Bentangan Tikar untuk Bertukar Cerita.
Hermalinda 15 Oktober 2026Di bawah rindangnya pohon, selembar tikar terbentang. Di atasnya, para guru duduk bersama, bertukar cerita dan saling menguatkan. Sulit membayangkan bahwa tempat sederhana ini menjadi salah satu ruang guru di SDN 2 Langkahan setelah banjir bandang menerjang Desa Geudumbak, Aceh Utara.
Mereka menyebutnya lapak guru.
Tidak ada dinding yang membatasi, tidak pula atap yang menaungi seperti ruang guru pada umumnya. Hanya sebentang tikar di bawah pohon. Namun, dari tempat sederhana itulah, kehangatan tumbuh di tengah keterbatasan.
Hampir satu tahun berlalu, kegiatan belajar mengajar di SDN 2 Langkahan belum sepenuhnya berjalan normal. Selama proses revitalisasi bangunan sekolah, pembelajaran sempat berlangsung di tenda pengungsian. Hingga kini, para siswa masih menumpang belajar di gedung SMP yang berada tidak jauh dari sekolah mereka. Kegiatan belajar dimulai setelah siswa SMP pulang, yakni pukul 14.00 hingga 17.00 WIB.
Kursi dan meja belum tersedia sebagaimana mestinya. Buku pelajaran, dan berbagai sarana penunjang pembelajaran pun masih terbatas. Meski demikian, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat anak-anak untuk terus belajar. Orang tua tetap antusias mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah, sementara para guru terus berupaya menghadirkan ruang belajar agar proses pendidikan tetap berjalan.
Di tengah perhatian terhadap pemulihan pembelajaran siswa, ada satu pertanyaan yang tak kalah penting: bagaimana kabar para guru? Di mana mereka beristirahat, berbagi cerita, dan menguatkan diri untuk kembali mengajar?
Sama halnya dengan ruang belajar bagi siswa, ruang guru bukan sekadar bangunan berdinding dan beratap. Di dalamnya, para guru bertukar pikiran, belajar satu sama lain, menyusun rencana, serta menemukan dukungan untuk menghadapi berbagai tantangan. Ruang guru menjadi bagian dari kehidupan mereka sebagai pendidik. Namun, setelah bencana, ruang itu pun berubah wajah.
Ketiadaan ruang khusus membuat para guru harus mencari tempat masing-masing ketika jam istirahat tiba. Kantin, area parkir, hingga ruang kelas menjadi pilihan untuk sejenak duduk dan melepas penat. Sampai akhirnya, sebuah inisiatif sederhana menghadirkan titik temu bagi mereka: selembar tikar yang dibentangkan di bawah pohon.
Lapak guru, menjadi ruang alternatif di tengah keterbatasan. Di sana, para guru tidak hanya berbagi tempat duduk, tetapi juga cerita, tawa, dan dukungan. Rindangnya pohon menjadi peneduh, sementara kebersamaan membuat tempat itu terasa hangat.
“...sekolah kita punya banyak ruang guru, bisa pindah-pindah tempat sesuka hati, tinggal kita angkat aja tikar kita ini. Kalau gak ada tikar, ya tinggal duduk aja di mana kita mau...” (Pak ZamZami).
Guyonan itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan cerita tentang cara para guru menyikapi keadaan. Ada humor di tengah keadaan yang belum pulih, dan ada kerinduan yang mungkin tidak selalu terucap untuk kembali memiliki ruang guru yang layak.
Tentu saja, para guru tetap merindukan ruang berdinding dan beratap, tempat mereka bisa beristirahat dan menjalankan berbagai aktivitas dengan lebih nyaman. Lapak guru bukan pengganti sempurna bagi ruang yang mereka butuhkan. Namun, di tengah kondisi yang ada, bentangan tikar itu menghadirkan sesuatu yang tidak kalah penting: kesempatan untuk tetap berkumpul.
Dari sana, kebersamaan terus dirawat. Para guru mungkin kehilangan bangunan fisik sekolah, tetapi mereka tidak kehilangan keinginan untuk saling berbagi dan menguatkan. Sambil menunggu ruang guru kembali berdiri, mereka terus menemukan cara untuk hadir bagi satu sama lain dan bagi anak-anak yang menanti pembelajaran. Sebab, pendidikan tidak hanya bertahan melalui bangunan yang kembali tegak, tetapi juga melalui orang-orang yang tetap memilih untuk berjalan bersama.
Dari bawah rindangnya pohon, di atas bentangan tikar, semangat itu terus dijaga.
Pulih bersama!
Cerita Lainnya
Ikut Terlibat
Ikut Iuran Publik
Bermitra dengan Kami
Jadi Pengajar Muda
Pintasan
Korps Pengajar Muda
Cerita Pengajar Muda