Semangat yang Tak Retak
Mohamad Arif Luthfi | 09 October 2011

 

Juli 2011. Hari masih pagi. Sorot cahaya pagi itu menerobos masuk cela-cela rajutan karung glangsing beras yang terlilit sebagai kelambu pada jendela kamar rumah tinggalku. Cahaya itu remang-remang menelusup menerangi kamar berukuran dua kali tiga meter. Dinding kamar yang berlubang-lubang, tiada plafon, dan disudut kamar bertengger empat lembar seng sisa renovasi rumah.

Pagi itu suasana kampung masih sunyi. Yang aku dengar suara sayup-sayup kokok ayam yang sedang bersahutan. Suara jangrik yang terus bergeming dibalik lipatan dan sudut-sudut kolong tempat tidurku. Aroma lembab sangat terasa menyesaki ruangan kamar yang tepat disamping luarnya berjajar belasan ember dan bak penampung air hujan.

Dua hari yang lalu, saat hujan turun dengan derasnya pada malam hari, belasan ember dan bak penampung air hujan itu menimbulkan suara kecimpung yang tak karuan. Gemericik air menciptakan irama yang mengalun tidak pasti. Karung glangsing beras yang melilit sebagai kelambu pada jendela kamarku itu dirembesi air. Bagian bawah dinding kamarku basah. Lantai yang terbuat dari campuran pasir dan semen yang tak sempurna itu diresapi air. Dan mataku yang terpejam lelap malam itu terbangun akibat cipratan-cipratan air hujan itu masuk melalui lubang-lubang karung glangsing beras yang robek.

Pagi itu tepat hari Senin. Arloji dijitalku menunjukkan angka 110711, tanggal sebelas Juli tahun dua ribu sebelas. Ini adalah hari pertama masuk sekolah pada tahun ajaran baru, setelah kurang lebih sekitar dua minggu libur. Dan ini merupakan hari pertamaku sebagai pengajar muda di pulau kecil wilayah propinsi Sulawesi Utara, Lipang. Pulau yang tiada sumber air bersih, tiada listrik, tiada jaringan telekomunikasi yang memadai, dan terletak di wilayah perairan samudera pasifik yang sangat dikenal ombak dan anginnya yang sangat kencang membadai.

Lalu aku beranjak menuju ruang tamu rumah tinggalku. Aku pandangi jalanan depan rumah masih sepi. Tiada aktifitas yang tampak berarti. Dalam hati, mulai terbit rasa ragu. Akankah ruang-ruang kelas SD terisi penuh pada hari pertama ini? Sementara, tiada teman guru satupun yang akan menemani hari pertama ini. Keraguan itu menghias lubuk hati. Dengan celana panjang hitam dan batik berlengan pendek, aku berdiri termangu melihat hari; “ini hari pertama yang sangat spesial. Aku tak boleh melewatkan setiap jengkal peristiwa sedikitpun.” Lalu aku pandangi obrolan sms terakhirku dengan Mbak Ami, karibku, kemarin.

“Salam. Esok adlh hr prtama masuk sekolah (11 Juli) serentak untuk SD. SD Lipang (Sangihe) d kenal olh masyarakat pulau Lipang dg SD yg sgt molor jadwal masuk sekolahnya (bs smp 2-3minggu) br masuk sekolah dr tgl yg sdh d tentukan. Hal ini trjadi krn smua guru SD Lipang bukan warga asli Lipang. Slain itu adlh kendala iklim dan cuaca yg ekstrim. Hingga hr ni pun, tak ada satupun guru bahkan kepsek pun tdk ada d Lipang. Namun optimisme hrs mulai d letakkan dan d bangun. Sjk kmrin sore, sy jln dr rmh k rmh, mnemui dr orang k orang hingga ke sudut2 desa dan sy sampaikan bhw esok SD Lipang buka dan sdh mulai masuk. Alhmdlh masyarakat mrasa surprise dan bangga mndengar kbr trsbut dan mreka ada yg katakan ‘br kali ini SD Lipang masuk sekolah tepat waktu’. Mhn doa dan bimbingannya sll. Mari kian kita rekatkan niat utk mncapai agungnya ketulusan dan indahnya rendah hati.”

Sent: 10/07/2011  11:52 AM.

Pikiranku mulai menerawang jauh ke pulau Jawa. Perasaanku mulai membanding-bandingkan. Sesuai tradisi, saat sekolah pertama kali masuk pada tahun ajaran baru, dipagi yang masih buta di kampungku hampir dipastikan semua anak SD sudah bangun dengan penuh semangat. Mereka mengenakan seragam baru, sepatu baru, tas baru, buku tulis baru, segalanya serba baru. Mereka dengan senyum mengembang menenteng segala perabotnya yang serba baru. Hati mereka riang gembira seolah tak ada ruang tersisa bagi kelabu untuk  menghuni.

Sementara disini, aku belum melihat satupun batang hidung anak-anak SD yang muncul di hadapanku. Padahal arloji dijitalku sudah menunjukkan pukul 06:05 wita. Aku masih berharap penuh, tiga puluh siswa SD Lipang hari ini pada duduk di kursi ruang-ruang kelas mereka. Ataukah, karena sudah terbiasa dengan molornya tanggal masuk sekolah, anak-anak SD ini tidak mempedulikan ajakanku untuk ke sekolah? Hatiku gundah. Tanganku kemudian merogoh HP di saku celanaku. Aku mengingat kembali apa yang sudah terlewati semalam. Dan sms itu;

“Mbak Ami.. alhmdlh akhirny tempat trakhir bs sy kunjungi mlm ni (tepat selesai pukul 21:45 wita) utk mnyampaikan bhw esok SD Lipang sdh mulai masuk. Ini sy sdg prjalanan pulang mnuju rmh tinggal. Saat ni sy mampir d pantai guna mncari sinyal utk sampaikan sms ini. Dg hanya pake lampu senter sy susuri jln2 setapak pulau ini dg pekat gulita tanpa listrik. Dg harapan, smoga esok ruang2 klas SD trisi siswa. Esok pg, hanya sy seorang diri yg akn mnyambut skaligus mngajar anak2. Krn kepsek sdh knfirmasikan bhw pr guru blm bs hadir smp batas wkt yg tak tentu. Mhn doa dan bimbinganny sll”.

Sent: 10:07:2011  09:55 PM

Aku terdiam. Menatap lekat langit pagi itu. Gurat-gurat awan bertebaran tipis menghias cakrawala. Seolah mencari pesan yang tersurat pada langit pagi, aku pandangi jengkal demi jengkal lazuardi pagi. Dalam hati aku berbisik, “seandainya tidak tiga puluh siswa yang hadir pada hari ini, satu siswa pun akan aku julurkan tanganku untuk mendekap hangat semangatnya”.

“Asslamu’alaikum... Pak Guru!” Tiba-tiba teriak mungil itu memecah heningku.

“Wa’alaikumsalam”. Mataku berkerling menuju sumber suara.

Tiba-tiba hatiku berdegup kencang. Seorang anak berpakaian seragam berwarna merah putih berdiri didepan rumahku. Sambil tersenyum lepas ia menatapku lekat. 

“Siapa namanya?” Sambutku riang.

“Fitra.”

“Fitra, kelas berapa?”

“Kelas lima.”

Senyumku mengembang rekah menyaksikan kehadiran bocah kecil itu, Fitra. Kehadirannya seolah menjadi teman akrab yang sudah sekian lama sangat aku rindukan kedatangannya.

“Pak Guru, ayo kita berangkat ke sekolah sama-sama.” Ajak Fitra.

***

Pagi itu sinar mentari sudah agak meninggi. Jam menunjukkan pukul 06:25 wita. Aku menyusuri jalan-jalan setapak pulau ini menuju sekolah bersama Fitra. Ia menggenggam erat telapak tangan kananku seolah tak ingin terlepas dari sampingku. Semak-semak disamping kanan-kiri sepanjang jalan tampak rimbun memadat. Meski disampingku telah ada Fitra, tapi hati kecilku masih menyisakan tanya dan ragu; “benarkah dihari pertamaku ini, hanya satu siswa yang akan terduduk didepanku? Sementara, akankah dinding-dinding sekolah itu akan menerimaku dengan senang hati sebagai seorang guru baru dengan hanya satu murid yang ada di depanku?” Rindang pohon di sepanjang jalan itu semakin membuatku gusar. Berdiri tegaknya seolah menjadi tiang-tiang jala penghalang yang tidak ingin melihat layang-layangku terbang menari diatas awan. 

Kakiku terus melangkah. Aku berusaha meredam kuat rasa gundah yang membenteng melingkar hati dan perasaanku. Dipulau kecil diwilayah titik-titik terluar kepulauan nusantara seperti ini sungguh membutuhkan pemaknaan semangat yang tidak biasa. Antara yang tegak dan yang tergeletak nyaris sama. Butuh keteguhan jiwa yang kuat untuk senantiasa menjaga bara api semangat. Tidak hanya sekadar mampu menghidupkan api. Sekali lagi, tidak hanya sekadar mampu menghidupkan api. Tapi jauh yang lebih penting daripada itu adalah, menjaga bara api itu agar terus membara memberikan percikan-percikan kecil apinya yang akan terus menyulut nyalanya api.

Tiba-tiba diantara jajaran pohon yang berdiri tegak itu, telingaku mendengar sayup-sayup suara yang samar. Aku tarik tangan Fitra sebagai pertanda agar jangan melangkah. Berhenti. Aku ingin memastikan suara apa itu? Fitra diam tak berkutik. Dengan wajah polosnya, ia tengadahkan kepalanya keatas sambil sesekali ia putar-putar matanya turut memastikan suara yang muncul. Langkah kita sejenak terhenti diantara jajaran pepohonan yang sudah tidak jauh lagi dari sekolah. Sayup-sayup suara samar itu terdengar lagi. Kali ini agak kedengaran jelas, meski sedikit. 

“Itu suara teman-teman, Pak Guru!” Jelas Fitra.

“Teman-teman kamu? Anak-anak SD?” Aku mencari kepastian.

“Iya, Pak Guru!”

Kembali aku pasang telingaku tajam-tajam. Sungguh gema suara pada medan seperti ini membutuhkan kejelian pendengaran untuk mendeteksi datangnya suara.

“Siap gerak!”

“Tegak gerak!”

Dua kalimat itu yang tiba-tiba terdengar lantang hinggap ditelingaku. 

“Itu suara teman-teman, Pak Guru. Ayo kita ke sekolah.” Pinta Fitra.

“Hormat gerak!” Suara itu kian terdengar jelas.

Lalu dengan segera aku tarik Fitra. Aku langkahkan kaki menuju ke sekolah. Setelah berbelok dan beberapa langkah kedepan, atap gedung sekolah sudah terlihat. Langkahku semakin kupercepat. Fitra terus membuntuti disampingku. Dan, terlihatlah mereka. Sumber suara itu. Enam orang anak SD. Empat laki-laki, dua perempuan. Sesaat aku hentikan langkahku. Fitra aku dekap erat didepanku. Aku berdiri menyaksikan keenam anak itu di pintu masuk sekolah. Aku terdiam menyaksikan mereka. Aku tak ingin mengganggunya barang sekejap. Pintu ruang-ruang kelas masih tertutup rapat. Keenamnya tengah berdiri tegak, hormat pada tiang bendera yang tidak ada benderanya. Satu laki-laki memimpin didepan. Dan yang lima, menjadi pengikut baris dibelakangnya. Rapi. 

Hatiku tersentuh.

Demi Allah, butir-butir hangat tiba-tiba keluar dari sudut kedua mataku. Butiran-butiran itu meleleh perlahan, mengalir pelan di pipiku. Dengan mengenakan seragam SD yang tampak kumal dihari pertama masuk sekolah, mereka hormat. Membayangkan sang merah putih berkibar didepan mereka. Sungguh aku menyaksikan semangat yang tak retak pada jiwa-jiwa mereka. []

Lipang, Jum’at 12 Agustus 2011 

17:02:12 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran