Selembar Tikar Daun Pisang
Mohamad Arif Luthfi | 06 November 2011

 

Iratan-iratan itu tampak selaras beraturan. Kesemuanya berjajar. Satu sama lainnya rajin lurus terirat sesuai garis yang telah ternoktah oleh Sang Maha Indah. Aku temani keseriusan mereka. Tangan kecilnya memegang serius daun-daun pisang itu. Kuku jemarinya naik turun membelah daun pisang yang telah mereka pilih.

Hari itu masih pagi. Masih pukul 09:03 wita. Dengan duduk dan tawa, mereka warnai libur mereka di minggu yang cerah. Aku terpatung tersenyum mengamati mereka. Gadis-gadis kecil itu terus mengembangkan senyumnya. Aku duduk ditengah-tengah mereka; Siska, Wiwi, Ria, Lira, Cicilia, dan Senia. Dengan perlahan, aku amati, tangan kecil mereka silih berganti merajut iratan-iratan daun pisang yang telah mereka persiapkan. Mata mereka mengamati dengan jeli. Tangan-tangan kecil itu tampak terampil dalam menyusun, merangkai, merapatkan, dan mengatur tingkat kelonggaran rajutan. 

Hari itu masih pagi. Berada ditengah-tengah mereka, aku merasakan kehangatan bermain yang sungguh. Mereka tampak telaten dan sabar memperlakukan mainan selembar tikarnya yang mereka rangaki dari daun pisang. Hijau dan lentur daun itu, seolah menjadi sesuatu yang sangat berharga ditangan mereka. Satu per satu iratan daun pisang itu mereka masukkan. Setiap helai iratan daun itu, mereka perlakukan dengan istimewa. Tidak ada cela iratan yang mereka lewatkan. Semuanya terisi rapi. Lembar demi lembar tikar terselesaikan.

Hari itu masih pagi. Dibawah rindang pohon mangga yang tengah berbuah, mereka berlingkar duduk. Kepalanya saling tertunduk. Tapi aku melihat tatap matanya, segenap hati dan jiwa mereka tegak. Bak bunga yang tengah merekah menemui sorot ultraviolet pagi. Indah dan menyenangkan. 

Hari itu masih pagi. Dalam dudukku, aku mulai meraba memaknai atas apa yang aku pandangi. Ada motif-motif yang tersusun terlihat indah. Lembar-lembar tikar yang telah jadi itu terpampang kesempurnaan karya. Rapi. Detail. Mengagumkan. Tikar itu mempesona. Karya itu menjadi cermin yang memantulkan bayangan atas tangan-tangan cerdik mereka. Cermin itu memantulkan bayangan atas jernih hati sang pembuat. Mereka maknai arti sebuah kerja dalam berkarya. Sesuatu yang sederhana yang tidak sederhana. Butuh sentuhan ketulusan. Ada keseimbangan antara perasaan dan pikiran yang seiring sejalan dalam mencetuskan karya. Total.

Hari itu masih pagi. Aku mencermati tawa mereka bukanlah kegembiraan yang sederhana. Kegembiraan yang merupakan pilihan. Disaat waktu libur terhampar, mereka memilih sebuah pilihan langkah untuk mengasah kepekaan dalam berkarya. Mereka memilih untuk menjadi pelaku. Mereka memilih untuk berproses alami. Mereka memilih untuk menyederhanakan tindakan. Mereka memilih untuk tidak repot-repot dalam memilih bahan dalam bermain. Hal-hal yang dekat, mereka angkat. Alami. Nature makes mature.

Hari itu masih pagi. Sorot mentari seolah menelusup masuk pada tiap masing-masing diri mereka. Cahayanya masuk menyatu padu menyalakan semangat dalam jiwa gadis-gadis kecil itu. Tikar daun pisang itu bukti adanya. Dengan duduk beralaskan sepasang sandal, mereka ungkapkan fokus dan keseriusan dalam memaknai kerja. Rumit, tapi telaten. Aku menyukai duduk diantaranya. 

“Harus hati-hati dalam merangkai iratan, meski cuma mainan.” Ucap lugu Wiwi tiba-tiba didepanku. 

Dan hari itu masih pagi.... []

Lipang, 21 Agustus 2011

23:27:23 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran