Mana yang Kita Pilih: Mengeluh atau Bersyukur
Khaerul Umur | 07 January 2012

Musim panas telah berlalu di Oeulu, seiring para petani lontar berhenti menyadap nira. Tiba saatnya bagi mereka untuk menikmati jerih payah selama kurang lebih empat bulan, siang malam naik turun pohon lontar beratus-rasuk kali. Tapi dasar pekerja keras, bukannya meregangkan otot sejenak, mereka malah kembali menyingsingkan lengan baju menyambut datangnya musim berkebun, berladang, dan melaut. Musim hujan. Kotoran sapi membesar di mana-mana (Oops... I hope you’re not eating.) Hewan ternak tidak lagi makan daun-daun kering. Rumput dan belukar pun menghijau sejauh mata memandang. Bukit-bukit, stepa, dan sabana seperti hamparan permadani yang terlihat menyejukkan. Anak-anak memulai permainan baru mereka dengan membuat garis-garis di tanah pasir yang selalu basah, tidak lagi gersang dan berdebu. Mereka bergantian melompat-lompat memainkan permainan dengan riang. BANDINGKAN DESKRIPSTIF DI ATAS DENGAN YANG BERIKUT Ku lambaikan tangan sambil tersenyum sinis kepada musim panas yang ganas. Tidak akan ku rasakan lagi teriknya matahari yang membakar. Terik yang membuat otakku tidak bisa bekerja. Rumahku pun tidak lagi terasa seperti oven micro wave. Dan ketika berkendara, aku tidak lagi menahan nafas ketika berhadapan dengan truk ugal-ugalan yang menghempaskan debu-debu ke wajahku. Ternyata datangnya musim hujan tidak membuat keadaan lebih baik. Jalanan berdebu kini menjelma menjadi lumpur becek yang sulit dilalui kendaraan. Jika hujan datang bersamaan dengan angin badai, aku hanya berharap pohon-pohon yang menjulang di depan rumah memilih arah lain untuk tumbang. Dan hewan ternak memang tidak lagi lalu lalang di tengah jalan raya, karena ketika hujan tiba mereka lebih memilih berteduh di bawah pohon. Tetapi kotoran yang bertumpuk di jalanan karena mulut rakus yang tak henti-hentinya menjejalkan rumput hijau ke dalam perut buncit mereka membuat pengguna jalan seperti dalam tes untuk mendapatkan SIM. See guys. Di situasi apapun kita selalu di berikan pilihan, mengeluh atau bersyukur. Mengungkapkan keadaan dengan mengeluh atau bersyukur sama mudahnya. Dan keadaan pun tidak akan berubah dengan keluhan dan rasa syukur. Seperti matahari yang tidak akan berhenti terik di musim panas karena umpatan, “Sial! Panas banget!” atau karena ucapan, “Yes panas! Jemuran cepet kering.” Juga seperti sapi yang tidak akan menjadi BAB di kloset karena kita mengumpat, ”Oh shit!” atau karena tertawa konyol ketika kita meledakkan gumpalan kotoran sapi dengan melindasnya. Jadi saya tanya kalian sekali lagi, mana yang kalian pilih: mengeluh atau bersyukur? ;)

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran