Ada Duka di Ufa
Khaerul Umur | 27 June 2011

Jalanan rusak menanjak dan berkelok. Entah apa yang ada diujung gelap sana. Hanya cahaya lampu motor yang membimbing kami meliuk-liuk mencari jalan yang rata dan tak berbatu. Jaket merah menahanku dari terpaan angin lembah yang berhembus kencang. Obrolan kecil kami lakukan untuk mengusir sunyi sepanjang jalan, selain bunyi mesin motor dengan gigi satu yang menderu membelah sunyi.

<BR>Sampailah kami di suatu rumah yang sudah dipenuhi banyak orang. Satu-satunya rumah yang saya lihat terang. Namun ternyata suasana mencekam tidak hilang. Malah haru dan duka kian merangkaki badan saat ku lihat tiga peti mayat tergeletak berjajar di depan rumah itu. Kudekati peti dan terlihat jelas tiga anak hitam manis berbaring memejamkan mata tak berdaya. Di muka mereka terdapat bagian hitam dan sedikit luka jejak jarum suntikan formalin untuk mengawetkan tubuh mereka yang tak bernyawa sejak 2 hari yang lalu. Dan disekeliling mereka wajah-wajah lebam ku lihat. Seribu duka mereka rasakan karna kehilangan buah cinta yang mereka pelihara bertahun-tahun.

<BR>Namun suasa duka berganti 180 derajat saat kulihat dipojokan tak jauh dari tiga peti mati itu. Bapak-bapak berkumpul mengelilingi sesuatu yang beberapa saat kemudian ku sadari mereka sedang menikmati sopi, arak lokal yang mereka suling dari air nira pohon lontar. Mereka berbincang dan tertawa biasa layaknya bapak-bapak yang sedang ngobrol santai di warung kopi. Bahkan saat malam kian beranjak dan teguk demi teguk dihabiskan, mungkin tak disadari seorang bapak berbicara kian latang saja layaknya tak ada duka yang sedang menyelimuti sekitarnya.

<BR>Tiba-tiba ku dengar tangisan seorang ibu paruh baya yang sedari tadi duduk termenung di depan tiga peti jenazah. Makin lama tangisnya semakin kencang memekakkan telinga. Sambil meratap sang ibu menghampiri setiap jenazah yang tak mampu lagi berbuat apa-apa. Tangisannya sangat pilu terdengar. Walaupun aku tak mengerti ucapan apa yang ibu itu ucapkan, tapi aku seakan ikut merasakan hujaman-hujaman belati yang bertubi-tubi menikam jantungnya. Beberapa saat sang ibu terhenti, namun duka tak kuasa menahan tangisnya kembali. Padahal air mata sudah kering. Tak kulihat setetespun keluar dari matanya. Samar-samar ku dengar juga isakan pelan dari seorang nenek yang dari tadi duduk dibelakangku. Namun, dipojokkan sana tetap saja bapak-bapak itu bercengkrama dengan sopi.

<BR>Semakin malam, satu demi satu orang-orang berdatangan. Tiga nenek renta dengan selimut kain samping dan kain ikat datang pelan. Air wajah mereka berkata bahwa mereka juga sedih. Setelah melihat ketiga mayat, satu orang duduk disampingku. Dan yang lain langsung membaur dengan tamu-tamu yang dari tadi sudah berdiam diri di kursi masing-masing. Sesaat kemudian lantunan-lantunan puji-pujian atau entah apa itu mereka nyanyikan lirih. Beberapa kata saya dengar dalam bahasa Indonesia, dan banyak syair yang tidak dapat saya pahami. Mungkin bahasa Rote. Mereka terus melantunkan syair-syair itu menemani suasana duka mencekam.

<BR>Maut memang bagaikan raksasa yang sangat lapar. Dia selalu mencari jiwa-jiwa yang bernyawa. Tidak ada satu orang pun yang tahu apakah dia sedang diincar oleh sang raksasa, dalam hitungan detik sekalipun. Begitu yang saya dengar dari  Bapa Pendeta Milson Christian Nenotek saat memimpin kebaktian dalam pemakaman ketiga bocah malang ini.

<BR>Ketiga bersaudara itu tewas dalam keadaan bergandengan tangan. Siapa yang tahu ternyata sang raksasa menunggu mereka didalam sungai saat mereka bermain riang. Dalamnya sungai merenggut keceriaan mereka. Yang paling merasa sedih adalah adik terkecil yang menyaksikan sendiri ketiga saudaranya lemas tak berdaya terenggut arus sungai. Ku lihat anak kecil itu sudah tidak bersuara saat menangis melepaskan kepergian ketiga saudaranya.

<BR>Sebuah liang besar sudah disiapkan di depan rumah.  Masyarakat Rote menguburkan keluarganya di depan rumah. ereka pergi bersama dan akan disatukan dalam liang yang sama. Tiga saudara itu akan dikuburkan dalam satu liang. Liang lahat yang akan menjadi tempat jasad itu kembali. Dari tanah kembali ke tanah.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran