Sedikit Cerita Lucu dari Rote
Khaerul Umur | 07 October 2011

Setelah beberapa kali menulis catatan yang kebanyakan bertemakan kedukaan. Saya akan mencoba menceritakan hal-hal lucu yang saya alami selama dua bulan di Nusa Lontar, Rote.

 

#1 Kenapa sapi geleng-geleng kepala saat berjumpa dengan manusia?

 

Saya sendiri baru menyadarinya setelah mendengar cerita ini. Beberapa kali berpapasan dengan sapi-sapi di jalan, mereka memang sering menggeleng-gelengkan kepala. Tak terfikir oleh saya untuk mencari tahu kenapa mereka menggeleng-gelengkan kepala?

 

Seperti dalam catatan saya sebelumnya, jika kita memperhatikan jalan-jalan di Rote, kita akan sering melihat bercak-bercak merah. Itu bukan bercak darah akibat sering terjadinya kekerasan di sini, tetapi bercak merah itu adalah karena kebiasaan masyarakat Rote, khususnya masyarakat Mukekuku yang hobi mengunyah sirih pinang dan meludah sembarangan.

 

Lalu apa hubungannya dengan sapi yang menggeleng-gelengkan kepala?

 

Sirih (daun atau buahnya) dan pinang  tidak akan menjadi merah jika tidak dikunyah dengan satu bahan terakhir, yaitu kapur. Dari kapur inilah cerita lucu ini tercipta. Konon, kapur yang digunakan sebagai campuran sirih pinang salah satu bahan campuran pembuatannya adalah kotoran sapi. Walaupun tidak semua kapur demikian.

 

Nah, ketika sapi bertemu dengan manusia, mereka berkata dalam hati, “saya tidak habis pikir. Manusia-manusia ini sungguh bodoh. Daging saya mereka makan. Kulit saya mereka makan. Sampai kotoran saya pun mereka makan juga!” dan bergeleng-gelenglah sapi itu sambil berdecak heran, ckckckck. :D (nice try)

 

#2 Setan menggoda ketika kita beribadah

 

Di hari yang lain, saya tengah berada di dalam masjid untuk sholat Jumat. Layaknya di masjid-masjid pada umunya selalu ada peringatan yang tertempel di dinding masjid, “matikan alat komunikasi dan alat elektronik  lainnya demi kekhusuan dalam beribadah,” masjid di sini pun menempelkannya.

 

Rupanya ada saja yang tidak mengindahkan peringatan itu. Seorang laki-laki disamping saya menaruh handphone di depannya. Tiba-tiba HP-nya menyala. Spontan saya melirik ke arah HP itu dan betapa kagetnya saat saya membaca, “set@n memanggil.” Jujur awalnya saya benar-benar kaget, ada setan menelpon orang yang sedang beribadah di dalam Masjid. Tak selang berapa lama saya langsung sadar, rupanya sang pemilik HP menyimpan sebuah nomer dengan nama “set@n”.

 

Belum habis disitu. Sang pemilik HP tidak menghiraukan panggilan dari set@n. Namun setelah panggilan itu terputus, ia langsung mengambil HP-nya. Saya sendiri sudah tidak menghiraukannya lagi. Tapi entah kenapa tiba-tiba saya melirik HP-nya dan dengan jelas saya membaca, “saya ada sholat di masjid, nanti hubungi saya lagi.” Dan beberapa saat kemudian ada pemberitahuan masuk, “delivered to set@n.” Dalam hati saya berfikir geli, “oke, setelah keluar dari masjid, setan bisa dengan leluasa menghubungi manusia.”

 

#3 Bawang Merah dan Bawang Putih

 

Siapa yang tak tahu kisah Bawang Merah Bawang Putih (BMBP). Sepasang saudara tiri yang baik hati dan yang lain berhati busuk. Cerita yang mengharukan. Tetapi tidak demikian kisah BMBW yang terjadi di Rote. BMBP di Rote menjadi cerita yang menggelikan.

 

Suatu hari kelompok Pengajar Muda Rote berkumpul di rumah salah satu dari mereka. Untuk memperhangat suasana mereka memotong kambing untuk disantap bersama. Mereka membagi tugas. Ada yang memotong dan menguliti kambing, mengiris-iris daging kambing, menusuk-nusuk, kambing, menyiapkan bumbu-bumbu, membakar daging, dan tugas yang tak kalah penting adalah yang bertugas mencicipi daging.

 

Cerita BMBP terjadi di kelompok yang menyiapkan bumbu-bumbu. Mereka mulai mengupas bawang merah dan bawang putih sambil ngobrol-ngobrol kecil agar tidak terlalu “mengharukan”. Di tengah-tengah mereka bekerja, tiba-tiba Susan (nama samaran) berkata, “Cit, aku yang nggak bisa ngupas atau cara ngupasnya yang salah ya? Kok bawang yang aku kupas nggak seputih bawang kamu ya?”

 

Got it?  (penulis bertanya ke pembaca)

 

Jelas saja bawang Susan tidak seputih Bawang BunCit (nama samaran), karena yang dikupas Susan adalah bawang merah, sedangkan BunCit mengupas bawang putih.

 

Right? Right?

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran