Langkah Sang Pemimpin Cilik
Maristya Pratama | 12 November 2011

 

Anak-anak berangkat ke sekolah dengan membawa kecerian untuk semangat belajar. Seragam yang seadanya dan tak jarang yang masih memakai sepasang sandal jepit yang kotor. Siang itu entah kenapa anak-anakku SD Inpres Baku sangat antusias ketika diberitahu kalau ada lomba. Ini merupakan kesempatan bagiku untuk lebih dekat dengan anak-anak. Alhamdulillah masih ada waktu dua minggu untuk persiapan dan menggembleng anak-anak untuk latihan. Anak-anak sudah mulai mengkhayal mengenai latihan dan lomba. Persiapan menuju hari keberangkatan lomba mereka siapkan dengan matang. Awalnya memang susah sekali mewujudkan latihan ini sehingga bisa berkelanjutan. Sempat suatu saat hati ini rasanya kosong melihat anak-anak yang datang latihan hanya enam orang saja. Dalam hati aku semakin merasa tertantang bagaimana anak-anak bersedia untuk datang latihan pagi sore setiap harinya. Aku menggambarkan enaknya kalau anak-anak ikut lomba. Bisa bertemu banyak teman, menikmati suasana kota yang berbeda, dan mendapat hadiah yang menarik. Iming-iming kenikmatan di kota aku sajikan. Sehingga anak-anak datang latihan setiap pagi dan sore setiap hari. Latihan mereka lakukan dengan penuh semangat.

Setiap harinya suaraku bergema diantara gunung-gunung yang mengelilingi Dusun Baku. Otot leherku terlihat karena aku harus mengajarkan instruksi. Arahan demi arahan aku suarakan setiap harinya selama dua minggu pagi dan sore. Aku pun tak peduli lagi dengan diriku. “Pana liro” (panas matahari dalam bahasa Bima) selalu menyengat tubuhku. Aku baru tersadar kalau panas matahari itu merubah kulit pada saat aku membuka jam tangan. Terlihat belang di tanganku. Kejadian nangis, memukul antar teman, pura-pura sakit perut, dan haus selalu menyelimuti setiap latihan. Sampai-sampai aku hafal semua tingkah laku anak-anak tersebut yang kadang dapat melatih kesabaranku. Anak-anak kuajarkan variasi maju jalan, variasi kupu-kupu, variasi belah ketupat, variasi anak panah, dan variasi SDN Inpres Baku.

Dalam latihan tersebut aku membutuhkan komandan pleton. Komandan ini akan memimpin dan mengkoordinir teman-temannya. Ternyata posisi sebagai seorang pemimpin merupakan posisi yang sangat membanggakan bagi anak-anak. Mereka saling berebut ketika aku umumkan mengenai komandan untuk latihan setiap harinya. Terlihat sekali mana saja anak-anak yang dominan bermunculan. Melihat fenomena tersebut aku sempat kaget. Yang aku heran lagi adalah adanya fenomena post power syndrom saat latihan tersebut. Pada saat itu aku mengamanatkan posisi komandan kepada seorang anak bernama Oma. Dia merupakan anak yang sangat segap sekali mengontrol anak buahnya dalam tim. Setelah latihan berjalan dua tiga hari aku melihat gerakan Oma belum ada perkembangan yang berarti. Dia masih belum bisa menyeragamkan gerakannya. Melihat perkembangan tersebut aku mengganti Oma sebagai seorang komandan. Rusni merupakan anak yang menggantikan Oma. Rusni adalah siswa anak kelas empat yang aku lihat berpotensi untuk bisa menjadi komandan. Sedikit tes aku berikan kepada Rusni tentang gerakan-gerakan latihan. Alhamdulillah Rusni bisa mengkoordinir teman-temannya yang dua angkatan diatasnya. Karena Rusni kelas empat kadang anggotanya yang kelas enam atau kelas lima sering membangkang terhadap perintahnya. Untungnya Rusni seorang yang tegas. Dia sering memberikan perintah-perintah yang jelas. Ketika ada kesalahan dalam latihan Rusni bisa mengerti bagaimana mengaturnya. Setelah latihan berjalan seminggu Rusni kadang tidak berangkat. Aku bertanya kepada Rusni mengapa dia tidak berangkat sekolah. Rusni menjawabnya karena dia membantu orangtuanya untuk panen kedelai. Untuk mengganti komandan sementara aku malah melirik anak yang paling susah diatur dalam barisan. Dia bernama Boby. Siswa kelas lima yang dua kali tidak naik kelas karena tidak bisa baca. Aku berpikir salah satu cara untuk merubah Boby adalah dengan memberikan kepercayaan suatu tugas kepadanya. Awalnya Boby menolak kepercayaan yang aku berikan. Aku memberikan arahan kalau menjadi seorang pemimpin itu akan memberikan banyak pengalaman. Sedikit banyak teman-temannya akan menghargai Boby sebagai seorang pemimpin. Akhirnya Boby mau menjadi komandan sementara. Entah kenapa sejak kepemimpinan Boby anak-anak semakin mudah untuk diatur. Boby yang jarang berangkat latihan sekarang rajin berangkat latihan pagi dan sore. Walaupun dalam memberikan instruksi kadang salah tetapi aku tetap masih memberikan kepercayaan kepadanya. Aku yakin kepercayaan ini dapat memberikan sedikit perubahan bagi diri Boby. Berdasarkan pengalaman ini aku bisa membuktikan kalau anak yang susah diatur juga bisa menjadi seorang ketua. Bahkan karena kenakalannya tersebut membuat teman-temannya mudah untuk diatur.

Sekembalinya Rusni untuk berangkat latihan aku masih memberikan kepercayaan kepada Boby. Tetapi aku melihat Rusni masih belum bisa terima jika posisinya diganti oleh orang lain. Ketika Boby mengatur teman-temannya supaya rapi dalam barisan, Rusni masih ikut-ikutan untuk mengatur teman-temannya. Jika Boby tidak sesuai dalam mengatur teman-temannya, Rusni akan menegur. Ternyata dominasi seorang anak-anak bisa dilihat juga dalam kepercayaan yang diberikan. Aku sengaja membiarkan adanya suatu persaingan yang sehat dan dominasi dalam suatu tim. Sehingga anak-anak akan belajar mengenai dinamika kelompok. Posisi Boby memang posisi komandan sementara. Aku pun kembali mengganti Boby dengan Rusni untuk menjadi komandan. Entah kenapa dominasi Rusni kembali diuji. Aku coba mengambil alih komando untuk latihan tersebut. Ternyata Rusni merasa marah. Dia tidak mau masuk dalam barisan. Dia malah diam saja sambil sedikit marah kepadaku karena pimpinan aku ambil alih. Awalnya aku tidak terlalu memperhatikan tetapi kemarahan Rusni semakin terlihat jelas. Aku memberikan sedikit penjelasan mengapa aku mengambil alih pimpinan. Aku menjelaskan agar Rusni untuk lebih bisa menjaga emosi. Sedikit demi sedikit Rusni bisa mengerti alasanku.

Akhir perjuangan Rusni untuk tampil pada saat lomba ternyata terhenti sampai di latihan saja. Aku dan teman-teman guru memutuskan Oma kembali menjadi komandan saat lomba nanti. Hal itu didasarkan kepada alasan kerasnya suara, tingkat kelas, tinggi badan dan emosi yang dimiliki oleh Oma. Karena unsur-unsur tersebut menjadi perhatian juri untuk dinilai. Aku juga melihat ada perbaikan gerakan yang dilakukan Oma selama latihan. Agak sulit memberikan fakta ini kepada Rusni. Aku mencoba berbicara dari hati ke hati dengan Rusni. Layaknya berbicara dengan seorang teman. Rusni pun mengerti alasan yang aku dan guru-guru berikan. Kemarahan Rusni kembali terlihat saat Oma mengatur Rusni dan teman-temannya. Rusni masih ada rasa kurang terima dengan keputusan yang ada. Rusni sering bertengkar dengan Oma karena ketidak sesuaian cara mengatur barisan menurut Rusni. Alhamdulillah mereka bisa berdamai untuk menghargai posisinya masing-masing. Aku samapaikan bahwa dalam posisi apapun  kita harus melakukan amanat sebaik mungkin. Aku berpikir dari pengalaman ini anak-anak bisa belajar mengenai kepemimpinan, kedisiplinan, lapang dada, dan tanggung jawab.

 

Baku, Agustus 2011

Maristya Yoga Pratama

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran