How I Met My Panca
Khaerul Umur | 22 December 2012

Oh, God! Mungkin saya bukan satu-satunya orang yang menemukan anak yang bisa mengajukan berpuluh pertanyaan dalam satu menit. Tapi sayalah salah satunya. Pancasila nama anak itu, Pancasila saja, bukan Pancasila Satu Ketuhanan Yang Maha Esa Dua Kemanusiaan Yang..., dst. Seorang anak TK yang tinggal di mes guru samping sekolah. Ibunya adalah guru agama di SD saya (well, SD dimana saya mengajar). Tidak ingat persis kapan saya ketemu Pancapertama kali dan bagaimana kisah awalnya. Karena itu bukanlah hal yang mengesankan antara saya dan Panca.

 

Karena Panca tinggal di sekolah (technically), setiap hari saya berjumpa dengan dia. Pagi hari, saat saya datang, Panca sudah senyum-senyum menyambut saya di halaman rumahnya which is halaman sekolah juga. Kemudian beberapa saat kemudian dia muncul di kantor guru. Karena meja saya tepat di depan pintu, begitu kepala panca muncul, dia langsung mesam-mesem dan sedikit demi sedikit mendekat dan mulai bertanya. Terkadang juga saya tidak menyadari kehadirannya, tiba-tiba dia bertanya yang membuat saya terkaget dan jatuh tersungkur ke belakang (boong :p).

 

Siang hari, sekitar jam 2, saya datang lagi ke sekolah jika ada janji les atau ada yang harus diselesaikan. Kunci kantor disimpan oleh ibu Panca. Jadi, mulai dari situlah pertemuan siang saya bersama Panca. Jika pagi dia tidak bisa berinteraksi banyak karena terdistraksi sama anak-anak SD dan dia harus sekolah, siang hari dia merajalela. Mulailah dia berbicara:

Pak Umur mau kemana, je!

Pak Umur pulang sore ka?

Pak Umur namanya siapa? Khaelur Pak Umur, kan? Iya kan?

Pak Umur suka sama dare (monyet), je? Aku suka sama dare, tapi yang kecil aja. Kalo yang besar itu aku takut. Pak Hamka itu bisa mengalahkan monyet raksasa, aku tau. Ini jurus melawan raksasa *kemudian Panca melakukan gerakan-gerakan jurus itu* Kalo ini jurus melawan gajah *panca beraksi dengan jurusnya* Kalo ini jurus melawan harimau *panca beraksi* Ini jurus melawan pisako (saya tidak tahu apa itu pisako, Panca sendiri yang mengarangnya) Ini jurus melawan silamo (no idea) *panca beraksi lagi*, daaan jurus-jurus yang lain. Terkadang kalau saya jenuh, saya terbawa gila bersamapanca melakukan gerakan-gerakan juga. Gerakan yang sering saya lakukan adalah gerakan water bender dan earth bender.

Setelah itu mulai bertanya lagi.

Pak Umur, kata Ilham, Pak Umur itu suka sama dare, kan?

Pak Umur suka ikan?

Pak Umur suka babi?

Pak Umur suka dare yang kecil atau yang besar?

Pak Umur, tadi Ilham lempar monyet pake batu. Pak Umur marah kan?

Saya suka Pak umur karena Pak Umur suka sama binatang.

Pak Umur, kata Ilham, nama Pak Umur itu Khaelur Pak Umur, kan? Iya kan?

 

Dan seterusnya, dan seterusnya. Jika sudah tidak punya ide lagi, Panca akan mengulang pertanyaan yang sama dengan memberi, “kata Ilham” sebelumnya.

 

Saya memang sangat excited ketika monyet muncul. Di belakang sekolah adalah rerimbunan pepohonan. Pohon yang saya kenal hanya nipah saja, sisanya no idea. Di rerimbunan pohon itulah monyet-monyet itu sering muncul, ada yang merah, hitam, kecokelatan, dan abu-abu. Bagaimana saya tidak excited, belum pernah saya menemukan monyet liar sedekat itu. Ketika siang hari, saat anak-anak sudah pulang sekolah, saat sekolah sepi, monyet-monyet itu suka berlari-larian di selasar, halaman, dan atap sekolah. Dari situlah Panca mendapat ide bahwa saya suka monyet. Kemudian kolong sekolah adalah rawa yang ber-bakau. Jika air pasang, banyak sekali ikan yang merseliweran. Saat itu juga saya selalu excited karena menurut saya itu luar biasa. Dan dari situlah panca mendapat ide bahwa saya suka ikan. Dari mana Panca bisa melakukan gerakan-gerakan jurus itu? Dia mengikuti eskul karate yang diasuh oleh Pak Hamka.

 

Sepanjang pertanyaan itu, karena saya bukan multitask-er, saya hanya menimpali pertanyaan Panca sebatas kemampuan saya sambil mengetik, sambil menggunting, sambil ngeprint, dan sebagainya. Terkadang, jika saya ingin sendiri, dan kebetulan yang memberi kunci adalah ibu Panca, saya berusaha sebisa mungkin mengendap-endap masuk kantor. Tetapi tiba-tiba, taraaaa!!! Panca datang dan mengajak membakar sampah dan bermain roket-roketan dari potongan kardus yang digulung, dibakar ujungnya dan mengeluarkan asap dari ujung yang lain, kemudian digerakkan sambil berlari. Panca akan berhenti bertanya ketika saya telah mengunci pintu kantor dan mengembalikannya kemudian berkata, “dada, Panca!!” sambil melambaikan tangan.

 

Namun sudah beberapa hari ini saya tidak bertemu dengan Panca. Panca sedang ke kota kabupaten karena ibunya baru saja melahirkan adik laki-lakinya tanggal 12-12-12 kemarin. Wow! Tanggal istimewa. Jadi, akan ada Panca junior beberapa saat lagi di sekolah. Yaaay!!!

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran