Nasib Penyadap Lontar di Tanah Rote
Khaerul Umur | 05 August 2011

Naik turun tanpa henti. Mereka menjadi saksi matahari terbenam dan terbit. Dini hari bertelanjang kaki mereka menerobos gelapnya malam. Tak ada lagi rasa takut yang mereka sisakan dalam diri demi menghidupi anak dan istri. Mereka adalah penyadap lontar di tanah Rote.

Keluhan kerap kali terlontar dari mulut, merasa susahnya menyadap lontar. Badan kurus kering karena tak henti-hentinya mereka bekerja. Tetapi pekerjaan yang begitu berat itu tetap mereka lakukan. Setiap penyadap yang saya ajak mengobrol sering berucap, “mungin pekerjaan yang paling susah di dunia ini adalah menyadap lontar.”

Dalam hati saya selalu tersenyum mendengar curahan hati mereka. Karena setiap orang pasti merasa susah dengan pekerjaannya. Pekerjaan mana yang mudah? Tukang becak juga mungkin berkata lelah karena harus mengayuh becaknya setiap hari di siang yang terik. Juga petani, mungkin mengeluh, lelah setiap hari bermandikan lumpur dan terpanggang matahari. Bakan, saya pikir seorang vice president pun merasakan susah dan payah dalam mempimpin suatu perusahaan besar

Jadi, apa sebenarnya pekerjaan yang paling susah? Menyadap lontar? Benarkah?

Rata-rata pohon lontar mempunyai ketinggian yang tidak jauh beda dengan pohon kelapa yang buahnya hijau. Satu pohon bisa di panjat sebanyak tiga kali. Dalam waktu 24 jam penyadap bekerja dua kali. Mereka memulai pekerjaan di pagi hari hingga malam beranjak, dan menjelang tengah malam mereka memulai lagi pekerjaannya. Setiap orang jika dirata-ratakan mempunyai 50 batang pohon lontar. Jadi, berapa kalikah penyadap naik turun? Mari kita hitung!

50 pohon x 2 kali dalam sehari x 3 kali panjat untuk satu pohon. Hasilnya adalah 300 kali panjat. Jika dihitung naik turun, maka jumlahnya akan berlipat menjadi 600 kali naik turun dalam 24 jam.

Bagaimana? Pantaskah jika mereka berkata bahwa menyadap lontar adalah pekerjaan yang paling susah di dunia?

Belum selesai! Sekarang kita lihat resiko dari pekerjaan mereka.

Bekerja di ketinggian 15 meter tanpa alat pengaman bukanlah pekerjaan yang tak beresiko. Memang semua pekerjaan mempunyai resiko. Saya pun sudah mengatakannya kepada mereka. Nelayan di lautpun jika bernasib malang terkena badai bisa tenggelam dan mati. “Tapi kami berbeda. Jika terjatuh, kami harus menahan sakit terlebih dahulu, atau langsung mati,” begitu mereka bertutur.

Tidak sedikit memang pemanjat yang malang terjatuh dari lontarnya. Patah tulang adalah keniscayaan jika kesialan itu menimpa mereka. Atau, kematian, jika Tuhan sudah tidak tega lagi melihat penderitaan yang mereka alami. Namun, ada juga yang entah dikatakan untung atau malah menderita. Seorang bapak sudah terjatuh sampai sembilan kali. Setiap kali ia terjatuh pasti ada bagian tubuh yang patah, tetapi musim sadap tahun berikutnya dia kembali menyadap. Tak ada gentar dan rasa takut yang bisa menghentikannya. Namun setelah jatuh yang ke sembilan kali, jalanpun sudah tak bisa normal lagi, bagaimana memanjat?

Dan yang tak kalah tragisnya adalah peristiwa tahun kemarin. Tidak akan terlupakan bagi keluarga pak Rote (nama samaran). Tepat 17 Agustus 2010 saat orang-orang berlomba memanjat pinang, pak Rote tetap setia memanjat lontar. Siang itu istrinya membawakan makan siang untuk suami tercintanya. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sesampainya di kebun lontar sang istri malah mendapati suaminya sudah terkapar kering dibawah lontar. Pak Rote telah terbujur kaku. Mukanya hilir mudik dikerumuni semut-semut hitam. Tuhan tak kuasa lagi melihat menderitaannya.

Menyadap lontar satu-satunya pekerjaan utama masyarakat Rote khususnya Desa Mukekuku. Di musim inilah mereka bisa mendapatkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan selama satu tahun. Setelah musim ini berakhir mereka kembali ke ladang untung bertanam sayur seadanya yang hanya cukup untuk makan sendiri. Atau pergi ke Samudera Hindia untuk bisa menyajikan lauk ikan di meja makan. Apakah ada cara untuk mereka agar sedikit lebih mudah untuk menjalani hidup?

Andai saja mereka dilengkapi dengan alat keamanan memanjat seperti yang dimiliki para pemanjat tebing. Mungkinkah?
Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran