Belajar dari Membelah Pinang
Dimas Sandya Sulistio | 21 May 2012

Serupa dengan nyiur atau kelapa, batangnya tinggi semampai, daunnya kecil bercabang. Tapi yang ini buahnya kecil seperti sawo matang. Itulah pinang. Jika sudah berumur satu atau dua tahun, pinang sudah bisa dipanen setiap satu atau dua minggu sekali tergantung produktivitasnya. Selesai dipetik, buah pinang kemudian dibelah, untuk diambil dagingnya dan dijemur seharian agar kering, Setelah itu, barulah pinang siap dijual kepada para pengumpul untuk selanjutnya diolah menjadi minyak di pabrik-pabrik.

Bagi sebagian masyarakat pedesaan di Aceh, membelah pinang menjadi sebuah keterampilan tersendiri yang wajib. Tentu saja karena sumber mata pencaharian utama mereka, khususnya di desa tempat saya tinggal dulu, sebagian besar berasal dari kebun pinang. Maka tak heran jika hampir di setiap rumah ada karungan pinang yang siap dibelah. Sambil berbincang-bincang dengan tetangga, para ibu-ibu biasanya dengan lincah membelah pinang menggunakan parang khas seperti celurit. Anak-anak juga tak kalah pandainya. Mereka terampil membelah pinang layaknya mengupas kulit kacang dari buahnya.

Suatu hari, saya pun tergoda untuk belajar membelah pinang. Sepintas tampak mudah, namun setelah dicoba ternyata tak segampang yang dilihat. Dengan tekstur seperti sabut kelapa, kulit pinang agak sulit dibelah tanpa tekanan yang kuat. Bentuknya yang kecil dan lonjong, kadang terasa licin bergeser kesana kemari saat mau dikupas. Kalau tenaganya kurang kuat, kulit pinang juga tidak akan terkupas. Jadi alternatifnya hasilnya bisa dua, daging buah pinang yang tidak dikupas dengan sempurna, atau malah goresan luka dalam di tangan kita oleh sabetan parang.

Benar saja, baru tiga pinang yang saya kupas. Bet! Jari tengah kiri saya jadi korban. Darah segar perlahan mulai mengalir. Tidak deras, tapi terasa lukanya cukup dalam. Ibu angkat saya yang sedari tadi memperhatikan saya lantas tersenyum seolah hal itu adalah lumrah bagi pemula. Dia sudah memperingatkan saya sebelumnya, bahwa membelah pinang tidak smudah yang dikira. Penduduk disini terlihat bisa, karena itu manjadi bagian dari keseharian mereka. Dari biasa menjadi bisa, dari bisa menjadi ahli, begitu katanya.

Sambil mencuci luka dan membalutnya dengan perban, saya teringat kata-kata ibu. Selintas, saya pun jadi teringat dengan aktivitas belajar mengajar di sekolah yang saya lakukan. Hampir setiap hari saya selalu meyakinkan anak-anak bahwa mereka pasti bisa. Meski cara mereka membaca masih terbata-bata dan bahkan ada anak kelas 3 yang belum mengenal huruf, saya selalu katakan “Kamu pasti bisa!”. Sampai-sampai saya membuat slogan ‘Hanjeut keun hanjeut’ yang artinya ‘tidak bisa bilang tidak bisa’, sekedar untuk memotivasi mereka.

Tapi apakah saya sudah membiasakan mereka agar bisa? Apakah saya cukup bersabar sampai mereka bisa? Atau saya malah menyeret mereka hingga terengah-engah agar bisa? Lagi-lagi, dari membelah pinang, saya menemukan pengalaman berharga bahwa belajar adalah sebuah proses. Dan tidak ada proses yang berjalan instan. Semuanya butuh waktu dan pembiasaan. Dalam konteks membelah pinang, bisa jadi saya adalah anak TK yang baru belajar mengenal warna atau berhitung angka 1 sampai 10. Jadi wajar jika sehabis empat, saya bilang tujuh, sama seperti setelah tiga pinang jari saya langsung tergores luka.

Karena belajar adalah sebuah proses, maka menjaga keberlanjutan proses itu menjadi bagian yang sangat penting, bahkan kadang lebih penting dibanding hasilnya. Misalnya saja, banyak orang percaya bahwa nilai dalam rapor adalah hasil belajar yang merupakan salah satu syarat untuk menggapai kesuksesan. Lantas belajar kemudian dipahami dengan cara duduk rapi, mendengarkan penjelasan guru, membaca buku teks pelajaran, serta mengerjakan soal-soal. Malah menghafal jawaban yang benar dianggap sebagai kunci sukses mendapat nilai baik, meskipun anak tidak paham maknanya. Benarkah itu cara belajar?

Berbicara tentang belajar memang sekompleks arti belajar itu sendiri. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, disebutkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu tertentu dengan tergantung pada kekuatan harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti oleh suatu hasil tertentu dan pada daya tarik bagi orang yang bersangkutan. Sedangkan The American Heritage Dictionary mendefinisikan belajar (learning): to gain knowledge, comprehension, or mastery through experience or study. Jadi, belajar bermanfaat untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman melalui pengalaman dan studi.

Namun demikian, definisi ini masih mengandung banyak istilah (knowledge, comprehension, mastery) sehingga sebagian psikolog mendefinisikan belajar sebagai: a relatively permanent change in behavioral potentiality that occurs as a result of reinforced practice. Dengan kata lain, belajar bisa dilihat dengan adanya: (1) Perubahan pada perilaku, (2) Perubahan perilaku itu bersifat permanen, (3) Perubahan perilaku tidak selali terjadi langsung setelah belajar, dan (4) Perubahan perilaku merupakan hasil pengalaman atau latihan.

Sepertinya banyak guru yang memiliki ide-ide cemerlang agar muridnya bisa belajar dengan baik. Pertanyaannya adalah, apakah ide-ide tersebut sudah dapat membelajarkan anak dalam arti mengubah perilaku ke arah ynag lebih baik secara relatif permanen? Jika berdasar pada definisi belajar di atas, mungkin bisa dihitung, berapa banyak anak kita di sekolah yang benar-benar belajar. Berapa banyak orang tua dan guru yang sudah belajar sehingga ada perubahan positif yang teraplikasi dalam perilaku mereka.

Semoga dalam kenyataan di lapangan, tidak ada anak yang kita anggap selama ini belajar (karena sering mengerjakan sioal-soal maupun lembar kerja) padahal hanya menghafal untuk sekedar menjawab soal. Atau, adakah anak kita anggap jarang belajar (karena lebih sering mengeksplorasi dan bermain) justru memberikan perubahan perilaku yang positif. Tentu saja untuk memperoleh output demikian, materi yang diberikan guru tidak terkotak-kotak, tetapi bisa dipadukan dengan materi lain.

Sebuah pepatah berbunyi: Childhood should be a journey, not a race. Everyone can be a winner by its own track. Masa kanak-kanak seharusnya merupakan suatu perjalanan atau petualangan bukan pertandingan ataupun kompetisi, karena setiap anak layak jadi pemenang di jalurnya sendiri-sendiri. Dalam hal ini, saya sepakat bahwa belajar adalah menghasilkan gagasan, bukan mengonsumsi gagasan. Jadi, untuk menghasilkan gagasan, anak perlu diberi kesempatan belajar dengan berbagai gaya. Caranya bermacam-macam, ada yang melalui bermain, berbuat, melalui stimulasi panca indra, imitasi, dan belajar dengan segenap kecerdasan majemuknya.

Hari itu, jari saya mungkin terluka. Tapi itu tak sebanding dengan pelajaran yang didapat. Terima kasih untuk bincang sore dengan ibu dan kegiatan ‘membelah pinang’ yang telah memberikan refleksi mendalam bagi saya tentang belajar dan mengajar. Menjadi pengajar rupanya memberi kesempatan bagi saya agar terus menimba ilmu. Belajar dan mengajar seperti bicara telur dan ayam yang saling melengkapi. Tentu saja yang bersemangat mengajar tidak akan pernah berhenti belajar. In teaching we will learn, in learning we wiil teach. Begitu katanya.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran