Sebuah Siang Di Pelabuhan Tagulandang
Mohamad Arif Luthfi | 19 February 2012

Siang ini aku tengah melakukan perjalanan dari Tahuna menuju Manado. Perjalananku kali ini adalah untuk menyelesaikan satu amanah pertanggungjawaban dari rangkaian acara Festival Anak Sangihe, mencetak seluruh hasil dokumentasi beserta seluruh sertifikat. 

Siang ini aku menaiki kapal Express Bahari pada kelas eksekutif. Aku berangkat dari pelabuhan kota Tahuna tepat pukul 09.30 wita. Dan perjalanan menuju Manado, mengalami persinggahan di: pelabuhan Siau, pelabuhan Tagulandang dan terakhir Manado. 

Saat kapal mulai merapat di pelabuhan Tagulandang, aku melihat hiruk pikuk pelabuhan sangat padat. Baik itu para penumpang, ABK, pedagang, dan lain sebagainya. Aku menyaksikan kepadatan itu mulai hidup saat kapal sudah sandar di pelabuhan. Penumpang yang bertujuan ke Tagulandang mulai ramai keluar kapal. Lalu disusul oleh para pedagang yang mulai menyerbu masuk diikuti oleh para penumpang baru. 

Suasana ramai. Ribut. Puluhan pedagang sesak memadati dek ruangan eksekutif. Mulai dari pedagang panadah, air mineral, nasi kuning, hingga pedagang salak. Aku mendapat informasi dari seorang ibu paruh baya yang duduk disebelahku bahwa Tagulandang dikenal dengan gudangnya buah salak. Sehingga tidak heran jika puluhan pedagang salak hilir mudik menjajahkan dagangannya.

Ada peristiwa mengejutkan saat puluhan orang pedagang salak itu berlomba menjajahkan dagangannya pada seluruh penumpang kapal. Aku mengamati satu per satu para pedagang itu dalam menawarkan dagangannya. Gaya bicaranya, suaranya, mimik mukanya, perangainya, dan lain sebagainya. Yang jelas, semua pedagang pada bersuara keras sembari membawa satu karung tumpukan salak yang dikemas dalam kardus bekas.

Namun tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang pedagang salak perempuan yang tengah melakukan transaksi dengan calon pembelinya. Perempuan itu berbadan kekar dengan gaya rambut potongan laki-laki. Wajahnya lembab oleh rembesan keringat. Tawar-menawar itu berlangsung.

“Sepuluh ribu, Pak!”

“Boleh saya lihat salaknya?”

Dengan penuh ketulusan perempuan itu membukakan lipatan kardus salak. Pria pembeli itu dengan seksama memperhatikan satu per satu salak yang tengah ditawarkan. 

“Boleh kurang harganya?”

“Sudah harga pas ini!” Tegas perempuan.

“Ok, satu kardus!”

“Alhamdulillah!” Ucap spontan perempuan kekar itu sembari tersenyum tulus dan dengan sigap merapikan kardus salak dan mengikatnya kuat. Lalu, ia masukkan kardus salak itu kedalam tas plastik hitam dan di berikannya pada pria pembeli itu. 

***

Sungguh aku tersentuh dengan peristiwa singkat itu.

Ibu paruh baya itu mengajarkan pemaknaan syukur yang sangat dalam. Ia mampu menikmati rasa syukur dengan penuh ketulusan. Lakunya satu kardus salak siang ini, membawanya mengirimkan rasa syukur diatas langit. ia mampu menterjemahkan rizki dengan tidak sederhana. Ucapannya pelan, lembut. Namun mampu menembus batas menuju Sang Maha Pemberi Rizki.

Hari ini aku belajar pada peristiwa hari di sebuah siang di pelabuhan Tagulandang.[]

Tahuna-Manado, Selasa 7 Februari 2012 

14:30:54 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran