Aku Ingin Dipenjara
Khaerul Umur | 26 August 2011

Hanya orang gila yang berkata seperti judul di atas. Tapi percaya atau tidak, beberapa orang di Desa Mukekuku berlaku demikian. Entah hidup bebas di desa ini lebih susah daripada di penjara, atau mereka telah menemukan kenikmatan rahasia berada di balik jeruji besi.

 

Bulan kemarin saya berbincang dengan seorang bapak paruh baya, sebut saja pak Moda (nama samaran). Pak Moda baru saja kembali dari Australia. Wow! Apakah dia seorang ekspat? Bukan. Eksportir? Bukan juga. Kalau begitu dia adalah orang kaya di Mukekuku yang berlebihan uang banyak, sehingga bisa dengan mudahnya traveling ke luar negeri. Itu juga bukan jawabannya. Pak Moda baru saja keluar dari sel tahanan. Berarti dia adalah penjahat! Sama sekali bukan.

Broome, mungkin sedikit orang yang pernah mendengar nama itu. Tapi bagi masyarakat Mukekuku, nama kota yang bersebelahan dengan Darwin ini tidak asing lagi. Beberapa orang di sini sering keluar masuk penjara Broome. Mereka adalah nelayan-nelayan lokal yang kerap kali tertangkap tangan oleh polisi laut tengah mengambil kekayaan laut yang termasuk teritorial Australia. Pulau Pasir, sebuah pulau yang letaknya lebih dekat dengan Indonesia namun termasuk wilayah Aussy sering menjadi tujuan nelayan lokal menangkap ikan.

 

Awalnya pemerintah Australia mampu dikelabui para nelayan dengan alasan kapal layar kecil mereka terbawa arus laut hingga sampai ke teritorial Australi. Siapa yang tidak percaya dengan alasan itu. Sebuah prahu layar kayu tua yang ringkih terombang ambing di tengah ganasnya Samudera Hndia. Namun tentu saja setelah beberapa kali tertangkap basah alasan itu tidak bisa diterima lagi. Ditambah wajah-wajah dan identitas-identitas para nelayan yang langganan terdampar ini sudah tersimpan dalam database pemerintah Aussy. Jadi yang awalnya nelayan langsung di deportasi ke Indonesia, belakangan para nelayan harus meringkuku dahulu di dalam penjara Broom.

 

Tapi lucunya, para pelanggan terdampar ini bukannya merasa jera, malah ingin kembali dan kembali di tahan. Tahu kenapa? Karena kehidupan di penjara Broome jauh lebih menguntungkan daripada hidup di Desa. Mereka bisa hidup di tempat yang lebih bersih, makanan yang lebih yummy, plus mereka mendapat extra money $ 50 AUD per minggu tanpa harus membanting tulang. Ditambah beberapa kali mereka diajak jalan-jalan keliling kota. Dan ketika mereka dipulangkan mereka bisa naik pesawat terbang ke Bali, gratis! Bayangkan, disaat beberapa karyawan di Jakarta harus menghitung-hitung waktu, mencari promo tiket pesawat (sampai harus memesan jauh-jauh hari dan harus nongkrong di depan komputer semalaman untuk berebut tiket), dan mempersiapkan uang ekstra untuk bisa berlibur ke Bali, nelayan Mukekuku tidak perlu mengecek harga pesawat dan mencari long weekend untuk bisa ke Bali. WTF! Saat mendengar cerita ini, dalam hati saya tertawa geli. Pantas saja mereka berkata, “aku ingin di penjara.” Yang lebih menggelitik saat saya bertanya kepada pak Moda apa enaknya di Australia dia menjawab, “mandinya enak.” What?!

 

Memang segala sesuatu yang kita dapatkan harus selalu disyukuri. Saya jadi teringat, “Jika kamu mensyukuri nikmat, maka Saya akan menambahkan (nikmat itu), ...” Dan rupanya nelayan Mukekuku telah mengamalkannya sejak dahulu. Mereka bersyukur bisa pulang berlayar dengan membawa ikan untuk dinikmati anak dan istrinya. Tetapi jika mereka malang harus tertangkap polisi Australia dan dipenjara, mereka juga bersyukur. Dan hasilnya, nikmat mereka ditambahkan. Mereka kembali ke kampung halaman dengan menggunakan pesawat, “liburan” ke Bali, dan membawa uang untuk anak dan istrinya, plus mandinya enak.

Cerita Lainnya

Logo Indonesia Mengajar
KONTAK

(021) 7221570
info@indonesiamengajar.org

ALAMAT

Jl. Senayan Bawah No. 17,
Kel. Rawa Barat, Kec. Kebayoran
Baru, Jakarta Selatan 12180

© 2020 Gerakan Indonesia Mengajar
Ikut Iuran