Telinga-telinga Siluman
Mohamad Arif Luthfi | 13 November 2011

Sepi yang menegangkan. Tapi kau apa juga turut merasakan? Malam yang gontai ini terasa kecut. Langkahku turut tak karuan. Aku melihat orang-orang itu berkelebat muncul hilang dalam gelap. Entah siapa pemilik wajah dibalik topeng itu. Dalam gelap pekat seperti ini, di pulau yang tak dihuni listrik, ternyata banyak telinga menempel dibalik-balik dinding rumah-rumah kayu dan beton. Telinga-telinga itu berlalu lalang, lompat sana lompat sini. Tapi herannya, tak satupun penduduk disini yang mengetahui siapa pemilik wajah dibalik topeng itu. Apakah kau mengetahui siapa mereka?

Aku hanya ingin bercerita padamu:

Menurut cerita dari beberapa warga, telinga-telinga siluman itu tak diketahui bentuk nyatanya. Mereka hanya sebatas bayangan-bayangan yang tampak dalam gelap. Dan jika ada orang yang memergokinya, bayangan-bayangan itu berubah menjadi suara gaduh yang terdengar seperti orang berlari kencang secara tiba-tiba menembus semak belukar dan kian menjauh dan hilang.

Aku hanya ingin bercerita padamu:

Telinga-telinga siluman itu, merekam segala pembicaraan yang berkembang di dalam rumah-rumah penduduk. Lalu, keesokan harinya akan ada kabar yang berkembang pada penduduk. Aku persisnya tidak mengerti. Tapi, baru-baru tadi si Jonli lari terbirit-birit ke tempatku dan mengabarkan bahwa dia baru saja memergoki telinga-telinga siluman itu beraksi. 

Aku hanya ingin bercerita padamu:

Aku turut merasakan ketegangan suasana politik antar penduduk yang mayoritas hanya tamatan SD di pulau ini. Awalnya aku kira mereka tidak akan turut termakan suasana panasnya politik pemilukada Sangihe. Mereka pasti tidak akan ikut ribut atas geger politik yang tengah di desain. Tapi semua perkiraanku itu keliru. Keliru. Mereka justru menjadi sasaran perebutan suara yang diperebutkan oleh ke-6 calon bupati Sangihe periode 2011-2016. Mereka berduyung-duyung datang ke ibukota kepulauan, Tahuna, hanya untuk berpartisipasi dalam sesaknya kampanye. Dan itu semua nyata.

Aku hanya ingin bercerita padamu:

Dalam hati, akau sebenarnya ingin sekali turut memergoki telinga-telinga siluman itu. Aku hanya ingin jadi saksi sejarah bahwa aku juga pernah melihat telinga-telinga siluman itu beraksi. Tapi, kalau memang mujur, tanganku ingin merobek topeng siluman itu agar ceritaku padamu bisa lebih seru dan transparan. Kalau memang bisa lebih seru, tak ada yang perlu di ragu bukan? Ya, betul katamu. Ada-ada saja kartun mainan politik yang selalu dihadirkan. Tapi kau tak perlu khawatir. Negeri ini bukan negeri seperti yang kau pikirkan. Karena setiap kubu: siap menang, siap kalah! Dan telinga-telinga siluman itu akan tetap selalu ada sebagai departemen baru bagi elit yang menang sebagai sarana direct hearing (dengar langsung) segala keluhan yang ada pada masyarakat bawah.

Lipang, 14 September 2011

00:28:46 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran