Mega Merah di Awal Ramadhan
Mohamad Arif Luthfi | 01 August 2011

 

Pada sebuah hari di awal Ramadhan 2011, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Iya, tepatnya pada hari Ahad 31 Juli 2011. Keberadaanku kali ini memang berada di pulau kecil yang mempunyai segala keunikannya; pulau Lipang. 

Sore itu, di penghujung bulan Sya’ban aku memang sengaja ingin menikmati keindahan sunset yang akan berganti dengan senja dan malam pertama bulan suci Ramadhan. Menikmati sunset di pantai Lantehe, arah sebelah barat pulau Lipang, memang bisa dipastikan selalu menyisakan kisah indah. Sore itu aku memang benar-benar tidak ingin melewatkan peristiwa sunset di akhir bulan Sya’ban. Sehingga tepat seusai sholat Ashar, aku bergegas mengambil kamera dan ponselku dikamar tidurku. 

Matahari sore itu bersinar sangat hangat. Sorot sinarnya menembus rerimbun-rerimbun pohon masuk dicela-cela iratan-iratan pohon kelapa dan menghangatkan jalan-jalan setapak pulau ini. Disepanjang jalan menuju pantai aku temui masih banyak rumah-rumah penduduk yang tertutup rapat dan hanya sekadar jendelanya yang terbuka untuk menangkap angin yang tengah mengalir. Akupun juga menemui beberapa lelaki juga masih asyik tidur pada ruang-ruang tamu mereka dengan hanya telanjang dada. Kakiku terus berjalan. Aku lewati jalan-jalan setapak dibawah rindang pepohonan kelapa. Memang meremajakan badan di pulau kecil seperti ini saat siang hingga sore memiliki nilai rasa yang berbeda. Apalagi pada sebuah pulau kecil di tengah perairan samudera Pasifik yang hampir diseluruh keliling pulau ini dihiasi dengan kecantikan taman bawah laut yang luar biasa. 

Untuk mencapai pantai Lantehe, aku menempuh jarak yang tidak amat jauh. Hanya sekitar 200 meter dari jarak rumah tinggalku di pulau ini. Sepanjang jalan menuju pantai, kedua mataku hampir-hampir dimanjakan oleh hijaunya rumput teki yang sangat rapi dan selalu menyisahkan kisah tersendiri di hati. Hampir disetiap petak tanah yang terhampar di pulau ini selalu ditumbuhi rumput teki. Maka wajarlah aku saat kali pertama kakiku menginjakkan langkah di pulau ini salah satu yang membuatku jatuh hati adalah kecantikan rumput yang terhampar.

Tepat diatas tanggul di bibir pantai Lantehe, aku berdiri melihat hamparan perairan samudera Pasifik yang tak berbatas. Aku hanya bisa melihat garis lurus disebrang dengan jarak yang sangat jauh saat aku menghadap ke arah utara dan barat. Dan terlihat samar-samar di arah sebelah selatan terhampar gunung awu yang merupakan pusat kota dari kepulauan Sangihe, kota Tahuna. Sore itu arloji digitalku tengah menunjukkan pukul 17:39 wita. Hampir senja memang. Banyak nelayan yang tengah pulang dari melaut. Dengan gaya khas nelayan; telanjang dada, tangan kanan menggenggam gulungan senar, dipundak kiri disampirkannya lipatan-lipatan pukat dan tangan kirinya memegang seutas tali yang diujung tali itu bergelantungan ikan-ikan hasil tangkapannya serta prktis tanpa menggunakan sandal dengan badan yang kuyup akibat pasang surut gelombang air laut.

Bersamaan dengan itu semua, hatiku mulai berdegup-degup menyaksikan mentari yang tengah mulai bergelayut rendah diufuk barat dengan posisi serong kearah sebelah utara. Iya. Bagaimana hatiku tidak mulai berdegup kencang. Karena setiap kali matahari sudah pada posisi bergelayut sangat rendah, bisa dipastikan gerakannya sangat cepat dan terlihat lintasan pergerakannya sangat cantik akibat guratan-guratannya menembus gumpalan-gumpalan awan yang sedang membayanginya. Reflek, aku mengeluarkan kamera sakuku dari box-camera.

Dengan mata yang awas, aku arahkan mata kamera kearah pergerakan cantik matahari itu. Sore itu aku benar-benar tidak ingin melewatkan peristiwa  sunset di awal Ramadhan. Dengan gerakan-gerakan tangan yang cepat aku tekan shutter kamera dengan lincah dan terarah. Sungguh benar-benar indah. Setiap hasil jepretan mata kameraku, aku melihat setiap gambarnya berbeda. Ada keunikan-keunikan tersendiri pada setiap detik pergerakan sunset. Dan itu sangat cantik. Mega merah yang dihasilkan oleh matahari jelang senja memang sangat memukau. 

luar biasa negeri ini, sungguh

pada setiap jengkal petak negerinya

ada keajaiban-keajaiban alam yang muncul

kesemuanya itu sangat unik

dan itu semua ada dan nyata

Usai mengantongi beberapa jepretan cantik, tepat pukul 17:55 wita aku melangkahkan kakiku menuju rumah tinggalku. Angin sore itu bertiup sangat bersahaja. Sejuk sekali terasa melewati sela-sela badanku. Dan hari akan berganti malam. Dengan langkah kaki yang pasti dalam hati aku berucap; ‘marhaban yaa Ramadhan’. 

Semoga pada setiap detiknya ada pemaknaan pada setiap peristiwa yang terhampar dihadapan hari. Karenanya, pada setiap jengkal peristiwa selalu ada hikmah yang tersembunyi dibalik setiap kejadian.

Lipang, Senin 01 Agustus 2011

07:06:17 WITA

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran