Benarkah Saya Membawa Kesialan di Mukekuku?
Khaerul Umur | 19 August 2011

“Bodohnya, kenapa saya masih mengharapkan akan mendapati daging kambing yang dimasak layaknya di Jawa?”

Hampir saya muntah setiap kali harus menelan gumpalan daging kambing setengah matang malam itu. Ini bukan yang pertama kalinya saya menghadiri syukuran kematian seseorang disini. Kebanyakan memang begitu. Dalam upacara-upacara kematian, daging hewan yang dihidangkan hanya direbus saja. Catat! Hanya direbus saja. Tidak dibumbui? Tidak! Tidak dikasih garam? Juga tidak! MSG? Apa lagi.

Daging akan dihidangkan secara terpisah dengan kuah hasil rebusan daging. Jadi tahapnya adalah; tamu akan diberikan piring dan sendok, kemudian dipersilahkan mengambil nasi. Disamping nasi sudah ada kuah hasil rebus daging yang sudah tidak berisi. Warnah kuah agak kecoklatan dan sedikit berminyak jika masih panas. Tapi jika sudah dingin, gumpalan-gumpalan lemak yang membeku akan menghiasi air itu. Lalu potongan daging diberikan secara terpisah. Daging dipotong kasar. Besar potongan daging kurang lebih seukuran kepalan tangan, bayangkan saja! Ditambah tekstur daging yang masih sangat keras karena kurang masak. Dan tidak perlu saya kasih tahu bagaimana aroma daging kambing yang hanya direbus setengah matang tanpa bumbu. Dan semua itu harus saya habiskan. Mereka akan senang sekali jika saya menikmatinya. Satu lagi, jika tamu membutuhkan sedikir rasa, mereka sudah menyajikan garam di atas piring tersendiri lengkap dengan cabe rawit yang bisa tamu ambil sesukanya. Umumnya masyarakat Mukekuku membuat garam sendiri. Dan cabe yang selalu mereka hidangkan, saya menyebutnya cabe setan! Karena rasa pedasnya membakar mulut!

Semenjak minggu awal kedatangan saya di desa ini, sering sekali saya menghadiri acara kematian. Bahkan saya merasa kedatangan saya membawa sial. Dua bulan saja, sudah ada 10 nyawa melayang. Penyebabnya bermacam-macam. Ada yang mati tenggelam, sakit, bahkan ada juga yang mengakhiri hidupnya sendiri, alias bunuh diri. Tragis!

Ditengah-tengah menulis catatan ini, bapak piara mengajak saya melayat. Ada yang meninggal lagi. Ini kematian yang kelima dalam dua minggu kebelakang ini. Disini, orang yang meninggal tidak secepatnya dikuburkan. Mereka harus mengumpulkan seluruh sanak saudara terlebih dahulu meskipun salah satunya berada di pulau Jawa. Jenazah akan diberi formalin agar bisa bertahan lama, atau mereka membuat ramuan dari arak dan cuka yang lagi-lagi adalah produk dari pohon lontar. Ramuan itu akan langsung diminumkan kepada jenazah sesaat setelah nafas terakhirnya terhembus. Tetapi ada juga yang mengenaskan. Walaupun sudah diberi ramuan, mayatnya tetap dikerumuni semut-semut kecil. Saya menyaksikannya sendiri.

Malam itu seperti biasaya saya melayat. Saat sang mayat akan dimasukkan ke dalam peti mati, saya dipanggil untuk membantu mengangkat jenazah bersama beberapa orang. Saya sendiri sangat terkejut, kenapa harus saya yang melakukannya? Saya tidak bisa menolak. Begitu saya masuk ke dalam rumah, semerbak bau amis dari daging yang sudah berhari-hari dibiarkan terbuka langsung menusuk hidung saya. Disaat itulah saya melihat kaki jenazah yang terluka dikerumuni semut-semut kecil yang bebas keluar masuk ke dalam kulitnya. Saya tidak bisa bertahan lama di dalam ruangan. Entah apakah saya bisa bertahan lebih lama lagi jika saya tidak segera keluar untuk menghirup udara segar.

Memang sang pencabut nyawa selalu lapar. Tak henti-hentinya dia mengincar setiap tubuh yang bernyawa. Tak hanya manusia, di sini, hewan pun menjadi incaran sang pencabut nyawa. Untuk satu pesta ulang tahun saja orang rote bisa memotong tiga ekor domba. Dan yang menggelikan adalah, saya telah menikmati profesi sebagai pencabut nyawa hewan itu. Dalam waktu kurang dari dua bulan saja, tujuh nyawa kambing dan sepuluh ayam telah saya cabut.

Celakanya, masyarakat Mukekuku mulai memperhitungkan keahlian baru saya yang satu ini. Setiap kali mereka ingin memotong kambing atau ayam, dan ingin mengundang saya, mereka mempersilahkan saya sendiri untuk menghabisi kambing-kambing itu. Lagi-lagi ini adalah tentang toleransi. Mereka mengerti bahwa daging yang bisa saya makan adalah daging hewan yang dipotong dengan menyebut nama Allah. Mereka pun dengan senang hati membiarkan saya memotong hewan mereka agar saya dapat ikut serta menikmati syukuran mereka. Alangkah indahnya negeri ini.

Yang awalnya saya sangat kasihan melihat calon korban saya, lama-kelamaan saya menikmati detik demi detik parang itu memutuskan urat-urat leher kambing.
Jadi, jangan coba-coba mencolek saya. Kalau tidak mau leher terpenggal!
Saya berharap ini adalah terakhir kali saya mengedit tulisan ini. Entah kenapa tulisan ini paling lama terselesaikan. Saya mulai menulis catatan ini semenjak korban yang meninggal 7 orang. Sampai saya harus mengedit berkali-kali untuk mengganti jumlah korban. Ingin rasanya cepat mem-publishnya dan jangan ada lagi korban yang berjatuhan. Amin

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran