Opo Laut
Mohamad Arif Luthfi | 02 August 2011

 

Tulisan ini aku tulis tepat pukul 02:55 wita seusai makan sahur.

Usai makan sahur tadi, dengan menu ikan malalugis yang dibalut dengan dabu asam manis, aku bergegas menuju rumah kapitalaung (kepala desa). Dengan hanya menggunakan lampu senter, aku berjalan menuju rumah opo laut (sebutan khas untuk kepala desa). Kedatanganku ke rumah opo laut adalah dengan maksud hanya ingin menyampaikan bahwa aku baru saja selesai makan sahur dirumah tinggalku. Ini aku lakukan semata-mata karena opo laut sejak sebelum puasa Ramadhan tiba telah menyampaikan bahwa untuk setiap kali makan sahur, aku diajaknya untuk bersantap sahur dirumah beliau.

Saat ini adalah hari kedua makan sahur. Hari pertama kemarin, sekitar pukul 03:00 wita (seusai aku makan sahur) tiba-tiba ada suara yang memanggil-manggil ku diluar halaman rumah tinggalku. 

“Mas... Mas... Mas... !” begitu suara itu berkali-kali aku dengar.

Dengan kondisi pekat gulita, didalam kamar aku hanya meraba-raba kira-kira siapa gerangan yang memanggil-manggilku itu. Lantas dengan agak ragu akupun menimpali panggilan itu dengan mengatakan “iya, siapa ya?” begitu seraya aku membuka pintu depan rumah tinggalku dengan sedikit perasaan ragu.

perlu waspada memang. Pulau ini tanpa adanya listrik. Dan jika malam tiba, sudah bisa dipastikan tiada cahaya yang berpijar-pijar dengan bebas di pulau ini. Sehingga untuk jalan dan melakukan aktivitas apapun itu diperluakan lampu senter sebagai penunjang kegiatan yang sifatnya rutinitas.

Surprise.

Begitu aku buka pintu depan rumah tinggalku, ternyata suara yang memanggil-manggilku itu adalah kepuanyaan Opo Laut. Dengan hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong lengan pendek, Opo Laut mengajakku untuk bersantap sahur dirumahnya. Dalam hati aku sempat heran dan kaget. Karena baru kali ini aku mendapat perhatian khusus dari seorang pemangku kepentingan desa yang sekaligus merupakan orang nomor satu di pulau Lipang, kepulauan Sangihe ini. Dengan sedikit ragu, aku mengatakan, “Mohon maaf Bapak, saya baru saja selesai makan sahur. Baru saja selesai.” Begitu aku sampaikan dengan perasaan takut akan mengurangi rasa hormat dan kekecewaan Opo Laut.

“Oh begitu. Ya sudah kalau memang sudah selesai makan sahur. Saya tadi menunggu-nunggu Mas dirumah untuk makan sahur.”

“Iya Bapak, terimakasih. Saya ini tadi baru saja selesai meletakkan piring saya.”

“Baiklah, saya pulang dahulu kalau begitu.”

“Iya silahkan, sekali lagi saya mohon maaf.” Begitu pembicaraan aku tutup seraya aku sorotkan lampu senter ke arah tiga anak tangga didepan rumah tinggalku yang sedang dituruni oleh Opo Laut.

***

Selidik punya selidik. Cerita itu ternyata tidak berhenti hanya disitu.

Pertama:

Esok harinya, Mas Ahmad Rizal Mandak (patroler sahur tunggal pulau Lipang) sekitar pukul 07:00 wita menghampiri rumah tinggalku. Mas Ahmad bertanya, “Mas, semalam saat sahur Pak Opo Laut mencari-cari Mas dirumah saya. Opo Laut bilang, katanya Mas mau diajak makan sahur bersama. Lalu saya katakan pada Opo Laut kalau Mas sedang tidak ada pada saya. Saya sampaikan mungkin Mas sedang berada bersama Pak Imam masjid. Terus, Mas semalam makan sahur dimana?”

“Iya Mas Ahmad. Saat sahur tadi Opo Laut datang kesini mencari saya dan sudah bertemu dengan saya. Semalam saya makan sahur dirumah sini Mas.”

“Oh begitu. Opo Laut mengira Mas semalam ikut patroli sahur bersama saya lalu selesai patroli, Mas ikut makan sahur dirumah saya.”

Kedua:

Esok harinya, sepanjang hari setiap kali aku bertemu dengan masyarakat pulau Lipang selalu menanyakan, “Mas, semalam makan sahur dimana?”

“Saya makan sahur dirumah. Ada apa ya?”

“Semalam Bapak Opo Laut mencari-cari Mas untuk diajak makan sahur bersama. Dan Pak Opo Laut nitip pesan sama saya kalau ketemu dengan Mas, saya disuruh menyampaikan.”

***

Nah, itulah sekelumit behind the scene kedatangan Opo Laut dirumah tinggalku.

Karenanya, dihari kedua makan sahur ini aku tidak ingin mengecewakan Opo Laut untuk yang kedua kalinya.Meskipun mungkin tidak makan sahur bersama, setidaknya Opo Laut tidak perlu menunggu-nungguku hingga akhirnya datang kembali kerumah tinggalku untuk yang kedua kalinya.

Semoga ada pemaknaan yang tidak biasa dalam sedikit peristiwa ini, semoga. []

Lipang, Selasa 2 Agustus 2011 

03:49:50 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran