info@indonesiamengajar.org (021) 7221570

Lilin Harapan dari Fadoro

Marlan 2 Juli 2024

Perjalanan kali ini aku diajak salah satu guru untuk mengunjungi sekaligus menginap di rumah salah satu muridku di kabupaten Nias. Ya, meskipun sekolah penempatan ku berada di Kabupaten Nias Barat namun memang banyak murid ku yang berasal dari Kabupaten Nias karena memang daerah penempatan ku berbatasan langsung antara Kabupaten Nias Barat dengan Kabupaten Nias. Perjalanan sore itu terasa hangat, kendaraan roda dua yang kami tumpangi cukup tangguh menaklukan medan jalan. Banyak yang kami obrolkan di sepanjang perjalanan, mulai dari cerita hidup, permasalah di sekolah sampai rencana-rencana yang ingin diwujudkan pada masa yang akan datang. Setelah perjalanan cukup melelahkan karena kondisi jalan yang kurang baik dan masuk-masuk ke dalam hutan, akhirnya sampai juga kami di rumah salah satu murid ku yang duduk di bangku kelas satu namanya Lilis. Rumah kayu dua lantai yang cukup luas, meskipun rumah ini berada di tengah perkebunan namun bersih dan tertata rapi ditambah dengan lingkungan yang sejuk dan memenangkan. Sambutan hangat dari keluarga Lilis, sebelum banyak pertanyaan dari anggota keluarga dan masyarakat segera rekan guru ku memperkenalkan diri ku, meskipun ini kali kedua aku berkunjung ke Dusun ini namun kunjungan pertama aku tidak banyak bertemu dengan masyarakat di tambah waktu yang sangat singkat saat itu. Makan malam bersama keluarga menjadi momen yang cukup aku tunggu karena biasanya semua anggota keluarga akan berkumpul untuk makan bersama-sama, inilah menjadi kesempatan ku untuk mengobrol, banyak bertanya tentang keluarga, budaya sampai pendidikan anak-anak di sekolah. Aku sedikit menyampaikan perkembangan Lilis di sekolah, meminta orang tua untuk mendukung belajar ketika di rumah dan aku pun mendengarkan keluh kesah orang tua terkait pendidikan, bagaimana sulitnya akses pendidikan disini, anak-anak harus berjalan kaki melewati kebun dengan kontur jalan naik turun gunung untuk bisa sampai ke sekolah. Memang ini menjadi salah satu kekhawatiran ku juga, khawatir terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ketika muridku berangkat atau pulang dari sekolah apa lagi saat turun hujan, jalanan akan sangat licin. Namun semangat mereka untuk tetap datang ke sekolah sangat luar biasa, berbeda Kabupaten dengan akses jalan yang tidak mudah dan cukup jauh, selama ini murid-murid ku dari Dusun inilah yang selalu datang lebih awal dibandingkan murid yang jarak rumahnya dekat dengan sekolah. Aku pun menanyakan harapan orang tua terkait masa depan anak mereka, banyak harapan baik dari orang tua Lilis, aku hanya bisa menyemangati dan mendoakan semoga apa yang orang tua harapkan dapat terwujud melalui pendidikan. Banyak tawa malam ini, ketika aku menceritakan asal daerah ku dan tujuan aku disini, keluarga Lilis merasa kasihan kepadaku, ditempatkan di Ulu Wango yang kata masyarakat merupakan daerah masih sangat pelosok, aku hanya bisa tersenyum dan menyampaikan  rasa syukur bahwa ini adalah jalan yang ditakdirkan oleh Tuhan. Tawa juga terkadang pecah ketika aku mengalami kesulitan menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan menggunakan campuran bahasa Indonesia dan bahasa daerah, karena memang orang tua Lilis dan beberapa anggota keluarga nya juga tidak begitu paham dengan bahasa Indonesia bahkan ada juga yang tidak sama sekali mengerti dan mampu berbahasa Indonesia, ketika tidak saling paham saat itu lah kami hanya bisa tertawa bersama-sama. 

Siang harinya selepas pulang dari Gereja aku bersama rekan guru ku berkeliling Dusun, singgah di beberapa rumah murid ku yang lain, sedikit mengobrol dengan orang tua mereka. Setiap rumah yang aku singgahi sangat menyambut baik kedatangan ku, menyuguhkan makanan yang mereka punya sampai tak sanggup lagi perut ini menampung lebih banyak makanan. Banyak ucapan terima kasih dari pada orang tua kepadaku, sebagai guru bagi anak-anak mereka dan sebagian anak juga kerap menceritakan keberadaan ku di sekolah kepada orang tua mereka. Aku hanya bisa tersenyum dan ada rasa senang karena apa yang aku lakukan di sekolah masuk ke dalam memori baik mereka dan diceritakan kepada orang tua di rumah. Sebelum pulang beberapa anak memberikan persembahan kepadaku, aku cukup kaget dan sebetulnya tidak mau menerima persembahan dari orang tua mereka, bukan karena nominalnya yang kecil, melainkan aku mengerti bahwa jumlah uang yang mereka berikan sangat besar dan berarti bagi mereka, memperoleh nya pun cukup sulit aku rasa. Namun rekan guru ku meminta aku untuk menerimanya, karena itu merupakan ucapan terima kasih dan dengan menerimanya artinya aku menghargai mereka. 

Banyak harapan dari dusun yang terletak di hutan Gunung Gui-gui ini, banyak angan untuk menjadikan hidup lebih baik dan aku tidak dapat membantu lebih banyak untuk mewujudkan angan-angan itu selain melalui doa. Banyak pembelajaran yang aku pahami dari sekian banyak obrolan yang dilakukan, perubahan yang mereka inginkan namun akan sangat sulit karena kondisi dan situasi yang tidak cukup mendukung. Terima kasih ira ama ina talifuso (bapak ibu saudara) atas sambutan hangatnya, atas kesempatan dan pemahaman yang aku dapatkan setelah bertemu dengan masyarakat Dusun 4 Fadoro Idanoi, Kecamatan Hili serangkai Kabupaten Nias, aku menjadi lebih memahami kondisi murid-murid ku, memahami bagaimana proses perjalanan mereka untuk bisa sampai ke sekolah. Semoga apa yang bapak ibu harapkan untuk anak-anak dapat terwujud dengan cara yang Tuhan kehendaki, semoga semangat itu tetap menyala, berjuang untuk dapat merubah hidup dengan proses pendidikan maupun dengan jalan-jalan lain.

Fadoro, 30 Juni 2024


Cerita Lainnya

Lihat Semua