Menggali Ilmu di Atas “ketek”
Milastri Muzakkar | 22 May 2012

“Setiap Orang adalah Guru dan Setiap Tempat adalah Sekolah”

Terik matahari di siang hari biasanya membuat orang malas berada di luar rumah. Tapi tidak bagi anak-anak. Bagi mereka, setiap saat adalah waktu untuk bermain. Sementara bagi aku, siang hari adalah waktunya “membeli” signal. “toko” signalnya ada di pinggir sungai. Kebetulan di dekat sungai, sigyalnya lumayan bagus.

Suatu hari, anak-anak melihat aku duduk sendiri. Jadilah setiap aku ke sungai, anak-anak juga akan datang. Mereka seperti detektif yang bisa melacak keberadaan seseorang. Anak-anak kemudian mengajak aku nongkrong di atas ‘ketek’ (nama lain dari perahu bermesin) yang sedang parkir di pinggir sungai. Begitulah seterusnya ssampai menjadi kebiasaan setiap siang hingga sore hari.

Siang itu, di atas ‘ketek’ berwarna hijau, aku dan anak-ana, kira-kira sepuluh orang, bersantai. Mereka adalah sekumpulan cowok-cowok dari kelas yang berbeda. Bisa dibilang mereka sangat dekat denganku. Sampai-sampai beberapa orang telah mempatenkan mereka sebagai “bodyguard” aku. Kemana aku pergi, biasanya ditemani oleh mereka. “Ketek” ini bukan tidak berpenghuni. Kebetulan saja, ketek ini biasa parkir di bibir sungai ini. Ketek ini multifungsi.

Selain untuk mengangkut penumpang atau barang, ketek ini juga menjadi rumah pemiliknya. Seperti rumah pada umumnya, di dalamnya, lengkap dengan peralatan tidur, dapur, dan peralatan rumah lainnya. Aku menyebutnya, ‘rumah perahu’. Biasanya ketek ini disewa oleh para pekerja pabrik kayu untuk mengangkut kayu yang telah ditebang menuju pabrik.

“Kami boleh duduk di sini enggak pak?,” tanyaku ke bapak pemilik ketek.

“oh iya boleh. Ndak papa,” jawab bapak itu sambil tersenyum.

Kami pun segera menduduki ketek. Kami Ngobrol dari hal-hal yang terkait sekolah, kebiasaan masyarakat di sini, saling melempar pantun, berphoto, dan lain-lain. Kami menyaksikan speedboat, ketek, sampai perahu sampan, silih berganti di depan kami. Setiap ada yang menarik pandangan, aku tidak akan melewatkan uintuk menjempretnya. Sesekali aku mengajak ngobrol bapak pemilik ketek yang ternyata memerhatikan kami dari tadi.

Aku cukup terkesima dengan rumah perahu ini. Ini kayak rumah beneran ya pak? Enak enggak tinggal di ketek begini? sejak kapan? Gimana penghasilannya? adalah beberapa pertanyaan yang aku lempar ke bapak itu. Dari hasil obrolan itu, banyak hal yang bisa aku petik. Aku jadi tahu bahwa kerasnya gulungan ombak serta kencangnya angin laut bukan penghalang bagi mereka yang terhimpit ekonomi.

Sebagai selingan ngobrol, sesekali anak-anak menjeburkan dirinya ke sungai. Tampaknya mereka ingin aku menyaksikan keahlian dan gaya berenang mereka.

“Lihat saya bu, saya bisa berenang sampai ke tengah,” kata Anton.

“Photo kami bu, kami bisa tenggelam sampai beberapa menit,” teriak Reza.

Setelah beberapa kali berenang ke tempat yang lebih dalam, mereka naik lagi ke ketek. Kami kembali ngalor ngidul. Saat ada ketek yang ingin menyebrang ke sebelah, biasanya kami ikut tanpa bayar.

“Ikut yuk bu ke sabang (sabang=seberang). Enggak usah bayar kita kan ikut aja,” ajak anak-anak.

Kebiasaan anak-anak disini adalah numpang gratis di ketek siapaun yang akan menyebrang. Tanpa fikir panjang, dengan senang hati aku langsung naik ke ketek yang akan berangkat. Mumpung bisa jalan-jalan gratis. Kami menikmati perjalanan sambil berphoto-photo.

Setelah itu, kami kembali ke ketek rumah tadi. Kembali ngobrol. Kesempatan ini aku gunakan untuk lebih mendekatkan diri ke anak-anak. Suasana nyaman dan santai membuat mereka tak malu atau ragu mengatakan apa yang mereka ingin katakan.

Aku betul-betul memosisikan diri seperti teman sebaya mereka. Makanya suasanya yang terbangun sangat cair. Di sini, banyak hal terungkap yang jarang, bahkan, tidak pernah anak-anak ceritakan dalam kesempatan lain. Misalnya, keinginan-keinginan mereka jika besar nanti, harapan dan kritikan mereka terhadap sekolah, dan masih banyak lagi. Lebih dari itu adalah, perlahan-lahan, karakter anak-anak mulai terlihat. Yang di sekolah dianggap paling nakal misalnya, ternyata punya kelebihan lain.

Aku juga menggunakan kesempatan ini untuk tebak-tebakan pelajaran. Mulai dari IPS, Agama, IPA, sampai kesenian. Bagi siapa yang bisa menjawab dengan benar, akan mendapatkan kue dua potong. Anak-anak terlihat antusias mengangkat tangan setaip aku mengajukan pertanyaan. Entah karena ingin mendapatkan kue atau bukan, yang jelas mereka berani dan mau mencari tahu jawabannya.

Tadinya hanya bercanda, tapi ternyata aku melihat motode belajar seperti ini sangat efektif. Kenapa? Asumsiku, selain karena kue, yang lebih penting adalah suasana yang lebih asyik, santai, dan akrab. Sehingga dalam keadaan bermain, secara tidak langsung anak-anak juga sedang belajar seperti di kelas.

Paling tidak ada tiga pelajaran yang bisa aku dipetik. Pertama, bahwa belajar itu bisa di mana saja. Kedua, pendekatan personal untuk membangun keakraban itu penting untuk membangun koneksi (connecting) antara pendidik dengan yang didiknya. suasana santai, akrab dan menyenangkan itu sangat penting dalam proses belajar-mengajar.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran