Mar
20

Riuh suara anak-anak terdengar indah di telingaku. Tawa pelukan satu sama lain terekam jelas di otakku. Mereka melompat girang. Hari ini, usaha mereka tidak sia-sia. Sebuah piala akhirnya bisa mereka bawa pulang.

Pagi itu, anak-anak sudah berkumpul di halaman sekolah. Mereka menunggu pengumuman lomba Paduan Suara Tingka kecamatan yang mereka ikuti dua minggu lalu. Raut cemas berubah menjadi tawa lega saat mendengar pengumuman yang dibawakan salah seorang guruku bahwa SD kami berhasil meraih juara ke-III. “Ibu…. Kita menang !” seru Hesi, siswaku yang juga pemimpin tim paduan suara. Aku tersenyum menghampiri mereka sambil berkata. “Selamat nak, kalian luar biasa.”

***

Aku masih ingat beberapa bulan lalu. Tepatnya bulan Agustus, dimana aku baru satu bulan kedua berada di penempatan dan bertepatan pula dengan pergelaran lomba-lomba peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-71 Republik Indonesia. Lomba Paduan Suara dan Gerak Jalan adalah dua lomba yang diikuti sekolahku, SDN 19 Rambang. Tahun ini menjadi tahun pertama sekolahku mengikuti lomba paduan suara dan kedua kali mengikuti gerak jalan. Mengapa? SDN 19 Rambang baru berdiri sendiri tahun lalu, sebelumnya merupakan kelas jauh dari SDN 3 Rambang yang berada sekitar 20 kilometer dari Talang Tebat Rawas, lokasi SDN 19 Rambang sekarang. Setiap lomba otomatis selalu diikuti kelas induk sebagai pesertanya.

Kepala Sekolah ingin kami mendapatkan juara, meskipun juara harapan. Tapi, sebagai guru kesenian bukan itu yang ingin aku capai. Justru aku ingin membenarkan nada lagu-lagu nasional yang selama ini terdengar berbeda dengan aslinya, dan itu tidak mudah ternyata. Hal tersebut karena aku harus mengubah kebiasaan anak-anak. Kami selalu berlatih setiap hari, pagi sengaja kami luangkan waktu untuk latihan gerak jalan dan siang sebelum pulang sekolah kami latihan paduan suara. Hanya ada 53 siswa di sekolah ini, oleh karena itu tim paduan suara juga merupakan tim gerak jalan. Bisa bayangkan kerasnya mereka berlatih sebelum lomba?

“Apa mungkin kita menang, Bu” tanya murid-muridku usai latihan paduan suara. Kami akan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Bagimu Negeri saat lomba nanti. “Ehmm, coba nyanyi Indonesia Raya dulu,” mereka berbaris dan bersiap. Lagu Indonesia Raya terdengar asing di telingaku. “Kalau nadanya masih seperti itu sulit untuk menang. Eh, tapi suara kalian bagus. Kita harus lebih rajin latihan lagi kalau begitu.” Mereka terlihat sedikit kecewa. “Kalau kita berusaha pasti dikasih jalan,” imbuhku. Kalimat ini mungkin yang menjadikan mereka semangat dan serius berlatih. H-1 sebelum perlombaan masih ada nada yang tak sesuai. Tetapi mereka tetap berlatih, apalagi kami membuat “Puisi untuk Indonesia” sebagai hiasan lagu Bagimu Negeri. Hari perlombaan tiba. Anak-anak sudah siap dengan perlengkapan dan seragam merah putih lengkap dengan pita merah putih untuk putri. Melihat tim Paduan Suara dari sekolah lain benar-benar menurunkan mental mereka. Mereka menjadi lebih pendiam dan hanya memperhatikan lawan mereka.. “Bu, kayaknya kita enggak bakal menang,” kata Yomi, siswaku yang masih duduk di kelas V. Saat itu aku rasa, aku satu-satunya orang yang mereka bisa percayai.

Pertama kalinya aku melihat kepercayaan diri runtuh seketika. Mungkin aku pernah mengalami hal ini, tapi aku baru menjadi orang yang melihat kegundahan mereka sebelum pertandingan. Aku mengumpulkan mereka, dan meminta mereka berdoa sebelum bertanding. “Jangan lihat mereka, hanya lakukan yang terbaik. Ingat nada yang sudah kalian pelajari kemarin , ibu yakin kita bisa.” Entah mengapa saat itu aku berpikir, apapun hasilnya nanti mereka tetap luar biasa bagiku. Tapi ternyata Tuhan mendengar doa-doa kami, semesta masih berpihak kepada ketulusan mereka dan piala pertama pun saat ini sudah berdiri di lemari sekolah.

0 Komentar
Tinggalkan komentarmu

Belum punya akun? Daftar sekarang!