info@indonesiamengajar.org (021) 7221570 ID | EN

Bintang-Bintang Pemberani

Laili Khusna 23 April 2011
Siswa membaca puisi dengan lafal dan intonasi yang tepat. Siswa menceritakan pengalamannya secara lisan. Standar kompetensi yang menuntut anak didik menyampaikan gagasannya secara lisan di depan semua teman-temannya seperti tersebut di atas menjadi tantangan tersendiri bagi para guru. Tantangan untuk memacu siswa  agar berani berdiri di depan kelas dan berbicara pada seluruh kelas. Bukan hal mudah bila kelas kita berisi anak-anak pemalu dan belum terbiasa belajar aktif di kelas. Inilah yang sempat kuhadapi di kelas 3 tempatku mengajar. Tidak hanya enggan maju untuk berbicara, bahkan untuk menjawab pertanyaan sederhana saat pulang sekolah pun sebagian siswa yang sebenarnya mampu enggan mengangkat tangan. Maka aku bertekad sebagai guru yang hanya punya waktu 2,5 bulan di kelas 3 ini akan kudorong mereka untuk menjadi lebih berani dan percaya diri. Kesempatanku datang saat materi puisi. Suatu hari aku meminta anak-anak membaca puisi karya mereka sendiri di depan kelas. Semua anak wajib menulis puisi dan membacakannya di hadapan teman-temannya. Jadi, tidak ada alasan bagi anak untuk mengatakan, “Saya ndak Bu, si A aja Bu, si C aja Bu.” Kalau begini terus kapan majunya? Aku tidak ingin menunjuk atau mengurutkan berdasarkan presensi. Aku ingin melihat siapa yang berani. Beberapa pekan sebelumnya, aku menerapkan undian dalam botol untuk memilih urutan siswa yang harus bercerita pada seluruh kelas. Cukup efektif. Kalau tidak seperti itu, anak-anak akan berebut menjadi yang terakhir. Namun, guru tidak bisa melihat siapa yang sebenarnya berani di antara mereka sehingga kuputuskan untuk deklamasi ini akan kubebaskan mereka, siapa yang hendak maju lebih dulu, kupersilakan. Pertama. Seorang siswa bertubuh mungil angkat tangan dengan mantap. Semenjak awal ia memang tampak berbakat dalam membaca puisi. Ia benar-benar berusaha menghayati puisi yang dibacanya. Dua. Teman sebangku anak pertama berani berdiri di depan kelas dan membaca karyanya. Ekspresinya datar, namun nilai keberaniannya kuacungi jempol. Dua anak ini mengangkat tangan saat anak-anak lain hanya berpandang-pandangan. Tibalah giliran berikutnya. Tik tok tik... Anak-anak mulai saling menunjuk, tidak berani mengajukan dirinya sendiri. Lalu seorang siswa dengan malu-malu mengajukan diri. Selanjutnya... tok tik tok... kelas riuh lagi, saling menunjuk. Aku pun membuat daftar di papan tulis, bintang pemberani hari ini, nomor satu dan seterusnya. Kucatat nama-nama yang berurutan maju. “Siapa mau jadi bintang pemberani berikutnya?” tanyaku bersemangat. Akhirnya ada lagi siswa yang bersedia maju meski masih malu-malu. Selanjutnya...tik tok tik... kelas hening... tak satu pun anak mau maju. Kelas kembali riuh, anak-anak yang sudah maju menunjuk teman-temannya. Kuputar otak, mencari cara untuk menenangkan kelas dan mendorong anak-anak agar berani membaca karya mereka di depan kelas. Jelas-jelas ini tidak ada di RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), jadi guru harus putar otak di tengah proses pembelajaran. Akhirnya, “Pejamkan mata!” seruku. Sontak semua anak menutup mereka sambil cekikikan. Sebagian anak masih berusaha mencuri-curi pandang dengan membuka sedikit mata mereka. Aku jadi geli sendiri melihat tingkah mereka. Lalu, “Siapa yang mau maju angkat tangan. Tidak ada yang melihat selain Ibu.” Hening... Kemudian, yup. Seorang siswa mengangkat tangan. Ia mau maju asal teman-temannya tidak melihat (mendengar boleh, lihat nggak boleh, hehe). Baiklah, ini awal yang bagus. Anak itu pun membaca karyanya di depan kawan-kawannya yang sedang menutup mata. Usai seluruh mata terbuka kembali, kutawarkan siapa yang bersedia maju, kali ini tidak perlu adegan menutup mata lagi. Seorang siswa mengangkat tangan dengan malu-malu. Ia bersedia membacakan puisi miliknya di depan seluruh anak yang bisa melihatnya. Hmm, rupanya cara tadi efektif juga untuk memancing keberanian anak-anak ini. Berikutnya tidak ada lagi yang bersedia maju. Tik tok tik... Pikir lagi... akhirnya, “Tidur! Semua harus tidur! Boleh berbaring di kursi, di lantai, meletakkan kepala di atas meja, sembarang,” komando dariku bergaung. Anak-anak pun dengan riuh berusaha tidur, tentu saja tidak benar-benar tidur. Mata mereka terpejam, kepala ditelungkupkan atau badan berbaring di atas kursi, tapi telinga tetap mendengar dan bibir mereka bergerak-gerak cekikian. “Siapa yang mau maju, silakan bangun dari tidurnya.” Tik tok... Seorang siswa yang semestinya sudah tidak duduk di kelas 3 kemudian bangun dan berdiri di depan kelas, bersiap membacakan puisi. Anak-anak lain menebak-nebak suara siapa yang sedang membaca puisi itu. Kelas pun cekikian lagi saat mengetahui sumber suara. Aku berusaha menenangkan mereka, namun sejujurnya yang terpenting saat itu adalah keberanian anak ini untuk berkata-kata di depan kawan-kawannya yang sedang pura-pura tidur. Aku mulai memutar otak lagi. Harus ada strategi berbeda untuk giliran selanjutnya. Hmm, “Bersembunyi di kolong meja!” ujarku saat giliran berikutnya. “Siapa yang mau maju, silakan keluar dari kolong persembunyiannya.” Hehe, jujur aku geli melihat anak-anak itu berdesak-desakan di kolong meja. Bagi yang sudah maju akan berkata, “Hei ayo siapa ini yang belum maju cepetan keluar,” sebab kalau tidak ada yang berani keluar dari lubang persembunyiannya mereka akan tetap berdesakan dalam kegelapan kolong meja. Akhirnya seorang siswa yang seharusnya sudah duduk di bangku kelas 4 keluar dari kolong meja. Ia pun membacakan karyanya. Anak-anak yang lain berusaha melihatnya dari balik kolong meja. Benar-benar membuatku geli. Hehe. Tapi aku senang karena dengan cara menarik seperti itu, anak-anak jadi lebih bersemangat, saling memotivasi temannya, dan yang semula pemalu sedikit demi sedikit berani unjuk gigi. Setelah beragam cara itu, beberapa anak mulai berani angkat tangan dan bersedia maju tanpa persyaratan apapun. Kelas kembali seperti semula sampai pada saat... tik tok tik tok... belum ada lagi yang bersedia. Hmm, putar otak... dan cling! Semua anak harus keluar kelas, berkumpul di samping kiri kelas, dekat dengan drum air dan hutan, di mana bau air kencing anak-anak menyelimuti sisi itu. Siapa yang mau membacakan puisinya dipersilakan masuk kelas, sementara anak-anak lain akan mendengarkan dari luar jendela kelas. Akhirnya, si ranking 1 yang jarang sekali menjawab pertanyaan lisan meskipun dia bisa, masuk kelas dengan membawa puisinya. Dengan pelan ia membacakan puisinya. Anak-anak yang lain berebut di luar jendela berusaha mendengarkan. Setelah seluruh siswa kembali duduk rapi di bangku mereka, sebagian anak yang belum maju bersedia deklamasi di depan kelas sebagaimana seharusnya. Pada bagian akhir, hanya tinggal 3 siswa yang benar-benar tidak menunjukkan reaksi berani maju. Teman-teman mereka memberi semangat. Ketiganya tetap diam, hanya tersenyum malu. Akhirnya, cara lama, hom pim pah... Ini terpaksa dilakukan karena waktu sudah terlalu siang. Dengan demikian tercatat di papan tulis 16 bintang pemberani dan 3 bintang yang akan jadi pemberani berikutnya. Sebagai penghargaan, urutan keluar kelas saat pulang berdasarkan urutan bintang pemberani pertama hingga terakhir. Raut mereka tampak ceria. Inilah obat kelelahan para guru, ketika murid-murid itu menunjukkan rona bahagia saat kau menciptakan momen unik bagi mereka. Hari-hari selanjutnya benar-benar mengejutkanku. Tiba-tiba kelas 3 menjadi penuh bintang pemberani. Anak-anak yang biasanya diam saja, sekadar mengangkat tangan pun tidak saat ada pertanyaan yang bisa mereka jawab, tanpa kusangka mulai berani mengutarakan gagasan mereka. Ketika aku menawarkan anak-anak untuk maju mengerjakan sesuatu, mereka berebut. Saat pulang sekolah, ketika aku memberikan review berupa tanya jawab, nyaris seluruh anak mengangkat tangan, sangat berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Meskipun ketika ditanya jawabannya masih “Ee... mmm...”, bagiku tidak jadi soal. Yang terpenting saat ini mereka mulai berani menunjukkan bahwa mereka bisa, setidaknya mereka sudah berusaha menjadi bintang-bintang pemberani. Semoga bintang-bintang pemberani ini benar-benar akan menjadi pemberani yang mampu menaklukkan tantangan kehidupan kecil mereka.

Rantau Panjang, 13 Maret 2011

Tuhan, terimakasih atas kado bintang-bintang ini... Terimakasih...


Cerita Lainnya

Lihat Semua