Mar
19

Satu hal yang mungkin bisa membuatku bernafas sedikit lega sebelum 78 hari penarikan balik ke Jakarta adalah menemukan sebuah kenyataan bahwa mimpi anak-anak itu masih lah ada. Kisah Pirdi ini salah satunya. Anak pertama dari tiga bersaudara ini cukup lah nekat untuk mencoba melawan arus garis keturunan sebagai seorang pendulang emas mengikuti jejak ayahnya. Ia rela tinggal ratusan kilometer jauhnya menahan dinginnya rindu sebuah dekapan hangat orang tua dan membersamai adiknya serta membantu bibinya untuk bisa mengubah dunia; dunia kecil mereka khususnya.

Di awal pertemuan kami, ia sempat mengeluh dan putus harapan untuk bisa melanjutkan sekolahnya ke jenjang lebih tinggi. Alasannya klasik: disuruh membantu orang tua memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Sebagai seorang anak biasa yang tak berpemikiran panjang, ia mengaminkan bahwa berhenti sekolah kemudian bekerja mendulang merupakan pilihan hidup yang menjanjikan; setidaknya ia akan memiliki uang sendiri. Hari kian berganti, waktu terus berlalu hingga akhirnya kebimbangan mulai menyertainya. Saat pengumuman juara kelas di catur wulan pertamanya, ia berhasil menduduki peringkat pertama. Begitupun dengan hasil semester ganjil maupun catur wulan ketiganya; ia tetap bertahan di tengger paling atas di kelas.

Kurang dari satu bulan lalu ia berkata kepadaku: "saya mau lanjut ke SMP, kak. Walau mungkin tidak disetujui bapak." Beberapa hari berikutnya Olimpiade Sains Kuark berlangsung, tak disangkanya Pirdi berhasil lolos ke tahap berikutnya. Menjadi semifinalis urutan ke-5 se-kabupaten untuk Olimpiade Sains Kuark level 3 dan merupakan satu-satunya perwakilan dari sekolah kami, SDN Kamawakan. Banyak dukungan dan doa mengalir untuknya baik dari guru maupun teman-temannya. "Berjuang Pir. Harus lolos sampai Jakarta".

Berbeda denganku, aku memberikan dukungan dalam bentuk berbeda; lebih tepatnya sebuah tantangan dan 'sindiran' ala anak sarkasme. "Akan kakak kasih kamu buku untuk kamu baca kapan pun dan dimana pun ada waktu kosong. Kita tidak tahu apakah yang lolos di Jawa sana mungkin jauh lebih pintar dan rajin dari kamu. Kalau pun kamu lolos nanti ke Jakarta, bukan lah kakak yang akan mengantar." "Kakak akan pulang lebih dahulu sampai Jakarta. Jika kamu sedih kehilangan kakak, maka berjuanglah! Semoga kita bisa bertemu kembali di sana!" Benar saja tantangan itu pun diterimanya.

Sekarang Pirdi berubah menjadi anak yang lebih rajin membaca dimana pun dan kapan pun ia memiliki waktu senggang. Dan yang lebih membahagiakan bagiku adalah saat ia hidup dengan lebih banyak lagi mimpi. Satu lagi mimpi yang bisa ku lihat darinya adalah mimpinya untuk bisa berlomba di Jakarta dan pertemuan kita sekali lagi sebelum pertemuan-pertemuan berikutnya yang entah kapan, bahkan belum lah terrencanakan.

"Kami mohon doa!"

 

Kamawakan, Hulu Sungai Selatan, 17 Maret 2017

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!