Hujan ditengah Tarawih
Mohamad Arif Luthfi | 21 August 2011

 

Saat ini, diluar sedang gerimis.

Tulisan ini aku tulis tepat setelah aku mengikuti jama’ah sholat tarawih di hari ke-4 Ramadhan. Ada yang menarik perhatianku saat sholat tarawih tadi. Tiba-tiba disaat sholat masih pada rakaat ke-14, hujan sangat deras dengan tiba-tiba mengguyur pulau Lipang. Deras sekali. Lalu apa yang terjadi?

Jama’ah pecah ditengah-tengah sholat berlangsung. Shof pertama, tepat dibelakang imam hilang satu orang akibat menghindari guyuran air yang menetes dengan tanpa kontrol. Shof kedua, nyaris sekitar sepuluh orang pindah tempat. Shof ke tiga, ada kurang lebih lima belas orang berhamburan menghindari guyuran air. Begitu seterusnya. 

Masjid besar Ar-Rahmah Lipang memang masjid tua dengan gaya kuno dan sudah layak untuk direnovasi. Pusat rembesan dan guyuran air tepat berada pada mihrab masjid dan sisi sayap kanan masjid sebelah utara. Kayu-kayu penyangga atap memang sudah tampak klasik dan kuno sekali. Apalagi banyak sekali ditemui ukiran-ukiran alami yang terbentuk dari serangan rayap pada kayu-kayu penyangga atap seng.

Melihat kondisi demikian, spontan aku keluar dari barisan shof pertama untuk mencari sesuatu yang dapat, minimal, mengurangi ‘kehebohan’ jama’ah akibat guyuran air hujan yang datang dengan tiba-tiba. Dan aku dapati ember hitam didekat tempat penampungan air hujan didekat masjid yang biasa digunakan oleh warga untuk mengambil air wudhu. Ember hitam itu aku tadahkan tepat pada shof pertama, dengan tujuan agar air yang jatuh tidak meluber kemana-mana dan mengganggu kenyamanan jama’ah.

Keset masjidpun aku ambil dan aku tempatkan pada shof kedua untuk mengurangi cipratan-cipratan air yang datang dari atap yang bocor. Begitu pun aku lakukan pada shof ketiga dan sisi sayap kanan masjid pada bagian utara. 

***

Usai tarawih, saat tadarus di masjid telah dimulai, genangan-genangan air disana-sini terlihat melimpah. Hampir seluruh lantai basah. Aku ambil sapu dan coba mulai keringkan sisi-sisi lantai yang tergenang air. Lumayan, tampak berkurang genangan-genangan itu seiring redanya hujan. Aku ambil kain-kain rombeng yang tersimpan didalam almari masjid untuk menyerap sisa-sisa titik-titik air yang tinggal hitungan butir.

Alhamdulillah, tampak kering sudah lantai-lantai yang tadinya basah.

“Masjid ini memang sudah sangat tua Mas!” teguran suara Pak Jamalin, wakil imam masjid Ar-Rahmah Lipang memecah kesibukanku.

“MasyaAllah, genangan air disana-sini Pak.”

“Masjid ini sudah sekitar 25 tahun tidak ada perbaikan sama sekali. Atapnya banyak yang keropos. Kayu-kayu penyanggga masjidpun sudah banyak yang termakan rayap. Semuanya rapuh.”

Lalu aku terdiam membisu mendengar penjelasan dari pak Jamalin. Pikiranku menerawang jauh dan mulai bicara; “Subhanallah, sungguh masih ada semangat-semangat yang menyala di wilayah seperti ini. Aku cemburu pada kalian semua. Pada masjid yang berdiri seperti ini, dalam hati kalian masih ada iman untuk terus memakmurkan masjid. Betapa, aku iri pada kalian semua. Saat kalian semua disibukkan dengan guyuran hujan yang datangnya tiba-tiba, yang berpindah hanyalah langkah-langkah kecil kalian. Tapi sudah itu, iman kalian tetap membaja menghadap Sang Maha Cinta. Dalam sujud rendah kalian, aku tahu pada kepala-kepala kalian ada sedikit cipratan-cipratan air yang menempel pada tubuh kalian. Dan akupun tahu, kulit kening kalian merasakan sedikit basah saat sujud kau pasrahkan dalam kalimat ‘subhanaa robbiyal a’laa wabihamdii’. Akupun juga menyaksikan dari belakang maupun dari samping, bahwa sarung-sarung kalian telah menyerap air.”

“Dan ini selalu terjadi setiap kali ketika hujan turun Mas!” Sahut pak Jamalin memecah anganku.

***

Subhanallah.

Aku terhenyak menyaksikan peristiwa ini. Hampir sudah dua bulan aku tinggal dipulau ini. Dan aku juga hampir selalu sholat berjama’ah di masjid ini. Tapi, baru kali ini aku menyaksikan dengan langsung; sungguh para jama’ah benar-benar besahabat dengan basah saat hujan mengguyur.

Adakalanya jika direnungkan, kesederhanaan memang benar-benar memberikan pembiasaan pada pembentukan karakter. Kondisi masjid dan para jama’ah yang seperti itu, memberi satu kesadaran bahwa tidak ada halangan untuk menjadi mulia. Selemah apapun kita; jika tak mampu menjadi batu akar yang kokoh didasar tanah, menjadi daun yang memberi kelembuatan angin adalah mulia.

Semoga, jiwa dan hati kita senantiasa berproses dijalan cinta untuk meraih cinta dari Sang Maha Cinta. Sebab, cinta selalu membawakan makna dalam setiap detak langkahnya. []

 

Lipang, Rabu 3 Agustus 2011

21:37:49 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran