Sang Pemenang
Maristya Pratama | 01 January 1970

 

Kemerlap cahaya lampu-lampu nampak dimata anak-anak didikku. Serasa  haus akan cahaya lampu di malam untuk beraktifitas. Anak-anak senang bermain dimalam hari ditengah keramaian lapangan Desa Rato. Aku memandang adanya senyum merekah ditengah keramaian itu. Dimulut mereka terasa aneka makanan yang berwarna-warni dan manis. Anak-anak juga bisa merasakan dinginnya es dari sepotong es lilin. Mereka bisa mengerti tentang acara-acara televisi yang menarik untuk ditonton. Hal ini nampak berbeda dari keseharian anak-anak di Dusun Baku. Mereka harus berjalan jauh untuk bermain. Malam hari yang bisa mereka lakukan adalah tidur lebih cepat karena kegelapan yang menyelimuti mata. Mulut mereka tidak bisa terpuaskan oleh makanan dan minuman enak ala anak-anak kota. Keadaan sementara itu benar-benar dimanfaatkan oleh anak-anak. Mereka mengisyaratkan ingin tinggal lebih lama dengan sinar lampu yang memancar.

Malam itu anak-anak berada di kota kecamatan. Untuk sampai di pusat keraimaian, anak-anak harus menempuh waktu dua jam perjalanan. Mereka harus melawan mabuk darat karena jalannya berkelok-kelok. Aku rasa mereka sudah merasakan “DUFAN” karena mereka diangkat naik turun kanan kiri diatas truk. Debu jalanan yang bertaburan harus mereka hirup sepanjang perjanan. Mereka didalam truk juga bergaul dengan bambu dan beras yang akan di bawa turun gunung. Kanan kiri gunung-gunung gersang dan pantai pasir putih muncul di layar mata anak-anak. Semua halangan ini serasa mereka tidak hiraukan. Yang ada dipikiran mereka hanya kesenangan setelah mencapai kota kecamatan. Walaupun tidak seramai kota Jakarta yang penuh dengan lampu mewah. Kecamatan sudah mereka jadikan kota untuk melihat dunia lebih berwarna. Mereka hanya ingin merasakan senangnya bermain dan sebuah pembuktian atas kerja keras mereka selama ini. Selama dua minggu mereka berlatih PBB, variasi gerakan dan grak jalan indah untuk satu tujuan. Pergi kekota dan bertemu dengan teman-teman dari berbagai sekolah adalah ujung yang mereka inginkan. Ini menjadi nyawa mereka selama berada dikota. 

Malam hari ketika bulan bersinar terang, mereka sibuk mempersiapkan seragam. Khusus untuk yang perempuan malam itu disibukkan dengan mengkriting rambut. Kertas putih bergelantungan diatas kepala mereka. Cara traditional untuk mengkriting rambut tetapi hasilnya bagus. Kehebohan ibu-ibu juga sangat ketara malam itu. Menyuruh kesana kemari berharap anaknya memperoleh hasil yang terbaik. Acara makan malam pun menjadi berbeda saat itu. Aku dan anak-anak berkumpul duduk bersama untuk makan. Lauk seadanya terasa sangat enak sekali. Nasi raskin menjadi pengisi perut kita. Aku sedikit memberikan wejangan malam itu agar anak-anak tetep semangat dan jaga kesehatan. Setelah selesai makan anak-anak terasa sangat ngantuk. Mereka merebahkan badannya diatas belahan-belahan bambu rumah panggung. Sarung menyelimuti badan mereka. Aku ingin rasanya memeluk mereka satu-satu agar tidak kedinginan. Kupandang mata polos mereka satu persatu. Ada getaran-getaran semangat yang terpancar. Itulah energi yang membuatku bertahan. Aku yakin pancaran energi itulah yang akan membawa alam bawah sadarnya bergerak menuju kemenangan esok hari.

Awan bergerak dari gelap menuju terang. Kumandang adzan terdengar di telingan anak-anak yang tak biasa mendengar adzan didusunnya. Matahari mulai sedikit demi sedikit terbit untuk melihat senyum cerah anak-anakku. Mereka mulai terbangun satu persatu. Kulihat ada tubuh mereka semakin bugar setelah istirahat lumayan lama. Aku dan anak-anak bersama-sama bersujud di hadapan Sang Pencipta agar pertandingan nanti berhasil dan dilancarkan. Perlombaan hari ini akan dimulai sore hari. Maka aku memberikan kesempatan mereka untuk bermain dengan teman-teman yang ada dikota. Kesibukan mulai berasa panik setelah matahari keluar dengan terang dan panas yang menyengat. Anak mulai mandi dan berganti kostum yang akan digunakan untuk lomba. Untuk mempercantik muridku yang perempuan, aku datangkan make up artis dari Bajo Pulau. Namanya Miss Ratu Fauzana. Kebetulan dia juga pengajar muda yang mendapat penempatan di kecamatan sebelah. Aku mendaulat Ratu untuk membantuku mempermak anak-anak agar tampil beda. Usapan-usapan tangan Miss Ratu mulai beraksi. Anak-anakku mengantri satu persatu bagaikan mengantri beras raskin yang biasa mereka lakukan. Dengan sabar Ratu mempercantik anak yang biasanya lusuh dan kucel. Mereka senang sekali. Serasa jadi artis terkenal yang di make up. Ibu-ibu dan kakak mereka juga ikutan heboh melihat atraksi yang disajikan Miss Ratu. Mereka masih jarang melihat hasil kerja Ratu yang bagus. Sembari Ratu bekerja aku mengatur anak-anak yang laki-laki. Otot-otot leherku mulai kelihatan. Kecemasan juga mulai muncul karena atribut yang digunakan anak-anak ternyata kurang. Mulai dari dasi yang tidak tau kemana bendanya sampai pita merah putih yang kurang. Aku mulai teriak kepada semua orangtua untuk mengecek dasi satu persatu. Ternyata siswa perempuan mengambil dasi padahal perempuan tidak menggunakan atribut tersebut. Pita langsung kudatangkan dari desa sebelah melalui perantara ojek. Aku sempai heran kepada kepala sekolah dan guru-guru di sekolahku. Mereka tidak ada kelihatan sama sekali ketika persiapan gaduh dan ada kekurangan disana sini. Sampai salah seorang warga bilang kalau aku yang jadi kepala sekolah. Semuanya yang mengatur Pak Yog. Kata-kata itulah yang memperkuat ragaku yang mulai melemah. Berarti sudah ada kepercayaan dari masyarakat kepadaku.

Anak-anakku sudah cantik dan ganteng. Aku menyuruh mereka untuk turun dari rumah panggung saat mereka persiapan. Anak-anak itu tidak sabar. Mereka langsung naik ke mobil box yang akan mengangkut mereka. Otot-otot leherku mulai muncul lagi. Akhirnya mereka turun dari mobil. Berbaris rapih didepan rumah panggung. Aku memeriksa satu per satu kelengkapan yang dipakai dan merapikan baju yang mereka kenakan. Pesan yang aku sampaikan kepada anak-anak yaitu yakin bahwa kalian bisa dan berjuang total sepenuh tenaga. Aku merasa lega menjelang keberangkatan mereka karena ada binar-binar semangat di mata mereka. Suasana semakin mencekam. Jam tanganku sudah menunjukkan pukul dua. Anak-anak mulai naik ke atas mobil box. Berdesak-desak diatas mobil mini mengantarkan mereka ke lapangan untuk start awal. Sampai dilapangan aku melihat warna-warni seragam dan atribut yang mereka kenakan. Turun dari mobil instruksi yang aku berikan adalah baris sesuai barisan awal. Debu lapangan bertebrangan menghampiri wajah-wajah bersih anak-anak. Perjalanan selanjutnya adalah menghampiri panitia untuk mengambil nomor urut. Alhamdulillah sekolahku mendapat urutan pertama dan keempat karena termasuk sekolah yang paling jauh dan terpencil di kecamatan. Alasannya agar sekolahku bisa pulang ke rumah lebih cepat. Nomor satu tertempel didada ketua regu putri dan nomor empat tertempel didada ketua regu putra.

Langkah pertama mereka menghentak memecah aspal jalan. Semangat mereka juga telihat berkobar. Tangan penonton bertemu untuk melakukan tepukan. Keramaian tersebut malah membuat anak-anak semakin percaya diri. Perjalanan grak jalan mulai mereka rasakan. Sorak sorai penonton sangat terdengar sekali. Ada salah seorang muridku kelas satu menjadi pusat perhatian penonton. Namanya Ayu. Selama perjalanan menuju pos dan finish, Ayu selalu dipegang pipinya. Sering sekali terdengar suara, “inai.... ana toi.” (ibue.... anak kecil...). Penonton heboh sekali melihat anak kecil kelas satu ikut lomba grak jalan indah. Perjalanan sekitar lima kilo akan mereka lahap. Pos demi pos mereka lalui. Mulai dari pos pertama yaitu pos kelengkapan dan performance. Pos berikutnya adalah pos PBB. Anak-anak awalanya merasa grogi di depan juri. Aku cuman membisikan kata yakin kalian bisa. Alhamdulillah PBB yang mereka lakukan tidak ada yang salah. Perjalanan ke pos berikutnya adalah pos variasi. Lima variasi mereka sajikan kepada dewan juri. Mulai dari variasi kupu-kupu, belah ketupat, anak panah, SDN Inpres Baku, dan langkah maju mereka sajikan di depan juri. Untuk regu putri lancar terkendali. Regu putra terjadi sedikit kesalahan karena anak-anak kurang jelas mendengar instruksi. Suasana di sekitar pos memang sangat gaduh sekali. Aku kaget juga dengan spontanitas mereka yang langsung bertindak membetulkan gerakan. Aku salut dengan ketenangan mereka. Tidak ada satu anak pun yang cemas atau bingung. Santai dan dijalani sesuai alur. Pos berikutnya adalah pos penghormatan. Di pos terakhir anak-anak sudah mulai terlihat capek. Kata-kata semangat saja yang bisa menambah kekuatan kaki mereka sehingga selesai sampai finish. Sesampai di finish anak-anak langsung mencari makanan kesukaannya. Jajanan khas anak-anak banyak diperjualbelikan. Serasa pengen bernostalgia dengan masa anak-anak maka aku membeli jajanan khas anak-anak.

Perjumpaan anak-anak dengan dunia kota berakhir. Penutupan dilakukan dengan pemberian nasihat tentang arti pentingnya proses. Anak-anak merasa senang sekali bahwa usaha kerasnya selama ini aku apresiasi. Penghargaan yang ditunggu-tungu oleh anak-anak belum bisa dirasakan karena piala belum bisa dilihat. Pengumuman akan diketahui setelah seminggu setelah lomba. Dalam perjalanan seminggu itu anak-anak berasa setahun menunggu. Akan ada pertarungan batin dan kenyataan. Proses inilah yang aku lihat unik. Menunggu sesuatu yang pasti pikirku. Aku optimis anak-anakku mendapat juara. Setiap anak dalam seminggu pasti ada saja yang menanyakan pengumuman lomba. Pembicaraan anak-anak disekolah selama seminggu yaitu masalah perlombaan di kota. Banyak pengalaman seru yang mereka ingat. Mulai dari perjalanan seru sampai berdandan ala bidadari yang cantik dan pangeran yang gagah. Gerakan-gerakan khas di perlombaan juga mereka hafal dengan baik. Instruksi-instruksi masih terdengar ditelingaku selama seminggu itu. Seminggu berjalan dengan lambat. Akhirnya usai juga. Pengumuman diketahui melalui perjalanan yang sangat panjang. Banyak melalui orang-orang yang akan datang didusunku. Biasanya perjalan kecamatan ke dusunku cuman dua jam saja. Tetapi informasi ini berjalan selama dua hari setelah hari pengumuman.

Pagi hari yang cerah aku datang kesekolah dengan senyum yang sangat lebar. Dua kilo perjalanan jalan kaki ke sekolah tidak terasa. Sampai di sekolah anak-anak ternyata tau kalau aku memegang surat pengumuman. Anak-anak aku kumpulkan ditengah lapangan. Mereka berbaris rapi dengan debar jantung yang terdengar kencang. Kubacakan pengumuman secara berlahan-lahan. Sepasang telinga tertuju pada suaraku yang keras. Begitu muncul kata-kata juara dua suasana hening seketika. Antara senang dan kecewa. Senang karena juara akhirnya ada ditangan anak-anakku. Kecewa karena mereka mentargetkan untuk juara satu. Kata-kata bijak dariku muncul. Kutekankan pada anak-anak kalau juara bukanlah yang dikejar. Pengalaman dan proses adalah tujuan yang dikejar. Hasil adalah sebuah hadiah bagi kerja keras kita. Senyum-senyum merekah alhamdulillah muncul dari mulut mereka. Bahagianya aku bisa melihat muridku berhasil. Walaupun tetesan air mata ada yang muncul di salah satu anak. Menerut kabar yang beredar sekolahku sebenarnya bisa mendapat juara satu. Karena jumlah pasukan kurang maka itu mengurangi nilai. Pemenang juara satu jumlah pasukannya 31. Sedangkan muridku jumlahnya 28. Sempat ada rasa penyesalan tetapi murid-muridku lah yang menguatkanku. Aku berpikir bahwa sang pemenang adalah mereka yang bisa menerima proses sebagai media belajar dan menganggap menang adalah sebuah hadiah dari kerja keras kita.

 

Baku, Agustus 2011

Maristya Yoga Pratama

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran