Cinta Manis
Maristya Pratama | 12 November 2011

 

Keramaian pasar tiba-tiba pindah di depan bangunan untuk berteduh aku selama setahun di Bima. Jelas-jelas dusun Baku tidak ada pasar. Saya heran kenapa ramai sekali waktu pukul tujuh waktu Indonesia bagian tengah. Anak-anak berkumpul membawa kecerian dan bekal. Ibu-ibu menjinjing beras dan sayuran. Bapak-bapak membawa kayu bakar, ayam dan ikan. Penjual makanan dadakan pun seolah-olah ada diantara kerumunan itu. Seorang ibu muda menjinjing baskom berisi kue goreng berbalut gula halus. Seribu dapat dua roti. Lumayan bisa dimakan sebagai sarapan pagi. Aku menyaksikan ketidak laziman itu di balik jendela dapur sembari memasak makanan untuk sarapan pagi. Tubuh ini mendapat stimulus keramaian sehingga langsung direspon dengan bergegas untuk menyelesaikan kegiatan-kegiatan pagiku. Setelah selesai aku keluar dengan senyum dan badan yang segar menyambut anak-anak didepan pintu rumah. Tatapan mata anak-anak aku terjemahkan sebagai ajakan untuk segera berangkat. Aku berjalan menuju keramaian tersebut. Anak-ank kecil asik bermain dengan kutu-kutu dirambutnya. Ibu-ibu juga menyusui anaknya yang masih bayi. Bapak-bapak merokok rokok klintingan yang dibalut dengan daun lontar kering. Aku menyaksikan suasana layaknya  orang-orang yang akan menyambut lebaran.

Perjalanan aku lanjutkan untuk menemui dua orang guru sukarela sebagai partnerku selama di daerah penempatan. Aku melihat kesibukan yang luar biasa didalam rumah transmigran. Ibu-ibu dan anak-anak melipat seragam biru muda dan seragam merah putih. Seragam yang rapi dimasukkan ke dalam kerdus bekas rokok yang lumayan besar sekali. Kesibukan itu dipecah oleh suara truk yang muncul dengan begitu cepat. Anak-anak berlarian mengejar truk dengan penuh berharap dapat naik di atas karena pada saat itu sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Sesuai perjanjian rombongan akan diberangkatkan pukul delapan. Orang sini sepertinya tidak mempunyai jam karet yang bisa molor sesuka hati.

Supir truk itu ternyata memberikan kekecewaan. Truk itu akan mengangkut bambu terlebih dahulu. Anak-anak kembali bermain batu didepan rumahku. Sepasang bola mataku tertuju kepada anak yang terbaring di gubug kecil yang ada didepan rumah. Aku bertanya apakah sudah makan kepada anak tersebut. Anak tersebut menjawab belum makan. Aku menyuruh anak tersebut untuk sarapan makanan masakanku yang seadanya. Begitu lahapnya anak tersebut makan nasi lauk sambel goreng teri. Setelah makan anak tersebut kuberikan separo obat penurun panas. Anak tersebut kembali tergeletak di atas potongan bambu-bambu yang sudah dianyam begitu indah. Entah kenapa aura layak dokter muncul didalam diriku. Seorang ibu dari ujung menghampiri aku. Dia menggendong anaknya yang lemas lesu. Ibu itu menanyakan obat apa untuk anaknya. Aku pegang badan anak tersebut dan saya tanyakan awal mulanya bagaimana anak tersebut sakit. Saya kemudian memberikan obat penurun panas untuk menurunkan panas anak tersebut sembari memberikan rekomendasi untuk dibawa ke puskesmas terdekat kecamatan tetangga.

Dari arah sebrang muncul lagi truk memuat bambu dan tanaman menghampiri keraimaian didepan rumah. Seketika itu keraiman yang ada pecah dengan teriakan anak-anak. Begitu ada dihadapan anak-anak, truk tersebut langsung penuh sesak dengan “dou Baku” (orang Baku). Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak naik ke atas truk dengan penuh hati-hati. Seakan tidak memperdulikan keselamatan, supir truk mengisi penuh sesak truk dengan barang dan manusia. Aku berusaha naik dengan sangat hati-hati lewat samping truk. Penumpang yang ada dengan ramah menyambut aku dengan memberikan sedikit tempat duduk. Mata ini ternyata kurang peka untuk melihat sekitar. Masih ada anak-anak dan orangtua yang belum naik ke truk tetapi truk sudah penuh sesak. Raga ini kembali menginjakkan tanah untuk mengatur lagi keberangkatan. Dengan nada agak keras aku berkata bahwa yang tidak berkepentingan untuk naik truk diharapkan turun. Truk ini disewa hanya untuk anak-anak. Orangtua dan anak-anak muda yang ingin memanfaatkan keberangkatan akhirnya turun. Hatiku rasanya tidak tega melihat ekspresi orang-orang yang turun dari truk.

Aku masih sibuk mengatur keberangkatan tiba-tiba ada anak kelas lima yang nangis. Boby anak tersebut namanya. Dia tidak mau naik ke truk karena truk penuh sesak dan takut kalau dia muntah di jalan. Aku membujuk bobi dengan penuh kesabaran agar tetap ikut berangkat dan naik truk. Suara tangisan malah semakin keras terdengar. Serasa tidak mendengarkan semua kata-kataku dan orang yang ada disekitar malah membawa diri Boby untuk segera pergi meninggalkan kerumunan orang-orang. Kukejar dia sambil memanggil namanya. Aku mengatakan kalau sia-sia saja latihan selama ini kau lakukan pagi sore jika kamu tidak berangkat. Sambil memberikan keyakinan bahwa Boby harus tetap berangkat dalam kondisi apapun. Boby bergerak lagi menuju truk. Dari arah berlawanan menghampiri seorang ibu-ibu sambil berkata-kata bahasa Bima dengan keras. Ibu tersebut ternyata Ina Boby. Mendengar perkataan dari arah berlawanan, Boby malah semakin melawan dan kembali menangis. Melihat anaknya semakin menangis dan keras kepala untuk tidak mau ikut berangkat, Ina Boby semakin marah dan membawa batu besar sekali. Emosi yang semakin tak terkendali aku coba menyajikan sebuah es agar melelehkan suasana. Aku peluk boby sambil mengambil batu yang ada ditangan Ina Boby. Sembari kembali membujuk Boby untuk mau naik keatas aku mencoba memecah permasalahan. Sedikit mereda emosi Ina Boby dan Boby juga berhasil aku bujuk untuk naik keatas truk. Sedikit bantuan dari bapak-bapak yang ada Boby akhirnya berhasil diangkat naik truk.

Belum selesai mengnelan ludah dan mencuri nafas dari alam, muncul lagi permasalahan yang ada. Dua orang partner guru sukerela tergeletak lemas duduk di samping jalan. Ternyata beliau pusing karena melihat truk yang akan beliau tumpangi itu penuh sesak dan anak-anak yang ada susah diatur. Masih mengurusi dua partnerku muncul lagi permasalahan lagi. Sopir truk ternyata pulang kerumah. Padahal semuanya sudah siap untuk berangkat dan panas matahari semakin bersinar. Sembari menghubungi sopir yang ada aku memberikan minyak angin untuk dua partnerku dan mempersilhkan untuk masuk kerumah untuk tidur sebentar. Setengah jam berlalu sopir tersebut tidak juga muncul-muncul. Aku kasihan dengan anak-anak yang sudah datang dari pagi hari. Tiga jam lebih mereka menanti keberangkatan ini. Akhirnya sopir dan kita berakhir dari kegiatan menunggu. Keberangkatan ini membuat pasar menjadi sepi dan rumah-rumah di Dusun Baku tak berpenghuni lagi.

Perjalanan kali ini sangat berbeda bagiku. Aku harus duduk diatas kepala truk “Cinta Manis” tanpa pengaman. Aku berasa berada di Dunia Fantasi yang penuh dengan tantangan dan kejutan. Aku duduk berjajar dengan ketiga anak muridku. Tiba-tiba anak-anak itu menawarkan diri untuk menjaga tas yang aku bawa. Mereka melihat aku kesulitan dalam membawa tas sehingga mereka berinisiatif untuk menjaga tasku. Kolongan tas mereka masukkan ke kaki mereka satu per satu. Ada juga yang memegang badan tas. Terima kasih banyak anak kau telah memberikanku rasa aman selama berada di truk. Perjalanan yang kita lalui penuh liku dan berlubang. Badan ini bergoyang kanan kiri atas bawah layaknya naik “Tornado”. Aku sempat berpikir kalau mending bermain di Dunia Fantasi dari pada naik diatas kepala truk tanpa pengaman apapun. Anak-anakku kembali membuatku kaget. Mereka mengkhawatirkan aku yang duduk diujung. Mereka takut Pak Gurunya jatuh. Nadi salah seorang anak dari ketiga muridku memegang erat celanaku. Di takut sekali kalau aku jatuh. Kekhawatiran itu membuatnya selalu memberikan komando kalau aku hendak jatuh. Pegangan itu terasa erat sekali. Sangat erat sekali. “Pak Yog geser lagi”, kata Nadi. “Awas Pak Yog ada ranting”, kata Nadi lagi. Kata-kata itu berulang-ulang diucapkan oleh Nadi. Aku tahu padahal anak yang bernama Nadi itu bandel sekali. Dia susah sekali kalau di kasih nasihat oleh guru. Entah kenapa aku merasa heran pada saat itu. Dia begitu baik sekali padaku. Padahal aku sering menasehati dia. Sering sekali aku berikan ketegasan. Aku berpikir apakah ini buah dari nasehatku selama ini. Anak akan baik dan menurut dengan kita apabila kita bisa mendakatinya dari hati ke hati. Paling tidak hal ini bisa menjadi sebuah pembuktian bahwa anak yang susah diatur kalau di beri nasehat secara personal akan menurut. Cinta yang diberikan kepada anak-anak pasti akan dibalas dengan manis oleh anak-anak.

 

Baku, Agustus 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran