Angin Barat yang Tak Terelakkan
Mohamad Arif Luthfi | 14 August 2011

 

Hari ini adalah hari kedua puasa Ramadhan. Saat ini tepat pukul 10:27 wita. Aku tengah berada dibibir pantai Lantehe sebelah timur. Diatas tanggul beton penahan ombak tepat terduduk dibawah rindang pohon. Saat ini angin tengah bertiup sangat kencang. Ombakpun demikian. Angin barat tepatnya. Layar monitor laptopku saat ini juga tengah bergoyang-goyang akibat tiupan angin. Ribuan buih ombak tak terhitung jumlahnya tengah menari-nari diatas hamparan perairan samudera Pasifik. Kencang sekali. Rambutku terurai tak karuan. Sepanjang mata menatap tak satupun perahu nelayan yang terlihat sedang berlayar.

Menurut informasi yang sering aku terima dari masyarakat pulau Lipang ini, memang jika angin barat sudah bertiup maka tak satupun nelayan Lipang yang berani melabuhkan perahu pam boat-nya diperairan samudera Pasifik ini. 

Pernah ada satu kejadian pam boat terbalik di tengah perairan ini. Menurut kabar, pam boat tersebut berangklat dari wilayah kecamatan Kendahe. Pam boat itu membawa dua orang: satu, tuan pam boat-nya, dua, seorang guru perempuan yang mengajar di SDN inpres Lipang. Saat itu menurut kabar, guru perempuan itu hendak menyebrang menuju pulau Lipang guna menghadiri upacara hari kemerdekaan RI serta untuk menjalankan tugas sebagai salah satu petugas upacara. Mungkin, nasib baik sedang tidak berpihak pada pam boat tersebut. Tepat saat pam boat berada di wilayah tanjung, perahu itu terbalik dan tenggelam. Guru perempuan itu saat perahu telah terbalik, diikat rapat oleh tuan perahu diatas papan yang terbuat dari bambu. Dan setelah tuan perahu mengikat guru tersebut, ia meminta izin pada guru tersebut untuk berenang guna mencari pertolongan pada daratan terdekat. Dengan pasrah, guru perempuan itu mengiyakan permintaan tuan perahu tersebut.

Praktis, guru itu terombang-ambing oleh ombak yang besar dan angin yang kencang. Setelah pihak keluarga dari guru itu mencari kepastian akan kedatangan guru itu di pulau Lipang kepada Opo Laut, barulah kisah terungkap. Bahwa guru perempuan itu dikabarkan hilang saat melakukan penyebrangan dari kecamatan Kendahe menuju pulau Lipang.

Spontan, tim guru dari SDN inpres Lipang setelah mendapati kabar tersebut bersama warga pulau Lipang dan juga dibantu dari tim SAR angkatan laut melakukan penyisiran di perariran antara kecamatan Kendahe dan pulau Lipang. Namun pencarian itu tidak membuahkan hasil. Tidak ditemukan sedikitpun barang bukti sisa-sisa atas tragedi tersebut. 

Alhasil, setelah lima hari pencarian dilakukan. Ada kabar yang datang dari sebuah rumah sakit di Filipina yang mengabarkan bahwa telah dirawat seorang guru perempuan berkebangsaan Indonesia yang ditemukan oleh salah satu nelayan Filipina di tengah perairan wilayah Filipina.

Alhamdulillah, guru perempuan tersebut bisa diselamatkan dan hingga saat tulisan ini aku tulis, guru perempuan tersebut masih hidup dan saat ini mengajar di salah satu SD di kecamatan Kendahe, kepulauan Sangihe. Menurut kabar, tuan perahu yang meminta izin untuk berenang mencari pertolongan pada waktu tragedi itu, hingga tulisan ini aku tulis tidak diketahui dimana keberadaannya.

Inilah satu kisah yang membuatku saat ini tertegun menyaksikan bertiupnya angin barat yang dikenal kencang dan besar yang juga disertai hantaman ombak yang sangat tidak bersahabat.

***

Aku jadi teringat penyebranganku tepat saat hari Sabtu tanggal 9 Juli 2011 dari kecamatan Kendahe menuju pulau Lipang.

Saat itu aku baru saja pulang dari rapat di kota Tahuna bersama ke-9 Pengajar Muda temanku. Hari itu tepatnya sekitar pukul 11:00 wita. Aku menemui Opo Laut Lipang di Puskesmas kecamatan Kendahe. Hari itu tujuanku menenmui Opo Laut adalah untuk menumpang perahu Opo Laut yang akan pulang menuju Lipang. Penyebrangan siang itu aku bersama empat orang; Opo Laut, Ibu Bidan, Sekdes Lipang, Kholis (anak ke-2 Opo Laut), dan aku. 

Laut saat itu di bibir pantai kecamatan Kendahe terpantau tenang. Dalam hati aku gembira menyaksikan kondisi laut yang bersahabat. Penyebrangan cukup bagus. Cuaca juga baik. Namun, sekitar kurang lebih empat mil ke arah pulau Lipang, tiba-tiba angin barat datang dari tengah-tengah perariran samudera Pasifik ini. Spontan, ombak beruba menjadi sangat besar. Angin bertiup sangat kencang. Seirang dengan itu, aku terus berdoa agar perahu ini bisa sampai tujuan dengan selamat. Meski berkali-kali kemudi perahu tidak kuasa melawan terjangan angin dan deburan ombak yang kencang, aku tetap berharap Opo Laut sebagai nahkoda perahu bisa membawa perahu sampai pada tujuan.

Disaat-saat seperti itu, aku mulai mengencangkan pelampungku. Jas hujan ber-mode jaket aku kenakan dengan tepat. Tidak lupa kacamata hitam aku pakai sebagai pelindung mata dari cipratan-cipratan ombak yang mengarah tidak karuan. Aku menyaksikan perahu berlayar diluar kendali Opo Laut. Naik turunnya ombak, benar-benar membuat hati terasa tinggal pasrah dengan yang diatas.  Aku menyaksikan banyak kubangan-kubangan besar didepanku yang tercipta dari besarnya ombak. Kubangan-kubangan itu menjadi semacam monster bagi perahu yang sedang berlayar. Sebab, jika perahu sampai masuk kedalam kubangan-kubangan itu, maka dipastikan akan terjebak oleh gulungan-gulungan ombak yang terlihat mengamuk. Dengan perahu yang hanya berukuran panjang sekitar tujuh meter dan lebar sekitar enam puluh lima centimeter, Opo Laut berusaha menghindari kubangan-kubangan yang ada. Perahu berkali-kali zig-zag melawan banyak kubangan dan angin yang kencang. 

Disaat seperti itu, tanpa aku sadari ternyata kakiku telah direndam air setinggi diatas mata kaki. Jantungku semakin berdegup kencang. Aku khawatir perjalanan yang hanya kurang empat mil ini tidak akan selamat sampai tujuan. Beberapa kali, mesin perahupun terdengar tersendat-sendat seperti akan mati. Aku melihat ibu bidan hanya terdiam ketakutan seraya kedua tangannya hanya bisa berpeganggan erat pada kedua sisi bambu yang ada di samping kanan-kiri perahu.

Ya Allah, wahai dzat Yang Memperjalankan angin

Wahai Dzat Yang Memperjalankan gumpalan-gumpalan awan

Wahai Dzat Yang Memperjalankan gulungan-gulungan ombak 

Sungguh, tiada sedikitpun kekuatan dan kemampuan bagi hamba

Tanpa seizin kuasa-Mu

Ya Allah, wahai dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu

Aku hanya bisa berbisik pelan

Lindungilah perjalanan ini dan sampaikanlah kami pada tempat tujuan kami

Dengan sentuhan Rahman dan Rahim-Mu

Sungguh, tiada kuasa bagi kami

Selain hanya Engkaulah tempat peraduan kami.

Perlahan, perahu terus mendekat ke arah tujuan. Dengan disertai hati yang terus bertasbih, pasir putih pantai Lantehe pulau Lipang sudah didepan mata. Terlihat sudah tampak beberapa orang Lipang menyambut kedatangan kami siang itu. Dan, alhamdulillah akhirnya kedua kakiku kuinjakkan diatas pasir putih Lipang dengan rasa syukur yang tiada tara.

Seiring dengan itu, angin semakin kencang dan ombak terlihat semakin meliuk-liukkan ketinggiannya. []

Lipang, Selasa 2 Agustus 2011 

11:42:16 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran