FASE BARU
Maristya Pratama | 01 January 1970

UPT Baku Dusun Baku Kecamatan Lambu Kabupaten Bima terletak di ujung paling timur Kabupaten Bima. Baku merupakan eks daerah Transmigrasi. Untuk mengakses daerah tersebut butuh waktu 5 jam perjalanan dari Bandara Sultan Salahudin Bima. Daerah ini termasuk daerah yang terisolir karena jarak tempuh dari dusun menuju ke desa adalah 48 KM. Hal ini menyebabkan semua yang berhubungan dengan perekonomian dan kesehatan sulit untuk diakses. Masyarakat mayoritas adalah petani dan nelayan musiman yang tidak menentu kondisi finansialnya. Per bulan rata-rata penghasilan masyarakat di sana adalah 100-150 ribu. Mereka hidup di daerah tersebut dengan jumlah KK hanya 50. Suku Lombok dan suku Bima hidup berdampingan di Baku. Tak ada rasa iri maupun menghasut satu sama lain, yang ada malah saling menghargai sesama manusia.

Berdasarkan kondisi di atas, anak-anak di Baku tetap optimis untuk menatap dunia luar. Mereka yakin bahwa suatu saat nanti mereka bisa menjadi lebih baik. Terbukti dengan kegiatan sehari-hari anak-anak di baku. Pagi hari mereka berangkat sekolah. Sore hari mengaji dan bermain bersama. Dan malam harinya belajar bersama. Di sela-sela watu itu mereka masih menyempatkan diri untuk membaca buku. Alhamdulillah di baku sudah terdapat perpustakaan kecil bernama Balai Baca Baku. Biasanya pulang sekolah mereka mampir di balai baca itu untuk membaca buku dan meminjam buku. Setelah pulang mengaji dan bermain bersama mereka juga sempatkan untuk mampir di balai baca. Sebelum berangkat sekolah kebiasaan baru mereka adalah mengembalikan buku. Hal tersebut dilakukan secara terus menerus setiap hari.

Untuk menyeimbangkan hidup maka anak-anak juga perlu memperdalam agama. Setiap pukul 15.30 adalah waktunya untuk mengaji. Dengan baju yang seadanya mereka bergegas berangkat ke masjid. Satu jam sebelum di mulai mengaji anak-anak sudah siap di depan masjid. Mereka sudah mengenal arti tepat waktu dan disiplin. Antusias mereka tidak berhenti di situ saja, mereka melaksanakan sholat berjamah sebelum mengaji. Alhamdulillah sudah ada yang bisa adzan dan iqomah sendiri. Yang datang di masjid tidak tanggung-tanggung mencapai 40 anak. Itu merupakan fase baru anak-anak mengenal huruf hijaiyah. Mereka mengaji dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok 1 kelas 1-3 dan kelompok 2 kelas 4-6. Suara mereka lantang sekali ketika dijarkan huruf-huruf hijaiyah. Mereka tidak malu-malu untuk menggemakan ayat-ayat Allah.

Adzan berkumandang anak-anak langsung berlarian untuk datang ke masjid. Tidak hanya sholat ashar yang mereka lakukan. Sholat-sholat lain mereka usahakan untuk dilaksanakan untuk berjamaah. Sekarang mereka juga sudah mengenal sholat jumat berjamaah. Hari jumat bisanya mereka berangkat sekolah sudah membawa perangkat untuk sholat yang seadanya. Mukena dan sarung atau celana yang mereka gunakan hanya itu-itu saja. Sampai kotor dan sudah ada yang lubang-lubang. Sepertinya mereka tidak memikirkan hal tersebut. Anak-anak tetap mengikuti sholat jumat berjamah dengan tenang dan hikmat. Ternyata anak-anak yang berangkat ke masjid bisa mempengaruhi orangtuanya untuk datang ke masjid. Biasanya yang namanya sholat jumat berjamaah hanya didatangi 7-10 orang saja sekarang hampir penuh masjid diisi oleh orang yang mau sholat.

Semangat ini terus akan menyala ditengah-tengah himpitan hidup yang semakin mencekik. Keoptimisan anak-anak dalam fase baru kehidupannya yang membuktikan bahwa semua anak-anak itu bisa. Sukses itu ada ditangan masing-masing. Perlu dikejar, berusaha dan berdoa. Anak-anak adalah media ampuh untuk merubah sesuatu. Lewat anak-anak, semua orang dapat berbuat untuk memberikan suntikan optimisme hidup.

 

Baku, April 2012

 

Maristya Yoga Pratama

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran