Terimakasih Tuhan :)
Oleh: Medha Ardiana Gustantinar,

Terimakasih Tuhan, atas semuaa indah yang Engkau berikan. Terimakasih akan pelajaran, kesempatan dan kehormatan sarat makna yang akan kudapatkan saat ini. Semuanya semakin menyadarkanku akan satu hal penting yang mutlak, bahwa Engkau sayang aku Tuhan. Dan itu lebih dari cukup......

Perjalanan luar biasa ini aku mulai hanya dengan modal keyakinan dan harapan. Mendengar adanya program ini, tidak tahu mengapa, keyakinan dan harapan itu muncul. Sampai pada akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar. Bukan hal gampang untuk memutuskan pada akhirnya ikut bergabung. Karena ternyata untuk mengambil satu kesempatan harus mengorbankan kesempatan yang lain, yang mungkin ‘tampak’ lebih indah. Dan juga terjadi banyak perdebatan dengan banyak pihak, ‘kekhawatiran mereka-menunjukkan aku bisa’, dan pada akhirnya keyakinan itu menang. Selalu menang.... Mengutip sebuah pernyatan teman, “Ketika kamu menyukai sesuatu dan kamu meyakininya, maka kejar itu, dapatkan dan jangan kamu lepaskan”. 

Aku sudah mendapatkan kesempatan itu, dan tidak ada alasan untuk melepaskannya. Setelah lulus tahap seleksi, aku dipertemukan dengan 72 orang hebat  dari berbagai pelosok negeri. Saking hebatnya mereka, bahkan sampai membuatku meyakini mereka hebat saat baru pertama kali bertemu. Kesempatan luar biasa bertemu dengan orang-orang ‘gila’ yang berenergi positif tanpa batas dan penuh dengan harapan. Kehadiran mereka membuatku belajar tentang banyak hal dan memaksa diri menjadi lebih baik.

7 minggu yang kuat dan berkesan, sampai-sampai ke 72 orang itu ‘membuat’ satu tempat khusus di hatiku. Ruangan kecil yang kokoh dindingnya dan dalam, karena yang kecil itu lebih mampu bertahan, yang kokoh itu lebih sulit dihapus dan yang dalam itu lebih sulit diambil. Hebatnya mereka lagi, walau sekarang kami berpisah namun mereka selalu bisa jadi ‘penyadar’ saat ketidakmauan bergerak dan keinginan untuk menyenangkan diri terlalu banyak terjadi. Dan saat ini aku sudah berada di kamar berdinding hijau diantara bukit hijau di Kampung Gunung Julang, Desa Lebaksitu, Kecamatan Lebakgedong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Indonesia. Kampung kami terletak diantara perbukitan, dimana rumah yang kami tinggali dan sawah-sawah di depan rumah kami adalah hasil dari penggundulan bukit-bukit itu. Kamar yang aku tinggali adalah kamar kecil luar biasa.

Mengapa luar biasa? karena dari jendela kamarku aku bisa melihat perbukitan hijau, sawah padi hijau, petani yang akan ke sawah, penambang emas yang akan pergi menambang, anak-anak pergi sekolah, perumahan di atas bukit, dan juga sekolah. Ya, dari jendela kamar aku bisa melihat sekolah setiap saat, tempat yang penuh dengan harapan dan semoga pencerahan, SD Negeri Lebaksitu 1 dan SMP Negeri Satap 2. Pemandangan yang terlihat dari jendela kamar Pada suatu saat aku pernah bertanya, “Mengapa aku ditempatkan di Lebak yang jaraknya dekat?”. Dan saat ini aku sudah menemukan jawabannya, karena mengabdi bisa dimana saja, karena jarak dan tingkat kesulitan bukan ukuran dalam sebuah pengabdian. Bahwa mengabdi itu tulus tanpa syarat.

Terimakasih Tuhan atas kesempatan indah ini. Kesempatan yang tidak terbeli karena tidak ternilai harganya. Kesempatan untuk lepas dari ‘kenyamanan’ dan ‘perlindungan’ yang diberikan orang-orang terbaik di sekitarku, sehingga aku bisa tahu batas kemampuanku dan senantiasa meningkatkannya. Jangan khawatir, aku disini baik-baik saja, belajar kehidupan, belajar menjadi lebih ‘medha yang arif, cerdas dan bijaksana’, belajar bersyukur, belajar kerja keras dan bahagia dalam keterbatasan. Dimulai dengan niat tulus, maka Tuhan pasti memberi kemudahan dan perlindungan. Aku siap memulai setahun ini dengan senyum terlebar untuk selalu semangat dan ceria, bahu yang kuat untuk menahan beban, hati yang lapang untuk menerima kesulitan yang mungkin terjadi, dan harapan akan pencerahan yang tidak terbatas.

Kamis, 7 Juli 2011 Kamar kecil luar biasa

Medha Ardiana Gustantinar


Cerita Terbaru
Cerita menarik lain dari Pengajar Muda

Hari Turunnya Al Qur'an di Desaku, Kuala Baru, Aceh Singkil

Bab 2 : Ngelong

Bab 1 : Ibu Guru Baru

Prolog : Bumi Silampari

Merica dan Pendidikan Lalomerui

Seluruh Cerita

Lihat seluruh cerita Pengajar Muda

Ikut Iuran