pulau Lipang sini, Pam-Boatnya diberi nama apa Pak?”

“Paling banyak itu Pam-Boat sama dorang kasih nama depe nama anak dorang.”

Aku lalu menghela nafas panjang. Benar-benar tidak ku duga sebelumnya, disaat pagi yang masih pekat seperti ini, ada seorang tamu yang datang menemuiku untuk memintaku agar memberi nama perahu Pam-Boatnya yang telah usai dibuat. Aku terdiam sejenak. Kedua kakiku aku selonjorkan kedepan. Punggungku aku sandarkan pada sandaran kursi bambu. Kedua tanganku bersendakap rapat diatas perut.

“Rencana, kira-kira perahu Bapak akan dicat warna apa?”

“Putih, Mas.”

Sejenak lalau pikiranku menerawang jauh.

Aku teringat pada seorang rabi muda di kota Yatsrib. Nasab yang mulia, kecerdasan, dan ketekunan belajar membuatnya disegani di tengah Bani Israil melebihi usianya. Dia dihargai melampaui umurnya, terkadang mengungguli penghormatan pada rabi-rabi tua yang jenggotnya panjang dan lebat menyentuh dada. Namanya Husain, Husain Ibn Salam; artinya si kuda kecil.

Pada suatu hari, Husain memanjat batang kurma untuk menanti kedatangan seseorang yang sangat ia nanti dan kagumi.

“Al-Qashwa.” Tiba-tiba bibirku berucap sangat cepat.

“Al-Qashwa?” Lirih Pak Sulin mengulangi kata yang aku keluarkan.

“Iya, Al-Qashwa.”

“Apa itu, Mas?”

“Itu nama yang paling cocok untuk nama perahu Pam-Boat Pak Sulin.”

“Artinya apa itu Mas, Al-Qashwa?”

“Al-Qashwa itu adalah seekor unta jantan putih yang begitu gagah milik Rasullullah, Muhammad. Ia begitu setia menemani setiap perjuangan maupun perdagangan Rasul kemana-mana. Unta putih yang cerdas.”

“Wah, depe nama bagus sekali, Mas.”

“Mudah-mudahan Pak Sulin, dengan menggunakan nama Al-Qashwa itu perahu Pam-Boat Bapak juga bisa selalu menemani Bapak dalam melintasi laut dan mengarungi samudera. Kebetulan juga, perahu Pam-Boat Bapak kan berwarna putih, nah.. Al-Qashwa juga warna putih dan sangat gagah.”

“Saya bisa minta depe tulisan Al-Qashwa, Mas? Biar waktu saya menuliskannya di Pam-Boat saya tidak ada depe huruf yang salah.”

Kemudian aku ambil secarik kertas dari block note ku, lalu dengan pena bertinta biru aku tulis nama: AL-QASHWA.

“Sulin, ayo menginum sama-sama Mas.” Tiba-tiba suara Pak Tenga menyusup dalam dinginnya perbincangan pagi itu untuk sama-sama mengajak minum teh hangat di dapur. Sementara gurat-gurat cahaya pagi masih tampak malu menampakkan wajahnya pagi itu. []

Lipang, Rabu 10 Agustus 2011

20:14:20 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran