Okt
06

Hari ini adalah minggu ke 3 aku mengajar di SD Inpres Urat Fakfak Timur. Masih belum merasa nyaman dan menemukan feel yang tepat dalam mengajar. Aku masih bingung dan meraba-raba bagaimana mengajar itu sesungguhnya?

Aku diamanahi memegang kelas 3 dan 4 sekaligus. Dua rombongan belajar ini tergabung dalam satu ruangan. 4 anak kelas 4 dan 10 anak kelas 3 (namun 2 lagi tak pernah masuk). Jujur, biarpun jumlahnya relatif sedikit, aku belum bisa mengendalikan mereka semua.

Pagi ini, pertama kalinya aku melihat prosesi upacara bendera. Sejujurnya, kurang bisa dikategorikan sebagai upacara bendera. Namun, semangat mereka untuk tetap melakukan upacara perlu diacungi jempol. Biarpun beberapa tak pakai sepatu, seragam tak lengkap, baju tidak dimasukkan, rambut tak disisir, topi,apalagi dasi entah kemana, tapi aku tetap merasa bangga berada di tengah-tengah barisan. Mereka mengajarkanku kesederhanaan dan apa adanya, namun tetap dengan esensi ke-Indonesiaan yang prima.

Ada yang mengganjal dari salah satu anak didikku. Namanya Hidayat, kelas 4 SD. Pria kecil itu, walaupun masih kesulitan membaca alfabet namun semangat bersekolahnya tak pernah padam. Terbukti, dari awal masuk hingga sekarang, dia belum pernah absen. Hobbynya bermain bola dan cita-citanya adalah menjadi seorang dokter.

Hampir setiap hari ketika pulang sekolah, dia seringkali mengunjungi rumah. Masuk dengan tiba-tiba hingga mengagetkanku dengan ucapan salamnya yang khas. Ketika tifa mulai dipukul (sejenis bedug penanda jam sholat), dia bergegas mengingatkanku dengan bertanya, “Pak guru, sholat?” Manis sekali.

Dia seringkali membuntutiku dan bertanya apa saja. Seperti ingin merebut perhatianku. Ah, itu tak masalah buatku, itung-itung ini bisa aku gunakan untuk melakukan pendekatan dengannya. Aku tak perlu repot mendekati, ealah anaknya sudah mendekat sendiri.

Nah, pagi ini, calon dokter kecilku ini benar-benar seperti membuat ulah. Nada bicaranya mulai berlebihan dan tingkahnya seperti ingin mengundang perhatian lebih. Dia berteriak, memukul-mukul meja dengan penggaris kayu, mendadak diam, tiba-tiba menangis ketika aku tanya, “Hidayat kenapa?”

Pun ketika jam pelajaran dimulai. Biasanya dia tenang dan bisa mengkondisikan teman-temannya yang lain. Namun, kali ini sepertinya dia kesulitan mengatur dirinya sendiri dan mungkin butuh waktu untuk sendiri. Ah aku bingung.

Puncaknya, dia membuatku emosi dengan mondar-mandir keluar masuk kelas. Beberapa kali aku panggil dan ajak untuk masuk, dia mengabaikan. Serangkaian panggilan manis seperti “pak dokter”, “anak baik”, “anak sholeh”dan “anak pintar” tak mempan membuatnya luluh merapat kelas. Hingga lagi-lagi ketika aku tanya, “Hidayat kenapa?”mendadak dia melipir ke bangku dan menundukkan kepalanya.

Sampai jam pelajaran sekolah berakhir dansalah seorang anak selsai memimpin doa, Hidayat masih dalam tundukan pandangannya. Kenapa sebenarnya dengan anak ini? Marahkah dia ketika aku memanggilnya beberapa kali dan seakan melarang keluar masuk ruangan? Atau, dia merasa aku kurang banyak memberikan perhatian untuknya?

Aku merasa bersalah, karena aku sempat mengeluarkan kata-kata yang mungkin menyinggungnya. Sungguh, aku tak sengaja, mungkin karena aku sudah emosi. Aku mendadak berceletuk, “Hidayat kenapa? Kok tidak seperti biasanya. Biasanya Hidayat bisa bersikap baik!” Ya ampuuun, marahkah dia padaku?

Semua anak sudah keluar, Hidayat masih di bangkunya. Aku menghampiri dan lagi-lagi bertanya, “Hidayat kenapa? Hidayat marah kah dengan Pak guru? Pak guru minta maaf ya, pak guru tidak marah sama Hidayat kok!” Dia hanya diam. Aku mulai khawatir, takut sungguh takut menyakiti hatinya.

“Hidayat, pak guru minta maaf ya. Mari pegang tangan pak guru!” (maksudnya mengajak salaman). Perlahan dia menjulurkan tangan kecilnya itu. Kemudian bangkit dan perlahan keluar kelas. Aku menghela nafas panjang. Semoga besok dia kembali baik-baik.

Kejadian ini sungguh membuatku kepikiran hingga perjalanan ke rumah. Ah, ternyata anak-anak jauh lebih sulit ditebak dari pada seorang gadis cantik!!! *ups, haha…

Sampai rumah, aku corat-coret sebentar agenda harianku, menuliskan “gejolak” yang terjadi hari ini. Tiba-tiba, suara kecil mengagetkanku, “Assalamualaikum, Pak Guru!!” aku tersentak dan mencoba memergoki asal suara. Aku senang, ternyata sosok yang nampak itu adalah Hidayat. Lengkap dengan senyumnya yang khas seperti biasanya. Mencoba semanis mungkin ketika menyapaku. Alhamdulillah, akhirnya aku kembali menemukan senyum Hidayat!

Lega rasanya, ketika kutanya dengan nada bercanda, “Hey, pak dokter, hari ini kau kenapa?” Dia hanya meringis dan menjawab, “Tarada Pak guru!”.

Ps. Ohya, aku menuliskan note ini disamping si anaknya, Hidayat. Hahaha. Salah seorang temannya tertawa-tawa mengetahui apa yang aku tulis. Biarlah! Ohya, kaos kuning celana biru itu adalah dokter kecil yang kumaksud, ya Hidayat!

 

Enda Guru

6 Agustus 2012

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!