Aku Anak Baik. Kamu? ;)
Oleh: Maisya Farhati,

Kalau bukan kita, siapa lagi yang mengapresiasi mereka? Aku sudah pernah bercerita tetang kondisi sekolahku, dimana satu ruang kelas disekat-sekat menjadi beberapa kelas. Kondisi semacam itu tentu bukan kondisi terbaik untuk belajar. Anak-anak sulit fokus. Menclok ke kelas lain adalah hal biasa. Bahkan awalnya mereka sering keluar masuk tanpa permisi, karena merasa kelasnya tidak terpisah. Dan aku pun sering merasa sulit untuk melakukan berbagai kegiatan di kelas. Terkadang aku mengajak anak-anak belajar di luar, namun ada kegiatan-kegiatan dimana anak butuh menulis atau aku perlu menjelaskan dengan tulisan atau gambar di papan tulis. Dan sekarang musim hujan telah tiba. Semakin sulitlah mencari solusi untuk belajar selain di kelas.

Banyak hal memang tidak bisa berubah secara drastis, namun dalam beberapa bulan ini sudah ada perubahan. Mulai dari hal-hal kecil bagiku tidak masalah. Dan aku selalu berusaha menghargai tiap usaha mereka melakukan sesuatu yang baik, seperti melaksanakan piket, bisa tertib si kelas, membantu teman, permisi jika hendak masuk ke kelas lain, datang tepat waktu, mengerjakan PR, dan lainnya.

Banyak yang bilang anak di sini nakal-nakal. Dari mulai kepala sekolah, guru-guru, bahkan orang tua siswa sendiri. Kalau mau emosional dan dilihat sekilas, aku juga akan mengatakan hal yang sama. Tapi tidak. Pasti ada sesuatu di balik itu. Dari pengamatanku, aku kemudian mengambil kesimpulan bahwa anak di sini minim mendapat kesempatan berdialog dan juga kurang mendapatkan penghargaan dari apa yang mereka kerjakan.

Berkaitan dengan pengelolaan kelas, aku mendapat ide untuk membuat badge bertuliskan ‘aku anak baik’. Jadi di setiap awal pelajaran, aku sematkan badge ini ke masing-masing siswa. Mereka semua merasa senang di dadanya ada kertas warna-warni berbentuk bunga. Dengan badge itu, aku memberikan kepercayaan bahwa mereka bisa menjadi anak baik yang tertib dan bisa menghargai diri sendiri dan orang lain. Selama siswa itu berperilaku baik, badge akan tetap tersemat di dada mereka. Badge itu awalnya saya berlakukan untuk kelas 4 dan 5, kelas yang anak-anaknya paling banyak yang sulit fokus dan kurang tertib. Alhamdulillah cukup berhasil. Pernah ada yang tidak mengerjakan PR, jadi terpaksa dia tidak memakai badge itu. Dia kelihatan menyesal sekali dan pertemuan selanjutnya mengerjakan PR.

Sewaktu pertama kali mereka mendapatkan badge di dada mereka, sebagian bersenandung lagu “Garuda di dadaku…” dan spontan aku menggantinya menjadi

“bunga-bunga…di dadaku…”

dan kalimat-kalimat selanjutnya mengalir begitu saja seperti berikut:

bunga-bunga di dadaku

karena aku anak baik bisa tertib,

menghargai orang lain

*nada lagu ‘Apuse’ (nyambung nggak nyambung, ya dibuat nyambung aja ya..hehe…)

Anak-anak sekarang tanpa dikomando selalu menyanyikan lagu tersebut di awal pelajaran. Sebenarnya, yang aku lakukan agak mirip dengan yang aku tonton di film ‘Dangerous Mind’. Bedanya, guru di film tersebut memberikan nilai A di awal semester. Ia saat itu mengajar kelas yang para siswanya dikenal ‘bermasalah’. Siswa di kelas tersebut merasa aneh namun juga senang karena itulah kali pertama ada guru yang percaya bahwa mereka bisa memperoleh nilai A. Nilai A di awal semester tersebut adalah modal, tinggal bagaimana usaha yang dilakukan masing-masing siswa. Apakah bisa mempertahankan atau membuat nilainya sendiri jatuh karena tidak serius belajar.

Kawan, di beberapa tempat atau pada beberapa kasus, apresiasi bisa jadi merupakan barang mahal. Banyak anak tidak diapresiasi sehingga ia cenderung mencari perhatian dengan membuat masalah. Ia merasa tidak ada gunanya berperilaku baik. Banyak anak yang juga menjadi kurang percaya diri karena tidak diapresiasi.

Sebuah contoh nyata aku dengar dari sahabatku, Putri, salah satu Pengajar Muda Bawean. Suatu hari ia dan anak-anaknya membuat prakarya kartu ucapan. Kartu tersebut isinya kurang lebih, ‘aku sayang ibu, ‘aku sayang ayah’, atau apapun yang ditujukan untuk orang tua. Kemudian Putri bertindak sebagai tukang pos yang mengantar kartu-kartu tersebut. Di luar dugaan, saat menerima kartu tersebut, sang ibu malah berkata, “Duh dasar nakal ya, Bu, anak ini…” Ia mengatakan hal itu di depan anaknya, di depan anak yang baru saja membuat kartu bertuliskan ‘aku sayang ibu’. Ironis. Seperti sepele, namun entah apa yang dirasakan anak tersebut dan apa dampaknya dalam jangka panjang. Kejadian semacam itu juga sering aku temukan di dusunku. Orang tua sering menjelek-jelekkan anak kepadaku, dan itu diucapkan di depan anaknya. Sedih rasanya.

Semoga apresiasi-apresiasi sederhana yang aku lakukan bisa berarti banyak bagi mereka. Mereka bisa percaya diri, menghargai diri sendiri, dan pada gilirannya bisa pula menghargai orang lain.

Anak-anakku… percayalah, kalian adalah anak baik! :)


Ikut Iuran