Super Grand-Grand
Khaerul Umur | 22 December 2012

Tinggal dengan kakek-kakek dan nenek-nenek sering mengalami kejadian yang menggelikan. Terkadang juga membuat kesal. Bagaimana tidak, bukan pertama kalinya lampu WC dimatikan padahal saya sedang konsentrasi mengeluarkan zat sisa metabolisme. Ibaratnya, lagi nanggung-nanggungnya, tiba-tiba gelap. Bukan hanya itu, setelah saya selesai dengan hajat dan mau masuk rumah, ternyata saya tidak bisa masuk karena sudah terkunci dari dalam. Jadi, rumah saya (rumah hostfam technically) mempunyai ruang belakang yang beratap terbuka langsung menengadah ke langit, namun terpagar rapat dan tinggi. Jadilah saat itu saya terjebak di ruang belakang yang gelap dan bernyamuk naudzubillah setan.

 

Namun perhatian mereka itu luar biasa. Selama dua bulan ini, tidak pernah tubuh saya kurang dari ambang batas minimum index kecukupan gizi. Malah yang lebih sering adalah saya selalu kekenyangan. Dan yang saya takutkan adalah darah saya berkolesterol tinggi. Karena tinggal di pemukiman Bugis-Bajo yang mayoritas nelayan, udang adalah menu yang sering hinggap di piring.

 

Dan jangan salah, walaupun mamak lahir di tahun proklamasi kemerdekaan, beliau masih sangat cekatan. Selain sibuk mengurusi rumah sendiri, beliau masi menyibukkan diri berjualan es campur. Itu juga yang selalu mengisi perut saya dan menghilangkan dahaga saya kala pulang sekolah dengan peluh dan payah. Yup! Muara Telake ini sangat panas, dia mampu mengeksotiskan kulit saya dalam waktu satu bulan. Sayangnya hanya sebatas tangan, leher, dan wajah saja. Hasilnya badan saya belang-belang saat ini. Tidak mirip zebra memang, apalagi mirip hidung belang, there is no way!

 

Beda lagi dengan bapak yang usianya terpaut jauh lebih muda dari mamak (brondong cyyyyiin), beliau tidak kalah cekatan. Setiap hari kerja bikin rumah seorang diri tanpa bantuan asisten tukang. Tidak jarang bapak sakit karena selalu lupa makan gara-gara keasyikan kerja. Kemudian lagi-lagi mamaklah yang ngomel. Dan disela-sela kesibukannya kerja rumah, bapak masih sempat melayani tambal ban di rumah, tambal ban satu-satunya di desa Muara Telake. Belum selesai disitu. Sebagai sampingannya, bapak melayani orang-orang yang men-charge AKI (accumulator) untuk kapal-kapal ikan mereka dan menyewakan gen-set dengan lampu-lampunya untuk acara pesta. Operatornya adalah bapak sendiri. Luar biasa, kan? Eubh. Ciyus? Maiapa? -__-‘

 

Dulu, bapak adalah nelayan yang handal. Namun karena usianya yang telah senja. Anak-anaknya telah melarangnya. Mamak dan bapak mempunyai 5 orang anak. Mereka semua telah berkeluarga dan mempunyai tempat tinggal sendiri. Tiga orang diantaranya tinggal di luar kota, Balikpapan dan Samarinda, ibu kota provinsi Kalimantan Timur. Jadi, saat ini, saya lah satu-satunya anak (angkat) yang menemani beliau berdua tinggal di rumah papan yang hangat ini. seringkali cucu pertamanya yang tinggal di dusun sebelah ikut menginap karena ikut les malam dengan teman-teman sekolahnya di rumah ini.

 

Satu hal yang sampai sekarang membuat saya belum mengerti. Waktu pertama kali saya datang ke rumah ini bersama Avatar Dika, pendahulu saya, Avatar Umur, bapak langsung melihat saya dan bilang, “ini orang tidak akan sakit. Ada tandanya, saya tahu. Tapi bukan sakit fisik.” Katanya. Lah terus apa pak? Sakit mental? For god sake!

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran