Disiang Tanpa Matahari
Mohamad Arif Luthfi | 05 February 2012

 

*Catatan Perjalanan Festival Anak Sangihe

Untuk anak-anak yang telah dilahirkan di Pulau Lipang

Pada dirimu aku melihat semangat yang tak retak.

Maka janganlah engakau ragu.

Langkah yang kemarin telah engkau mulai,

jangan biarkan terhenti.

Mukadimah 

Kisah sederhana ini melibatkan sebuah kapal kargo LCT Elia, aku dan anak-anak pulau Lipang. Yang terakhir adalah sebuah festival anak pulau yang dinamai Festival Anak Sangihe (FAS). Anak-anak pulau Lipang memang tak seperti anak-anak kebanyakan. Mereka tumbuh pada sebuah keluarga pesisir yang sebagian besar hidupnya bergantung penuh pada laut. Termasuk saat tidur dimalam hari yang hanya beralaskan lembar-lembar kayu triplek didepan kantor desa dibibir pantai Lantehe, pulau Lipang, mereka menyandarkan malam-malamnya.

Menjumpai Hari

Siang itu aku bersama tujuh anak didikku tengah terduduk didalam ruang kelas enam. Kami sedang membicarakan segala persiapan yang harus dibawa serta untuk menuju ibukota kepulauan, Tahuna. Diluar kelas, gerimis tengah bergelayut rapat. Awan abu-abu hitam pekat memayung raksasa diatas langit pulau. Sementara suara gempuran ombak tepat dibelakang tanjung sekolah bergemuruh menggulung-gulung.

Pernyataan Rindu

Ketujuh anak itu berwajah gradasi tak berwarna. Senang, sedih, khawatir dan luapan gembira dalam hatinya bercampur jadi satu. Mereka adalah Muharram, Alsafi’i, Alia, Hafifah, Sabeth, Greis, dan Jusria. Aku merasakan sekali bagaimana rasa khawatir mereka. Semangat berlatih mereka dalam mempersiapkan ajang Festival Anak Sangihe sungguh tidak biasa. Seleksi sederhana tingkat sekolah mereka perjuangkan guna mendapat tempat untuk bisa turut berkontribusi dalam ajang festival anak. Pagi, siang, sore mereka berlatih optimal untuk mempersiapkan ajang festival itu. Bahkan disaat malam tak berlistrik tengah menyelimuti, bibir-bibir kecil mereka menyenandungkan syair-syair yang tengah dihafalkannya.

Keraguan yang Semakin Meretak

Dan siang itu, ajang festival sudah tinggal hitungan hari. Mereka telah siap. Mereka siap berangkat menyebrang pulau menuju ibukota kepulauan. Namun, dari hati kecilku aku menangkap kegundaan pada hati mereka. Haruskah mereka tanggalkan semangat utuh mereka pada cuaca yang bermata merah menyala pada hari itu? Sementara mimpi cahaya ibukota sudah menghuni pada setiap jengkal hati mereka.

Kondisi Cuaca yang Semacam Ini

Kami hampir-hampir saja mengurungkan niat untuk berangkat menyebrang ibukota kepulauan. Cuaca yang mengancam sungguh menjadi penentu utamanya. Menjelang keberangkatan menuju ajang festival, memang dalam pantauanku dalam sepekan tidak ada satupun nelayan pulau yang turun melaut. Gelombang laut sangatlah buas. Angin bertiup diluar batas normal. Pohon mangga berukuran raksasa disamping rumah Greis pun tumbang. Jalan setapak yang terbuat dari beton itu pun terangkat pecah. Kayu-kayu atap masjid berkeping-keping berjatuhan dihantam semburan angin. Kencang sekali. Disitulah letaknya. 

Menyulut Percikan Semangat

Mereka khawatir. Dan aku pun tidak bisa pungkiri. Tantangan mereka bukan sekedar hadir bersaing dengan anak-anak ibukota kepulauan. Bukan. Tapi tantangan itu lebih “nyata”. Mental mereka ditempa. Kesabaran mereka diuji. Grafik ketahanan semangat mereka di-gembleng. Dan semuanya itu nyata. Dalam kelas, aku yakinkan mereka. Aku kompori mereka dengan yel-yel perjuangan. Aku tekankan bahwa semangat tak layak redup. 

Sebuah Kabar yang Diharap

Lalu tiba-tiba seraya berlari-lari kecil dengan nafas memburu, kepala sekolah mengabarkan bahwa kapten kapal LCT (Landing Cargo Tengker) Elia yang tengah beroperasi membangun dermaga pulau Lipang menawarkan supaya siang itu juga anak-anak turut serta dibawa menuju ibukota kepulauan, Tahuna. Kebetulan kapal LCT Elia siang itu akan melakukan pelayaran menuju ibukota kepulauan. Mendengar kabar itu, serentak, ketujuh anak itu berteriak dengan lantang menyebut-nyebut nama ibukota kepulauan, “Tahuuuunaaaa...!”.

Siang Itu

Menuju kapal LCT Elia, dibibir pantai Lantehe mereka diantar dan disaksikan puluhan orang pulau. Para orang tua memberikan dukungan moril pada ketujuh anak itu. Ada pula yang memberi dukungan materiil berupa; kukis (kue), gula-gula (permen), uang saku, dan lain sebagainya. 

Menghampiri Kerinduan

Siang itu gelombang laut tampak putih bergulung-gulung. Volume air laut naik. Dan ketujuh anak itu untuk sampai pada kapal LCT Elia harus dimobilisasi menggunakan perahu pamo milik kampung. Hal ini dikarenakan sekitaran pantai lantehe dihuni oleh bongkahan batu karang yang menyebabkan kapal LCT Elia tidak dapat merapat ke tepi pantai.

Pada Sisi Dinding Kapal

Mereka dengan penuh semangat menyebrang menghampiri kapal LCT Elia. Saat perahu pamo merapat pada sisi kapal LCT Elia, mereka satu per satu memanjat dinding lempeng besi kapal dan melompat agar sampai diatas kapal. Sementara hal ini tidak mudah dilakukan mengingat naik turunnya gelombang air laut yang besar. Sehingga, lengah sedikit akan mengakibatkan bahaya yang fatal; terjun bebas ke laut diantara sela-sela kapal dan perahu pamo. Perhatianku tercurah penuh pada setiap gerakan mereka saat memanjat sisi kapal yang berkarat itu. Tangan mereka diulurkan keatas. Kaki mereka men-jejak-jejakan pada dinding lempengan sisi kapal. Kulit tipis mereka bergesekan dengan karat-karat kapal itu. Dengan rajin aku berteriak “hati-hati!”. Satu per satu mereka berhasil meraih badan kapal dan berdiri diatasnya. Dan peristiwa ini, aku saksikan nyata dihadapan mataku siang itu. Sungguh, mereka benar-benar sedang ditempa fisik dan mentalnya.

Merumahkan Semangat

Klakson LCT Elia dibunyikan pertanda keberangkatan dimulai. Mataku memandang puluhan tangan melambai di bibir pantai Lantehe untuk memberikan dukungan semangat pada tujuh anak pulau. Kepalan tangan anak-anak itu menyambutnya rapat-rapat. Mereka terdiam. Tak ada kata-kata yang keluar. Hanya genggaman tangan yang semakin rapat yang aku saksikan pada tiap tangan-tangan mungil mereka. Dan kapal telah melaju meninggalkan pantai Lantehe pulau Lipang.

Sejak Itu Aku Menyaksikan Niat yang Tuntas

Suasana laut gelap kelam abu-abu. Jarak pandang pendek. Gerimis semakin rapat mengguyur laut. Suasana cukup dingin. Dengan selembar terpal yang disediakan oleh ABK kapal, anak-anak telentang tersandar pada ubin baja kapal. Mereka tampak kedinginan. Namun rasa lelah sepertinya membuat rasa dingin kian menusuk tulang-tulang mereka. Aku menyaksikan perlahan-lahan tangan-tangan kecil mereka mulai menarik pinggiran terpal dan ditelangkupkannya pada tubuh mereka. Ada pula yang kakinya dipaksa-masukkan pada sela-sela tumpukan karung pasir. Mereka terlihat mulai tertidur. Pada alas terpal yang mereka sandari, ada linangan air hujan yang merembes. Sementara angin terus bertiup menyapu segala penghalang. Suasana dingin. Dan kapal terus berjalan.

Sepenuh Tanggungjawab

Aku menyempatkan untuk naik menuju ruang kemudi kapal. Disana aku menemui kapten kapal LCT Elia, Ateng Solisa. Kapten menceritakan bahwa pelayaran hari itu sangat berat. Disamping kondisi cuaca yang buruk, ombak laut yang tinggi, kapal sedang dalam kondisi darurat. Kapal hanya berjalan dengan menggunakan satu mesin. Selain itu terpaan angin yang kuat membuat kapal harus berjalan dengan arah kompas 180 derajat menuju ibukota kepulauan. Raut wajah kapten kapal cukup tegang saat itu. Ia mengamati dengan seksama kondisi laut dengan penuh lekat. Urat kulit dahinya mengkerut. Sesekali ia menarik nafas panjang dan mengamati arah kompas.

Menyandarkan Lelah

Melihat ketegangan pada ruang kendali kapal, kakiku turun menyusuri tangga. Aku hampiri siswa-siswaku yang sedang tertidur pulas berselimut terpal di dek kapal bagian bawah. Mereka terlihat pulas. Kulit-kulit tipis mereka harus bergesekan dengan kasarnya permukaan terpal menahan dinginnya suasana. Suara gemuruh mesin kapal yang berada tepat disamping kanan mereka tak sedikitpun mengusik lelap mereka yang telah berselimut lelah. Tumpukan tiang-tiang beton dermaga yang dibawa oleh kapal LCT menjadi benteng penghalang angin yang tak sempurna. Sementara gerimis kian menipis. Dan kutatap langit hari yang kian senja. 

Khatimah

Perlahan kapal mulai merapat pada mulut pelabuhan kota Tahuna. Suasana senja itu, pelabuhan cukup lengang. Sorot lampu warna oranye pelabuhan memperjelas suasana gurat hari yang lelah. Dan satu per satu siswa-siswiku turun dari kapal LCT Elia. Mereka melompat dan mereka injakkan kakinya pada tanah ibukota kepulauan. Dan kubisikkan pada mereka; “selamat datang di Tahuna!”.

Apakabar ibukota? Niat janjiku telah kutunaikan untuk menemui undanganmu; Festival Anak Sangihe. Sungguh aku melihat ada semangat perjuangan (hamasah jundiyah) yang utuh dan ada semangat untuk berperan yang hebat pada diri mereka. 

Perjalanan panjang hari ini, kelak akan menjadi sepenggal bekal pada pemaknaan negeri ini.

---

O, sungguh sejarah republik ini harus diteruskan! (*)

Tahuna, Kamis 16 Februari 2012 

dini hari tepat 00:25:13 wita

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran