Firdaus Herman Herfan Tarmizi

Oleh: Intan Wahyuni (Angkatan I) | 31-07-2011
Minggu pagi, saya sudah sampai di rumah Bu Murni, Kepala Sekolah SDN 32 Selatbaru. Dua hari yang lalu, Bu Murni menyampaikan kepada saya bahwa beliau telah menghubungi kepala sekolah SD Firdaus di Dumai. Bu Murni juga bersedia menemani saya ke Dumai untuk mengurus dan mengambil surat pindah Firdaus. Pagi inilah kami akan berangkat ke Dumai. Sekitar pukul 07.00 travel datang menjemput kami dan petualangan pun dimulai. Mobil minibus hitam membawa saya dan Bu Murni menuju Pelabuhan Air Putih. Jarak dari Selatbaru menuju pelabuhan ini sekitar 20 km. Selanjutnya, kami menyebrangi Selat Bengkalis menuju Pulau Sumatera dengan menggunakan kapal feri. Sekitar pukul 10.00 kami sampai di Pelabuhan Sungai Pakning. Perjalan darat kembali kami lalui. Jalanan yang rusak, debu jalan yang berterbangan kemana-mana, dan  supir travel yang tak henti-hentinya merokok membuat saya mual dan tak sabar ingin cepat sampai Dumai. Sekitar pukul 13.00 kami sampai di rumah adik Bu Murni di Kelurahan Purnama, Kota Dumai. Lega rasanya terbebas dari asap rokok yang begitu menyiksa. Malam ini, saya dan Bu Murni menginap di rumah keluarga Bu Sejati, kakak Bu Murni di Kelurahan Ratu Sima, Kota Dumai. Bu Sejati adalah kepala sekolah di sebuah SD di Keluarahan Purnama. Dari sore sampai malam, saya banyak berdiskusi dengan Bu Sejati seputar dunia pendidikan terkini, khususnya di Bengkalis dan Dumai. Selain itu, Bu Sejati juga memberi informasi mengenai kondisi SD Firdaus dan kemungkinan-kemungkinan yang akan kami hadapi besok. Saya dan Bu Murni sudah siap menuju SD yang terletak di sekitar Jl. Sudirman. Kami diantar oleh seorang teman Bu Murni, Pak Nazar namanya. Saat saya bertemu dengan Pak Nazar pagi ini, saya melihat sebuah tanda pengenal yang bertuliskan Satreskim melekat di kemeja putihnya.  Ternyata, Pak Nazar ini adalah seorang polisi di Kota Dumai. Pantas saja Bu Murni dapat dengan mudahnya menemukan nomor telepon kepala sekolah SD ini. Pak Nazar lah yang memberikan nomor telepon tersebut. Penjahat yang bersembunyi saja bisa dia tangkap apalagi hanya mencari nomor telepon kepala sekolah di Kota Dumai, hal yang mudah bagi Pak Nazar. Sampailah kami di halaman SD yang terletak di pusat Kota Dumai. Pak Nazar melepaskan dasi dan tanda pengenalnya. Beliau ingin terlihat sebagai orang biasa yang bertugas hanya mengantar. Namun, jika keadaan mulai genting, dia akan mengeluarkan pistolnya. Itulah candaan Pak Nazar saat kami menuju ruang guru sekolah ini. Saya, Bu Murni, dan Pak Nazar disambut oleh kepala sekolah yang merupakan PLT (Pejabat Pelaksana Tugas). Kepala sekolah  ini baru delapan bulan memimpin sekolah ini. Sedangkan Firdaus meninggalkan SD ini sekitar satu tahun yang lalu. Beliau tidak tahu apa-apa tentang Firdaus. Beliau juga mengatakan bahwa tidak ada guru yang mengenal Firdaus. Saya terkejut mendengar hal ini. Saya ceritakan di depan kepala sekolah dan guru-guru di rungan itu mengenai Firdaus. Mulai dari kisah perjalan Firdaus dari Dumai menuju Selatbaru sampai dengan kondisi keluarganya. Saya tunjukkan foto Firdaus yang tersimpan di kamera. Tidak ada satu pun guru yang mengenal Firdaus. Dua orang guru masuk ke dalam kelas 5 dan kelas 6 untuk menanyakan kepada muridnya mengenai Firdaus. Murid kelas 5 dan kelas 6 pun tidak ada yang mengenal Firdaus. Suasana mulai memanas, guru-guru mulai tidak ramah dengan kehadiran saya, Bu Murni, dan Pak Nazar. Bu Murni meminta izin kepada kepala sekolah untuk ikut mencari data Firdaus di Buku Induk Register Peserta Didik SD. Mungkin sekitar tahun 2005 atau 2006 Firdaus terdaftar di sekolah ini. Beberapa orang guru membantu kami mencari data Firdaus. Sebagian lagi terlihat cuek dan menyarankan kami untuk mencari ke SD lain. Sudah lebih dari satu jam saya berada di ruangan ini. Saya coba menghubungi beberapa guru di SDN 32 Selatbaru, tapi tidak ada yang mengangkat handphone-nya. Saya ingin sekali bicara dengan Firdaus. Tiba-tiba, datang seorang guru memasuki ruangan ini dan menanyakan apa yang sedang terjadi. Seorang guru lain menjelaskan kepadanya. Tanpa saya tunjukkan foto Firdaus, guru yang baru datang ini bisa menyebutkan ciri fisik Firdaus. Alhamdulillah, akhirnya ada seorang guru yang mengenal Firdaus. Guru ini langsung menuju sebuah lemari dan mencari sesuatu di dalamnya. Dia menemukan sebuah kertas yang di dalamnya tertulis data diri Firdaus, termasuk NISN (Nomor Induk Siswa Nasional). Ada juga sebuah buku besar yang di dalamnya tertulis bahwa Firdaus telah membeli sebuah seragam baju kurung pada tahun 2009. Buku rapor Firdaus tidak ditemukan dan tidak ada satupun guru yang mengetahui sampai kelas berapa Firdaus belajar di sekolah itu. Bu Murni meminta kepada kepala sekolah untuk membuatkan surat pindah Firdaus. Di dalamnya ditulis bahwa Firdaus belajar di sekolah ini sampai kelas tiga dan dituliskan juga bahwa rapornya hilang. Namun, kepala sekolah tidak mau melakukan hal ini karena melanggar aturan. Saya terus memohon kepada kepala sekolah. Saya jelaskan bahwa walau melanggar aturan tapi hal ini tidak merugikan orang lain justru akan menolong seorang anak untuk tetap sekolah. Hidup berakal mati beriman, kalimat yang saya dapatkan dari seorang ibu di Pekanbaru, saya jelaskan pula kepadanya. Kepala sekolah menyarankan kami untuk berkonsultasi dengan Dinas Pendidikan Kota Dumai. Baiklah, saya, Bu Murni, dan Pak Nazar meninggalkan sekolah ini. Di kantor Dinas Pendidikan Kota Dumai kami menemui Pak Musdiono, Kabid Pendidikan Dasar dan Menengah. Saya perkenalkan diri saya dan Gerakan Indonesia Mengajar. Saya ceritakan pula mengenai kisah Firdaus. Pak Musdiono mengenal dan mengagumi sosok Anis Baswedan, pendiri yayasan ini. Beliau juga sangat mendukung program Indonesia Mengajar. Alhamdulillah, Pak Musdiono bersedia membantu Firdaus. Beliau mengambil handphone-nya dan menelepon kepala sekolah itu. “Tolong buatkan surat pindah untuk Firdaus sekarang juga, dalam waktu satu jam kepala sekolah dan guru dari Bengkalis akan mengambil surat ini ke sekolah Anda. Tulis saja rapornya hilang dan dia sekolah sampai kelas 3.”, dengan tegasnya Pak Musdiono memberikan perintah. Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berterimakasih atas bantuan Pak Musdiono. Terharu rasanya dan terbayang wajah Firdaus di pikiran saya. Pak Musdiono bercerita bahwa dia sangat peduli dengan pendidikan untuk anak-anak. Beliau memiliki tujuh belas anak asuh. Dibantunya anak-anak ini untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Banyak anak jalanan di kota Dumai tidak bisa sekolah. Beliau ingin sekali membantu semua anak untuk bisa sekolah. Sungguh, saya kagum dengan Pak Musdiono. Saya, Bu Murni, dan Pak Nazar kembali ke SD yang terletak di Jl. Sudirman. Kami temui kepala sekolah dan mengambil surat pindah Firdaus. Lalu, kembali lagi ke kantor Dinas Pendidikan Dumai untuk membuat surat lain pelengkap surat pindah Firdaus. Alhamdulillah, saya selalu mengucapkan kalimat ini. Akhirnya Firdaus bisa sekolah lagi. Surat-surat pindah Firdaus sudah ada di tangan saya. Saatnya saya dan Bu Murni kembali ke Bengkalis. Saya sangat berterimakasih kepada Pak Nazar yang telah mengantar kami seharian ini.  Saat meninggalkan kantor Dinas Pendidikan Dumai Pak Nazar mengajukan sebauh pertanyaan kepada saya dan Bu Murni. “Saya ingin menanyakan sebuah pertanyaan kepada kalian, mengapa Intan dan Bu Murni mau jauh-jauh dan cape-cape ke Dumai untuk seorang Firdaus?”, tanya Pak Nazar. “Oh iya yaa.. .”, di dalam hati saya berkata. Saya pun terdiam dan berfikir, tak tahu harus menjawab apa. “Saya hanya ingin melihat Firdaus tetap sekolah. Lalu, mengapa Bapak mau membuang waktu Bapak seharian ini untuk mengantar kami?”, saya kembali bertanya kepada Pak Nazar. “Dengarkan kalimat saya ini baik-baik. Jika kita diberi umur panjang oleh Allah, suatu hari nanti kita akan melihat Firdaus sebagai orang sukses yang memiliki pengaruh dimana-mana. Saya yakin itu.”, jelas Pak Nazar. Saya terdiam cukup lama, membayangkan Firdaus dewasa yang sukses. “ Amin Ya Allah, semoga suatu hari nanti, saat usia saya bertambah tua, saya bisa bertemu Firdaus dalam kondisi luar biasa baik.”, saya berdoa di dalam hati. Sekitar pukul 14.30 travel menjemput kami di rumah Bu Sejati. Saya sangat berterimakasih atas bantuan Bu Sejati dan keluarga, serta Pak Nazar. Senang dan sangat bersyukur bisa bertemu dan kenal dengan mereka. Perjalanan pulang kali ini begitu tak terasa, tanpa letih dan mual. Mungkin karena perasaan ini sedang bahagia. Hari mulai senja, Saya dan Bu Murni memasuki kapal feri menuju Pulau Bengkalis. Saya duduk di luar, bersandar di pagar, melihat air laut yang bergelombang karena laju kapal. Matahari mulai tenggalam, sunset yang sangat indah. Baru pertama kali saya merasa sebahagia ini. Terimakasih Ya Allah untuk setiap kekuatan dan petunjuk yang Kau berikan kepada hamba. 18 Juli 2011, hari yang tak terlupakan.